Sunday, October 14, 2012

Festival Pelangi Budaya Salatiga 2012: Salatiga yang Berwarna

Indonesia Mini *eh*
(Si adek mini yang membawa Bendera Indonesia)


Indonesia Mini. Entahlah sudah berapa kali saya menyebutkan istilah tersebut untuk menggambarkan kondisi demografis kota tempat saya tinggal, Salatiga baik di dalam tulisan di blog ini maupun ketika ditanyai oleh orang lain terkait kampung halaman. Puluhan kali mungkin saya telah menyebutnya atau mungkin ratusan atau mungkin juga tak terhingga saking seringnya. Bahkan tugas kuliah dan skripsi saya yang berkaitan dengan Kota Salatiga pun selalu saya lengkapi dengan istilah pamungkas tersebut di latar belakangnya atau di bagian gambaran umum Kota Salatiga. Hahah saya juga tidak tahu kenapa istilah tersebut selalu muncul di otak ketika pertanyaan-pertanyaan generis semacam "ada apa sih di Salatiga?" atau  "apa menariknya Salatiga?" terpampang di depan saya. Oke, mungkin saya sedikit terdengar exaggerated tapi mau bagaimana lagi? 

Berdasarkan data dari Kelompok Data Pengembangan Sistem Informasi Kota Salatiga pada tahun 2010 saja tercatat terdapat 20 suku bangsa atau etnis yang mendiami  kota ini. Yah, meskipun saya tahu bahwa ada ratusan bahkan mungkin ribuan etnis di seluruh Indonesia tapi 20 etnis di suatu kota yang memiliki luas 17,87 Km2 dan berpenduduk tidak lebih dari 175 ribu-an tentunya itu sudah menjadi catatan menarik tersendiri. Belum lagi, nyaris semua etnis ada disini. Silahkan cari, mulai dari Etnis Aceh hingga Etnis Papua, dari Etnis Dayak hingga Madura, dari Etnis Minangkabau ke Etnis Minahasa, semuanya ada. Well, meskipun Etnis Jawa tetap menjadi yang mayoritas (jangan ditanya kenapa) barulah kemudian disusul Etnis China, Etnis Minahasa, Etnis Minangkabau, Etnis Batak, dan etnis-etnis lainnya. Eits, saya tidak bermaksud SARA. Saya hanya ingin menjabarkan alasan Salatiga dengan beraneka warna latar belakang budaya dan suku bangsa para penduduknya yang kemudian membuat Salatiga disebut sebagai Indonesia Mini (Psst, belum termasuk warga negara asing yang tinggal disini lho). Itu saja. Tidak ada tujuan lain.

Mungkin cara paling gampang untuk melihat keanekaragaman dan keanekawarnaan penduduk Kota Salatiga adalah manakala di kota ini tengah diadakan pawai budaya atau karnaval (hei, saya pernah menulis tantang karnaval di Salatiga dalam postingan saya sebelumnya disini). Biasanya dalam berbagai acara karnaval maupun pawai tersebut, perwakilan dari etnis-etnis yang ada akan ikut berpartisipasi memeriahkan acara. Salah satu acara karnaval yang baru saja berlangsung dan diadakan secara besar-besaran adalah Festival atau Konser Wisata Pelangi Budaya Salatiga 2012. Festival ini diadakan oleh Pemerintah Kota Salatiga pada tanggal 13 Oktober 2012 alias masih satu hari yang lalu heheh (tumben saya nulisnya up to date :p). Sayapun mengajak kakak, adik, dan para tetangga saya (Dody, Adit, Naning dan Obit) menyaksikan festival tersebut. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perpawaian di Kota Salatiga, Festival Pelangi Budaya Salatiga 2012 diadakan di malam hari yakni dimulai pada pukul 17.30-22.00 WIB. Mantap kali bah! 



