Tuesday, March 8, 2016

Berkelana Di Kawasan Keraton Yogyakarta



Jalanan masih terlihat basah pasca hujan deras yang mengguyur Kota Yogyakarta siang itu. Riak-riak awan mendung juga tampak masih menghiasi langit, menandakan kalau hujan susulan bisa datang kapan saja - tanpa diminta. Namun bagi kami, cuaca suram bukanlah halangan untuk berkelana.  Saya yang memboncengkan Putra, dan Ancha yang mengendarai motor sendiri, akhirnya tetap berjalan perlahan menyusuri jalan menuju salah satu obyek wisata populer di Kota Gudeg: Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Hujan pulalah yang membuat jalanan menjadi lebih ramai dan semrawut dibandingkan hari biasa, membuat perjalanan menuju keraton dari Kampus UGM memakan waktu sekitar 45 menit. Kami baru tiba di area parkir kawasan keraton sekitar jam setengah dua siang. Syukurlah, kami datang ketika akhir pekan sehingga jam operasinya jauh lebih panjang dibandingkan hari biasa.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Dan Pelajaran Soal Dedikasi Dari Para Abdi Dalem

Tak mau kehabisan waktu, kami segera bergegas menuju ke loket tiket yang berdiri tepat di ujung belakang pintu masuk keraton. Tiket masuknya bisa dikatakan murah, hanya sebesar Rp 5.000,00 per orang dan Rp 2.000,00 sebagai biaya ijin memotret.

Sehabis membeli tiket, beberapa orang berpakaian batik langsung mengerubuti kami dan menawarkan jasa pemanduan. Saya pun bertanya iseng, berapa kiranya besar biaya untuk sekali pemanduan. Salah seorang dari mereka menjawab, "Rp 50.000,00". Waks, angka segitu untuk kami bertiga terasa berat sekali. Kami akhirnya terpaksa menolak tawaran mereka dan bersiap menjelajah keraton secara mandiri.

Sebuah pendapa besar seketika menyapa kami saat baru beberapa langkah berjalan memasuki keraton. Saya langsung terbuai dengan kemegahan arsitektur Jawa yang kental terasa dari bangunan tersebut.

Atap Bangsal Pagelaran

Saat tengah asyik mengambil gambar, seorang pria paruh baya datang menghampiri dan menyapa kami. Intinya sama, menawarkan jasa pemanduan berkeliling keraton. Awalnya, kami hampir menolaknya lagi tapi kemudian saya melihat ada perbedaan antara pria ini dengan gerombolan pemandu di area depan pintu tadi. Ada nametag dengan logo Kasultanan Yogyakarta tertempel di saku depan kemeja batik yang ia kenakan. Kembali saya iseng bertanya berapa biaya jasa pemanduan itu.

Pak Sangadi - pemandu kami siang itu.


"Wah, kalau saya abdi dalem, mas. Kami semua disini setiap kali memandu dilarang mematok tarif kepada pengunjung. Kami ikhlas diberi berapa saja. Mau banyak, mau sedikit, asal mas sekalian ikhlas akan saya terima dengan senang", katanya diplomatis.

Setelah berdebat singkat dan saling bertukar pandang, kami bertiga akhirnya mengiyakan tawaran dari pria yang belakangan memperkenalkan diri bernama Sangadi itu. Tak menunggu lama, ia langsung menjelaskan berbagai hal seputar keraton dimulai dari tempat kami berpijak: pendapa besar yang ternyata bernama Bangsal Pagelaran.

Bangsal Pagelaran ini hanyalah semacam halaman muka bagi keraton. Bangsal Pagelaran pernah mengalami pemugaran besar-besaran di jaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1934. Sebagai pengingat bagi jasa sang sultan, lantai keramik di bangsal tersebut seluruhnya memiliki motif berbentuk bintang sisi delapan.

