Monday, April 16, 2018

Macau - HK Trip Day 4: Momen Terakhir di Macau



Tanpa terasa, hari itu adalah hari terakhir dalam perjalanan saya dan Mbak Ayu di Hong Kong dan Macau. Kami pun memutuskan untuk kembali lagi ke Macau, mengingat tiket penerbangan balik kami ke Jakarta berangkat dari sana. Pagi itu perjalanan kembali kami dimulai dengan drama di stasiun MTR. Entah ada kejadian apa sebelumnya, tapi begitu menjejakkan kaki di Stasiun MTR Mong Kok kami sudah langsung berhadapan dengan antrian panjang. Suasana stasiun seketika berubah bak arena saling desak dan saling dorong antara satu orang dengan orang lainnya tiap rangkaian kereta MTR datang. Duh, horor.

Untung saja, antrian pada gerbong paling akhir dalam satu rangkaian tak seramai gerbong-gerbong di depannya. Kami berdua langsung melipir ke arah antrian itu sambil menabah-nabahkan diri sebab stasiun pemberhentian kami cuma berjarak empat stasiun dari Mong Kok. Yup, kami kembali ke Tsim Sha Tsui.

Eh, kalau pas kaya gini baru deh sadar sepadat apa HK itu.

Begitu sampai di Stasiun MTR Tsim Sha Shui, saya bergegas menuju loket informasi untuk mengembalikan kartu Octopus dan meminta dana yang tersisa. Dana yang membuat kami berdua merasa menjadi kaya raya kembali. Dari stasiun, kami lantas berjalan kaki menuju Ferry Terminal dan membeli tiket sekali jalan menuju Macau.

Meski kami datang pagi, tapi kami kebagian jadwal siang dari kapal ferry yang akan membawa kami ke Macau. Kata si petugas, tiket-tiket di jam sebelumnya telah habis dipesan. Kami pun ditawari tiket terdekat, tapi dengan tujuan menuju Macau Ferry Terminal di Pulau Taipa (hayoo, masih ingat pembagian teritori dari Macau tidak?). Tawaran yang langsung saja saya iya-kan mengingat tujuan utama kami di Macau hari itu memang berada di Taipa.

The Venetian Macao dan Kesan Pertama Naik Perahu Gondola

Sekitar jam 11 lebih seperempat, kami sudah tiba di lobi utama dari The Venetian - sebuah resor yang mengedepankan prinsip "one stop entertainment" dengan inspirasi utama arsitekturnya berasal dari Kota Venisia di Italia sana. Silau. Itu kesan pertama yang saya rasakan begitu menjejakkan kaki di dalamnya. Bayangkan saja, mayoritas ornamen yang ada di The Venetian diwarnai dengan warna emas. Sebuah patung pendulum emas raksasa dengan ornamen dewi di empat sisinya tampak berdiri di tengah lobi utama - membuatnya terlihat seperti sedang menyambut seluruh pengunjung yang datang.

Mbak Ayu dengan patung emas.

Sehabis menitipkan tas di area penitipan, kami segera menuju ke lokasi tujuan utama kami selama di The Venetian yakni menuju kanal-kanal buatan untuk bisa menaiki perahu gondola. Total ada tiga kanal buatan yang menjadi titik mula atraksi perahu: Grand Canal, Marco Polo Canal, dan San Luca Canal. Masing-masing kanal menyediakan pemandangan berbeda, dan setelah membaca-baca review katanya naik perahu gondola dari Grand Canal adalah yang terbaik di antara ketiganya. Disanalah saya dan Mbak Ayu menukarkan voucher perahu gondola yang sudah kami beli sebelumnya via Klook.

Gondola dari Grand Canal
Kami harus mengantre selama sekitar setengah jam sebelum giliran untuk naik perahu gondola tiba. Kami yang hanya berdua akhirnya dijadikan satu rombongan dengan tiga pelancong asal India. Seorang pria asal Filiphina kebagian tugas menjadi pengayuh perahu kami. Sepanjang perjalanan, tukang kayuh kami menyanyikan lagu romantis berbahasa Italia yang diikuti dengan lagu Sempurna-nya Andra and The Backbone dan Rasa Sayange, lalu berganti lagu India yang entah apa judulnya. Iya, saking terbiasanya membawa penumpang dari berbagai negara - setiap pengayuh semacam diwajibkan menghafalkan lagu dari negara-negara berbeda.