Setidaknya ada 30 grup kesenian yang ikut berpartisipasi dalam Festival Pelangi Budaya Salatiga 2012 kemarin. Bahkan keluarga artis nasional yang merupakan putra daerah dari Kota Salatiga yakni Roy Marten dan Rudy Salam ikut berpartisipasi pula dalam acara ini. Roy Marten juga menganjak sang putra si Gading Marten dan pacarnya Gisella Anastasia yang keduanya menjadi pembuka festival dengan diarak keliling kota menggunakan mobil jeep. Sayangnya, waktu si Gading Marten dan Gisel lewat di depan saya, kamera digital yang saya bawa kehabisan baterai hingga akhirnya mereka berdua terabadikan secara blur di kamera saya. Huahahahah. Setelah mereka berdua lewat, arak-arakan pawai barulah resmi dimulai. Kloter pertama adalah grup kesenian Reog dan Jaran Kepang dari Salatiga yang menampilkan segerombolan penari jaran kepang yang menari dengan hebohnya. Entah karena mereka main di malam hari, tapi kok saya ngerasa kalau penampilan mereka lebih agresif dan atraktif dibandingkan kalau mereka main di pagi atau siang hari ya. Salah satu penari jaran kepang juga sempat menabrak saya kemarin, untung saja saya tidak ikut "ketempelan" karena beberapa pemain waktu itu sempat pada ndadi (kesurupan-red). Fyuuh! Kloter pertama usai, dilanjutkan oleh rombongan kedua yakni kesenian drumblek dari Tingkir kalau tidak salah. Kesenian drumblek merupakan kesenian sejenis dengan drumband tapi menggunakan peralatan yang berasal dari barang-barang bekas seperti kaleng bekas roti, tempat sampah, dsb. Penampilan mereka diikuti oleh para penari yang menari beraksesoriskan lampu LED warna-warni di baju mereka. Cantik!

Salah satu pemain reog yang memakai topeng gajah

Dua mayoret drumblek tengah beraksi

Menyusul rombongan kesenian drumblek dari Tingkir adalah para pemain barongsay dan liong yang saya tidak tahu berasal dari grup kesenian mana (maafkan saya T.T). Mereka pun menunjukkan kepiawaian dalam menggerakkan liong sehingga terlihat bagaikan naga hidup yang tengah menari di kegelapan malam. Grup inipun sukses merubah suasana dan atmosfer pawai menjadi berbeda. Setelah itu, pasukan lain kesenian drumblek pun datang menghibur kembali. Barulah seusai para pemain drumblek deretan para penari adat dari Minangkabau, Dayak, dan Papua secara berurutan menghibur para penonton dengan menampilkan tarian-tarian adat mereka. Saya paling takjub sama tarian dari Dayak, entah saya tidak tahu apa nama tariannya namun yang jelas para penari baik pria maupun wanita menari dengan gerakan yang lembut dan tenang. Gerakannya cukup sederhana sebenarnya tapi entah kenapa sukses membuat saya merasakan aura magis dan tradisional yang kuat saat melihat mereka menari. Tak hanya saya, puluhan penonton lain pun seolah-olah ikut terhipnotis oleh tarian mereka dan langsung otomatis berdiri mengelilingi para penari dan begitu para penari selesai menarikan tarian mereka yang diiringi musik dari alat tradisonal Suku Dayak itu para penonton pun bertepuk tangan. Ahh keren banget! Mau dong lihat lagi! Encore...encore...encore...*dikata lihat pertunjukan musik* *plak*

sang liong terbang (dok: SWC 2012)
Para pemuda-pemudi Dayak menari
Para pemuda-pemudi Papua tengah menari. Heah!