Motif lantai bintang sisi delapan


Di samping kiri bangsal, terdapat semacam ruang kaca yang berisikan diorama seputar pakaian keluarga keraton. Setiap pakaian ternyata memiliki maksud masing-masing dan tidak bisa sembarangan dipakai. Ada pula sepuluh patung pria wakil dari masing-masing divisi daerah yang tunduk kepada keraton hingga kini, mereka memakai pakaian dan panji yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Patung wanita dan pria keraton yang sudah menikah


Tepat di belakang bangsal, terdapat dua dinding yang masing-masing terhias oleh pahatan relief perjuangan Sultan Hamengku Buwono I di sisi kiri dan Sultan Hamengku Buwono IX di sisi kanan. Di baliknya lagi, terdapat dua bangunan pendapa kecil dengan patung pria bertampang sangar berjaga di masing-masing bangunan. Kedua bangunan pendapa kecil itu bernama Bangsal Pacikeran - tempat para "algojo" keraton duduk manis sembari menunggu perintah menangkap, melawan atau mengeksekusi penjahat.

Sepenggal relief perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono I

Ancha dan Putra di Bangsal Pacikeran.

Sehabis melewati Bangsal Pacikeran, puluhan anak tangga berlantai marmer warna cokelat menanti dan akan membawa kami menuju ke Area Sithinggil. Bila menengok ke belakang, kami bisa melihat Alun-Alun Utara, Jalan Malioboro, hingga Tugu Yogyakarta terletak pada satu garis lurus. Katanya, garis lurus ini akan berakhir di puncak Gunung Merapi - salah satu titik keramat bagi Kesultanan Yogyakarta.

Garis magis lurus menuju Gunung Merapi bila
dilihat dari arah Sithinggil

Sebuah bangunan pendapa besar kembali menyapa dan tampak menjadi pusat dari Area Sithinggil. Bangunan ini digunakan sebagai tempat penobatan raja serta perjamuan bagi tamu-tamu penting. Di sekelilingnya, terdapat bangunan-bangunan kecil yang berfungsi sebagai tempat menyimpan gamelan, museum sejarah kehidupan keraton, museum raja, dan tempat menyimpan sedikit pusaka.

Atap Bangsal Sithinggil

Kedua teman saya serius mendengarkan penjelasan di area
museum keraton.


Area Sithinggil ini pulalah yang menjadi batas penjelajahan bagi pengunjung. Kami tak bisa menjelajah lebih jauh karena selepas area itu merupakan kawasan ekslusif keraton yang dijaga oleh ratusan abdi dalem setiap harinya. Tak sembarang orang bisa masuk, bahkan sekelas menteri pun kalau tak memperoleh ijin dari Sultan tak bakal bisa masuk ke dalam.

Kami tidak salah memakai jasa pemandu karena akhirnya jadi lebih banyak tahu mengenai seluk beluk keraton. Pak Sangadi dengan telaten menjelaskan apapun yang kami lihat dan menjawab segala pertanyaan spontan yang keluar dari bibir kami. Salah satu pertanyaan yang saya lontarkan kepadanya adalah berapa lama ia sudah bertugas dan alasannya memilih menjadi abdi dalem.

"Saya sudah lama disini, sekitar 25 tahunan. Alasannya sederhana, bukankah suatu kehormatan bagi orang biasa seperti saya, eh, bisa mengabdi kepada kalangan keraton?" tuturnya mantap.

Kami bertiga terpana. Kami tahu pasti berat menjadi seorang abdi dalem mengingat segala tugas dan ketidakseberapaan materi yang dihasilkan. Dedikasi dan keikhlasan. Dua pelajaran penting yang saya dapat dari para abdi dalem disini, termasuk dari Pak Sangadi.

Omong-omong, polemik sabda Sri Sultan Hamengku Buwono X masih terasa di lingkungan keraton hingga detik ini. Sebagai orang luar yang benar-benar awam, siapapun nanti yang bertugas menjadi raja selanjutnya, semoga tetap bisa menjaga amanah, pesona dan kehormatan Keraton Yogyakarta dari segala tantangan di masa depan.

Angkringan At Its Best!

Begitu keluar dari keraton, rasa lapar langsung menyergap kami semua. Saya ingat kami bertiga sama-sama belum makan sedari pagi. Rasanya lemas luar biasa. Padahal, kami masih harus berjalan kaki menuju ke Museum Kereta Keraton.