Hasil minta tolong ke turis India.
Sejujurnya, atraksi perahu gondola itu not really worth the price. Satu kali perjalanan hanya memakan waktu selama 15 menit saja, singkat banget kan? Atraksi ini tertolong dengan keramahan pengayuh kami (saking ramahnya, ia sempat mengajak bergosip tentang pengayuh perahu gondola di depan kami yang ternyata berkebangsaan Indonesia, tapi entah kenapa selalu menolak membawa penumpang asal Indonesia. dih!), serta sensasi menjadi pusat perhatian dari puluhan pengunjung lain yang sesekali melambaikan tangan atau merekam lewat gawai mereka. Ahem~

Selain merasakan sensasi naik perahu gondola, kami menyempatkan menengok kemewahan lain yang ditawarkan oleh The Venetian. Mulai dari toiletnya yang bikin betah berlama-lama, hingga pohon natal yang terbuat dari butiran berlian Swarosvki. Ajegile!

Duh, coba gelinding satu ya berliannya.

Macau Tower: Dari Kebaikan Hati, Jamuan Teh Hingga Boneka Panda

Saat berhasil mengamankan tiket Jakarta-Macau, ada kekhawatiran yang saya rasakan manakala selesai membaca ulasan petualang-petualang lain. Kekhawatiran itu berasal dari ulasan-ulasan yang menyebutkan kalau konon katanya: orang Tiongkok itu tidak ramah. Tapi sungguh, sejauh ini saya justru bertemu dengan mereka-mereka yang baik hati. Mulai dari kakek yang mengikuti saya untuk membalas budi, seorang pria yang langsung mendekati kami dan memberi tahu arah ke San Ma Lo, wanita Hong Kong dan anaknya yang kami temui di depan Studio City, hingga mas-mas baik hati yang kami temui ketika kami tak tahu arah menuju ke Macau Tower.

Jadi ceritanya, Macau Tower adalah tujuan kami berikutnya setelah dari The Venetian. Namun, baru keluar dari sana, ujian langsung datang menghampiri dalam bentuk sinyal pocket wi-fi kami yang mati. Matinya sinyal tersebut terlambat sekali kami sadari, jadi sekeluarnya dari The Venetian, kami berdua justru berkeliling serba tidak jelas akibat mengikuti arah Google Map yang pointer-nya ternyata sama sekali tak bergerak. Anjir!

Mendekati halte bus pun percuma. Di papan informasi yang ada disana, tak sekalipun menunjukkan rute atau kata-kata "Macau Tower". Duh, bagaimana ini? Apalagi, kami harus tiba di Macau Tower jam 3 sore karena berkaitan tiket atraksi lain yang sudah kami beli. Di tengah rasa panik yang mulai muncul, saya mencoba memberanikan diri bertanya pada seorang pemuda berkacamata yang tampak berjalan ke arah kami.

"Uhm, excuse me. Can you speak English?", tanya saya dengan harap-harap cemas. Bubar rasanya kalau si mas menggelengkan kepala. Alhamdulillah, si mas justru mengangguk dan berkata: "Yes, a little". Saya pun langsung memberondongnya dengan pertanyaan bagaimana cara untuk menuju Macau Tower dari tempat kami berdiri. Si mas langsung bergerak cepat, membuka sebuah alamat web dan menunjukkannya kepada saya. Ehm, mas maaf itu pakai aksara Tiongkok, jadi saya tak mengerti. Ia lantas menuju ke papan informasi bus, membaca sebentar, dan menggeleng. Duh, mampus. Pikiran buruk mulai menghampiri.

Lagi-lagi si mas diam sejenak. "Ah, you can take a shuttle bus from Studio City, stop by at Grand Lisboa and take a public bus to Macau Tower. Follow me!".  Lah, saya bingung kok tiba-tiba kami disuruh mengikuti si mas. Mau dibawa kemana ini? Ya Allah, saudara-saudara. Si Mas yang belakangan saya tahu adalah seorang mahasiswa jurusan manajemen di Macau University of Science and Technology ternyata mengantarkan kami sampai tepat ke depan shuttle bus yang berada di lantai basement Studio City. Terharu sayaaa.

Saya dan si mas yang suka menolong,
berhati mulia, dan rajin belajar.

Oke, cukup dengan cerita kebaikan hati orang lokalnya. Mari kembali ke cerita kenapa kami harus sampai di Macau Tower jam tiga sore. Ini berkaitan dengan highlight trip yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Pada dasarnya, saya adalah tipe traveler yang sebisa mungkin selalu memasukkan "wow-moment" di hari terakhir dari setiap perjalanan, dalam bentuk apa saja, dan dalam range harga berapapun. Dan di Macau, highlight trip itu berupa jamuan teh di Macau Tower 360͒ Cafe.