Selain para peserta dari grup kesenian, terdapat pula beberapa peserta lain dari berbagai komunitas yang ada di Kota Salatiga seperti Komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK), Komunitas Dansa Salatiga, dan komunitas-komunitas lain yang turut memeriahkan Festival Pelangi Budaya Salatiga 2012. Pawai pun ditutup dengan tampilnya para ikon dari Pungkursari Carnival, Salatiga Carnival Centre, dan Plumpungan Batik Carnival. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penonton semua! Ratusan ikon pun berdandan heboh dengan kostum-kostum yang membuat para penonton berdecak kagum sekaligus terkadang membayangkan berapa biaya yang digunakan untuk membuat satu kostum dan membayangkan betapa beratnya kostum yang digunakan manakala melihat ikon yang berkostum besar dan megah. Pada saat inilah saya senang bukan kepalang. Apa pasal? Akhirnya, setelah bertahun-tahun melihat para ikon di pawai-pawai budaya di Kota Salatiga baru pada Festival Pelangi Budaya Salatiga 2012 lah saya kesampaian foto dengan mas dan mbak ikon tersebut. Tidak hanya sama satu orang ikon saja, tapi sama beberapa ikon sekaligus. Yeah!! Semua berawal ketika saya melihat salah seorang Mas Ikon dari Pungkursari Carnival yang membawa panji besar. Wih pakaiannya keren bener, pikir saya waktu itu. Entah keberanian darimana saya pun nekat maju dan minta tolong masnya untuk berhenti karena mau saya foto. Masnya pun berhenti dan tersenyum ramah. Tidak dinyana, si Adit dan Naning pun mengompor-ngompori untuk mengajak foto bersama dengan masnya dan si mas mengiyakan. Asyik! Kamipun bergantian foto bersama si mas ikon yang baik hati dan ramah itu. Thanks mas heheh! Kamipun berasa menemukan mainan baru, setiap ada ikon yang kostumnya oke kami ajak untuk foto bersama dengan modal bilang, "permisi mas, mbak bisa foto bareng sebentar?" dan gayungpun bersambut. Subhanallah, mereka ramahnya minta ampun. Huahahahah puas puas! Thanks Ikoners, you all made my day...eh my night ding! :)

The First Try. Masnya super ramah. 

Gantian sama Mbak Ikon
Mbak Vica, Saya, Wawa, Naning dan Dody
di tengah para peserta *minggir minggir woy*
Saya, Mas Ikon dan si Adit

Menjadi suatu kota kecil dengan penduduk yang multietnis nampaknya menjadi salah satu hal yang cukup diperhatikan oleh Pemerintah Kota Salatiga. Bagaimanapun juga semakin beragam warna penduduk di suatu daerah, semakin rawan pula terjadinya konflik yang dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan daerah tersebut. Namun saya percaya, masyarakat yang berbeda-beda ini justru bisa menjadi sesuatu hal yang indah dan membanggakan suatu daerah manakala semua etnis yang ada mampu bersatu padu untuk membangun daerah melalui berbagai kegiatan yang ada. Salah satunya adalah melalui festival budaya seperti Festival Pelangi Budaya Salatiga 2012 kemarin itu. Yah meskipun terdapat berbagai kekurangan seperti acara yang terlalu mepet dengan Sholat Maghrib, kurangnya promosi, dan masih banyak etnis lain yang belum terlibat tapi saya hendak mengucapkan rasa terima kasih saya kepada Pemerintah Kota Salatiga beserta seluruh peserta, panitia, dan sponsor yang telah mengadakan acara ini. Setidaknya festival ini telah sukses membuat saya dan para penonton lain tersadar bahwa inilah Salatiga, kampung halaman kami yang begitu berwarna. Keragaman etnis yang ada justru membuat Kota Salatiga terlihat lebih indah apa adanya. Inilah si Indonesia Mini itu. Tak ubahnya bagaikan pelangi di angkasa, terdiri dari puluhan warna yang terkadang saling berbenturan satu dengan yang lainnya namun siapa sangka bisa menjadi busur menakjubkan di langit sana. Tetaplah seperti itu Salatiga. Tetaplah berwarna! :)



Salam Kupu-Kupu

P.S. Maaf kalau semua gambarnya terlihat buruk, cuma modal kamera handphone dan di malam hari pula. Bad combination!

3 comments:

  1. kerennnnn, kemarin saya juga ikut nonton tu karnaval,,,
    Heboh abis pokog,e
    padahal saya dari banyubiru ke salatiga sore2 buat nyari sepatu, eh setelah parkir di pusat kota ,malah liat orang2 pada berkumpul di pinggir jalan..kirain ada apa
    Ternyata ada festival karnaval center salatiga!
    okelah mending nonton karnaval disik nganti bar,, sepatu nko kerilah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh terima kasih sudah ikut menonton mas. Salut banget si mas sampai ngelupain niat beli sepatu padahal udah jauh2 dari Banyubiru. Hebat! :D

      Delete
  2. kita juga punya nih artikel mengenai kebudayaan, berikut linknya semoga bermanfaat ya :D
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/2593/1/Arst-9.pdf

    ReplyDelete