Untung, ada sebuah angkringan yang tampak baru saja buka di area kawasan parkir. Saya pun mengajak Ancha dan Putra untuk beristirahat sejenak disana, sekedar mencari sesuatu untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan.

Angkringan nyes!

Sebenarnya, angkringan adalah hal yang jamak dijumpai di kota kami - Salatiga. Namun, entah kenapa suasana angkringan terasa berbeda sekali di Jogja, mungkin karena disinilah salah satu awal mula dari penyebaran konsep warung makan ala gerobak dorong itu.

Penjualnya begitu ramah, pula halnya dengan para pembeli yang lain. Saya merasa nyaman dimana mendadak waktu serasa lambat berputar ketika tengah menikmati seporsi mini nasi kering tempe, tahu bacem, peyek teri dan segelas teh hangat.

Suasana serba santai di angkringan

Oh, angkringan kalau di Salatiga lebih dikenal dengan nama kucingan karena porsi nasinya mengingatkan pada porsi makan kucing peliharaan. Satu yang pasti: harga menu angkringan di tempat yang kami beli kemarin jauh lebih murah dibandingkan di Salatiga.

Menengok Kemegahan Tunggangan Para Raja Di Museum Kereta Keraton

Museum Kereta Keraton bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Keraton Yogyakarta. Tak jauh, hanya sekitar 300 meteran di sisi kiri keraton. Harga tiketnya serupa dengan harga tiket masuk keraton, termasuk soal biaya ijin kamera.

Tampak muka dari Museum Kereta Keraton

Awal pertama kali masuk ke dalam museum itu, saya langsung terperanjat dan merinding. Suasana Museum Kereta Keraton begitu remang-remang, plus bau campuran antara kapur barus dan kemenyan menguar kemana-mana. Spooky abis!


Jujur, kaki saya mendadak terasa berat untuk menjelajah museum yang tak begitu luas ini. Saat kedua teman saya sudah bergerak maju melangkah menuju deretan kereta, saya masih tertahan sebentar untuk mengumpulkan keberanian dan merapalkan doa. Bismillah, for the sake of history and my curiousity.

Museum Kereta Keraton sudah ada semenjak jaman Sultan Hamengku Buwono VII. Saat ini, setidaknya ada 23 kereta kuda yang tersimpan disana. Seluruh kereta memiliki keanekaragaman bentuk, interior, desain, fungsi dan namanya. Kebanyakan kereta merupakan hasil buatan dari pabrik-pabrik kereta yang ada di Jerman atau Inggris.

Saya sendiri malah tertarik dengan desain
lampu masing-masing kereta. Ada yang
lucu macam ini.

Adapula yang terlihat majestic macam ini.

Setiap pengunjung yang masuk akan dibawa berkeliling melewati koridor di sisi kanan, sebelum menuju ke koridor kiri, berjalan masuk ke area tengah, dan keluar lagi melewati koridor kiri. Area tengah merupakan pusat dari museum dimana disitulah tersimpan kereta paling megah dan mewah. Kereta kencana pertama Kasultanan Yogyakarta dan kereta jenazah adalah contoh koleksi yang menempati area tengah.

Maaf kalau salah, saya rasa ada "sesuatu" yang berjaga
di kereta paling ujung sebelah kanan, karena...ah, ya sudahlah.
*kembali merinding*

Kereta jenazah. Kabarnya sih, baru dipakai dua kali.

Hal yang paling saya salutkan adalah kondisi kereta-kereta itu masih terawat dengan baik. Warna-warna cat keretanya terlihat masih mulus, bahkan aroma khas pelitur begitu terasa ketika mendekat ke salah satu kereta.

Kereta pertama Keraton Yogyakarta.
Lihat, masih bagus kan?

Wajar sebenarnya mengingat keseluruhan kereta yang ada disini termasuk ke dalam pusaka milik keraton. Kabarnya, setiap tahun ada ritual pembersihan atau jamasan yang dilakukan kepada seluruh kereta - tanpa terkecuali.