Sejujurnya, ini adalah kali pertama saya menikmati afternoon tea set - sebuah tradisi jamuan teh yang pada mulanya dikenalkan pada era Dinasti Han di Tiongkok, tapi justru berkembang pesat di negara-negara barat. Afternoon tea set di Macau Tower 360͒ Cafe sendiri dimulai pada jam 15.30 dan berlangsung selama 1.5 jam saja, jadi kalau mau pol-polan menikmati jamuan teh itu memang harus datang lebih awal.

Macau Tower dari shuttle bus.

Setelah menukarkan voucher yang sudah kami beli (lagi-lagi via Klook), seorang petugas langsung mengarahkan kami untuk menuju lift yang akan membawa ke lantai 60 Macau Tower tempat sang cafe berada. Disana, kami kembali menunjukkan voucher kepada resepsionis yang lantas segera memanggil pelayan untuk menunjukkan tempat duduk kami.

Whoa! Saya langsung terhenyak ketika melihat meja kami. Posisinya persis di pinggir kaca besar dan 11 macam kudapan dengan tampilan yang menarik sudah tertata rapi di tatakan. Kami berdua sampai kebingungan hendak mulai makan darimana. Sementara untuk minuman sistemnya free flow, jadi kami bebas mencoba teh, kopi atau bahkan cokelat sepuasnya. Favorit saya sih kemarin honey lime tea-nya. Uh, seger abis!

Yum yum yum!

Meski memang tergolong mahal, tapi rasanya sepadan sekali dengan apa yang kami dapatkan. Sesuai dengan nama cafe-nya, lantai tempat duduk akan berputar sebesar 360͒  sehingga setiap pengunjung akan dapat menyaksikan pemandangan aerial yang berbeda, mulai dari skyline Macau baik Pulau Coloane atau Pulau Taipa, selat di antara kedua pulau, hingga bagian dari Tiongkok Daratan. Selain itu, kami juga bisa mengintip para pengunjung bernyawa ganda yang tengah bungy jump atau sky walk. Jangan tanya kenapa kami tidak mencoba dua atraksi itu ya, alasannya jelas karena tak punya nyali dan tak punya dana. Mahal cuy.

Ngeliatnya aja deg-degan loh, apalagi yang ngelakuin.
Itu mbak-mbak betewe~ Iya, mbak-mbak yang punya serep
nyawa.

Kalau ini yang dinamakan sky walk alias jalan di pinggiran
lantai tertingginya Macau Tower. 


Selepas menikmati jamuan teh, masih ada hal yang kami lakukan di Macau Tower yakni mengunjungi Toko Suvenir bernama Macau Creations. Toko suvenir ini cukup spesial mengingat semua barangnya diproduksi oleh artis-artis lokal Macau. Saya sudah tahu suvenir incaran di toko tersebut, yakni sebuah boneka berbentuk panda yang diberi label "Soda Panda".

Soda Panda ini satu keluarga, yang terdiri dari tiga panda kakak beradik yang bernama Panda Ar, Panda Lo, dan Panda La. Walau sudah sempat googling sebelumnya, tapi melihat ketiga boneka panda itu secara langsung buat penggila panda seperti saya, asli bikin meleleh semua. Saya sampai kebingungan mau memilih yang mana karena mereka semua lucu dan punya karakter sendiri-sendiri. Seorang wanita muda pelayan toko dengan sabar menemani saya yang bimbang memilih, hingga pada akhirnya pilihan saya jatuhkan pada Panda Lo sebab memiliki kesamaan dengan saya: sama-sama anak kedua dalam keluarga.

Menanti diadopsi. Coba tebak mana yang Panda Lo?

Si mbak yang mungkin daritadi gatal menyaksikan saya kebingungan lantas bertanya, "ehm sorry to ask, do you buy it for yourself or another person?". Saya pun menjawab dengan mata berbinar-binar, tentu saja untuk saya sendiri.

"Ah, I can see the reason why!", kata si mbak sambil terkekeh.

Sial~

Casino Hotel Hopping At Night

Hari perlahan mulai berubah gelap sepulangnya kami dari Macau Tower. Berhubung masih ada banyak waktu sebelum penerbangan pulang, saya dan Mbak Ayu lantas memutuskan untuk berjalan kaki mengunjungi pelataran hotel-hotel kasino yang tersebar di Pulau Taipa.

Perjalanan casino hotel hopping kami dimulai dari pelataran Studio City - tempat kami diturunkan seusai memakai shuttle bus dari Macau Tower. Dibandingkan hotel kasino lainnya, Studio City ini termasuk pemain baru. Ciri khas yang dimilikinya adalah ada dua lingkaran besar yang membentuk angka "8" tepat di tengah bangunan hotel. Katanya sih, berkaitan dengan fengshui yang menganggap dua lubang itu akan membawakan keberuntungan sebab menjadi jalur lewat bagi naga. Tapi ada pula yang berkata dua lubang tersebut justru terinspirasi dari Gotham City-nya Batman.