Salah satu kuda yang bertugas sebagai
 penarik kereta bisa dilihat pengunjung
di bagian halaman museum.

Tak Sengaja Menemukan Galeri Lukisan Batik Di Gang Rotowijayan

Dalam perjalanan pulang menuju area parkir, mata saya tanpa sengaja melihat sebuah gang sempit tepat di sebelah Museum Kereta Keraton. Gang itu benar-benar sempit, paling tidak hanya muat dilewati satu buah motor.

Di mata saya, gang kecil tersebut terlihat begitu menarik. Dikelilingi pagar tembok berlumut, beberapa rumah warga berdiri mengular mengikuti jalanan sempit ini. Sesekali penduduk sekitar tampak hilir mudik disana, baik dengan menggunakan sepeda, motor atau berjalan kaki.

Salah satu foto jepretan favorit saya kemarin.
Ini nih yang selalu membuat saya rela berhenti
sejenak di tempat-tempat tak lazim.

Saya berjalan di gang sempit

Saat tengah asyik menikmati suasana, seorang pria muda datang menghampiri kami dan menawarkan untuk melihat galeri lukisan batik yang ada di dekat mulut gang. Awalnya, kami hanya bergeming. Namun, ajakan yang begitu vokal darinya ditambah iming-iming kata "gratis untuk melihat" akhirnya sukses membuat kami masuk ke dalam.

Ratusan lukisan cantik dengan corak macam-macam langsung menyambut kami di ruang tamu galeri. Saya terpana, mereka semua terlihat cantik dan menawan. Semua lukisan yang ada di galeri itu dijual dengan range harga berkisar Rp 120.000,00 - Rp 2.000.000,00, tergantung kerumitan corak dan ukurannya.

Si mas yang tadi mengajak kami masuk kemudian menjelaskan panjang lebar soal galeri lukisan milik salah seorang anggota keluarga keraton itu. Katanya, setiap lukisan memiliki makna sendiri-sendiri dan apabila dibeli sebagai hadiah bagi orang lain, tak bisa sembarangan.

Si mas pemandu sekaligus penjual lukisan

Ia mencontohkan salah satu lukisan yang laris dibeli oleh para pembeli dengan motif Rama-Sinta. Lukisan bermotif itu apabila diberikan kepada pasangan yang belum menikah maka posisi Sinta harus berada di sebelah depan, sementara apabila sudah menikah maka posisi Sinta harus berada di sebelah belakang. Ini berkaitan dengan petuah orang Jawa Kuno soal posisi wanita yang harus mengikuti perintah dari pria setelah keduanya menikah.

Hot selling item.

Lukisan sang penguasa Pantai Laut Selatan.
Konon, setiap raja Yogyakarta bakal
melakukan pernikahan gaib dengan "sang ratu".

Sejujurnya, saya tertarik membeli salah satu lukisan kecil yang ada disana. Lukisan bermotif pemandangan alam yang memiliki makna soal kehidupan, seperti tentang kesabaran, kemandirian, atau keteguhan. Lukisan itu sepertinya cocok kalau dijadikan penghias kamar. Sayang, saya sedang tak membawa uang banyak kemarin. Semoga nanti kalau ada rejeki dan kesempatan, saya bisa kembali lagi kesana.


****


Kunjungan tak terencana ke galeri batik lukis ini sekaligus menjadi penutup pengelanaan kami di kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam hati saya terkejut, ternyata ada banyak hal yang bisa dinikmati di kawasan itu walau hanya dengan bermodal sedikit uang dan kedua kaki. So yeah, Jogja memang istimewa.

Terima kasih sudah mengikuti petualangan kami. Terima kasih
sudah mampir. :)


Salam Kupu-Kupu dan mari jadi pejalan yang bertanggungjawab. ^^d


3 comments:

  1. Blusukan di gang2 sempit gitu memang ada sensasi tersendiri ya mas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mas. Apa ya, lebih thrilling, soalnya kita gak pernah tahu apa yang menanti kita disana. :D

      Delete
    2. dan di foto pun ada ehm... sesuatu yg ga bisa dijelaskan dgn kata2 :D

      Delete