Mbak Ayu berlatar Studio City.

Di Studio City ini ada atraksi baru yang menurut saya layak dicoba yakni naik bianglala dengan rute mengitari dua lubang itu tadi. Pertama di dunia, rute bianglala yang tidak berbentuk lingkaran penuh, tapi angka "8". Kemarin sebenarnya kami hendak mencoba, tapi sudah terlalu malam.

Tepat di samping Studio City, berdiri hotel kasino megah lainnya yakni The Parisian. Ah kalau dari namanya sih, sudah ketebak hotel ini terinspirasi dari apa. Yup, Kota Paris! Tak tanggung-tanggung, sebuah replika Eiffel Tower dibangun di sisi pinggir hotel demi semakin mengukuhkan citra Paris yang coba digaungkan oleh hotel.

Dalam hati berdoa: "kali ini lihat replikanya dulu, besok
kasih kesempatan buat mendatangi yang aslinya, Ya Allah".

Dari The Parisian, kami berjalan kaki kembali ke The Venetian. Saya sangat merekomendasikan untuk berkunjung di Bulan Desember sebab pada bulan tersebut tengah berlangsung Macau Light Festival. Jalan-jalan di seluruh Macau pun berhias dengan lampu LED kecil berwarna biru. Cantik parah!

Kami tiba di halaman belakang The Venetian, bersamaan dengan dimulainya special show berupa proyeksi hologram bertema natal yang dipantulkan di dinding belakang The Venetian. Pertunjukan ini berlangsung selama kurang lebih sepuluh menit dan sukses membuat siapa saja yang melihatnya merasa hangat, bahagia, serta ikut menyanyikan lagu natal yang mengiringi selama pertunjukan.

Special show di dinding belakang The Venetian. Lucu!

Selain beberapa hotel kasino itu, sesungguhnya semua hotel kasino yang ada di Macau memiliki pesona atau ciri khas sendiri-sendiri. Ada MGM Hotel dengan patung singa emas raksasanya, ada City of Dream yang dikenal dengan pertunjukan air mancur menarinya, dan lain sebagainya. Percayalah, kalau kalian kuat berjalan kaki maka casino hotel hopping semacam ini adalah hal yang patut dicoba selama berada di Macau.

Singa MGM. Foto ini saya ambil ketika muter-muter tidak
jelas akibat sinyal wifi yang mati. Sial.


Berburu Serradura di Taipa Village

Sebenarnya ada hal lain yang ingin saya coba pada hari terakhir kami di Macau, yakni menyambangi Taipa Village untuk mencari Toko Gelatina Musang Mok Yi Kei. Awalnya, saya sempat hendak mencoret hal tersebut mengingat posisi kami berdua sudah sama-sama kelelahan. Tapi kemudian, Mbak Ayu tanpa diduga menantang saya untuk berjalan kaki lagi menuju Taipa Village berhubung lokasinya lumayan dekat dengan The Venetian.

Taipa Village ini mirip-mirip dengan Tai O, berupa sebuah destinasi nan kaya cagar budaya yang bisa dijadikan alternatif dari kehidupan kasino yang serba hingar bingar. Ada banyak bangunan tua yang berada disana, kebanyakan beralih fungsi menjadi toko, butik, maupun penginapan.

Dalam perjalanan berangkat, kami harus berjalan kaki memutar yang lumayan jauh dan naik-turun jembatan penyeberangan besar berbentuk melingkar. Perjalanan itu begitu menguras tenaga dan waktu. Belakangan kami baru tahu bahwa disediakan travelator atau semacam jalan bergerak yang langsung mengantarkan pengunjung ke Taipa Village dari sisi kanan depan The Venetian. Travelator ini kami gunakan dalam perjalanan pulang. Enak banget asli, cuma tinggal berdiri dan pindah-pindah jalur akhirnya sampai di taman besar Taipa Village. Serasa main game!

Namun, saya tak menyesal karena telah berjalan kaki memutar kemarin. Begitu mendekati jalanan kecil di Taipa Village, kami langsung disambut kerlip lampu warna biru sepanjang jalan. Sayup-sayup, terdengar pula rekaman musik instrumental yang dipadukan dengan suara deburan ombak dan cerucau burung camar. Aih, damai rasanya.

Jalannya mirip jalan-jalan di drama korea.

Kami melewati Igreja de Nossa Senhora do Carmo atau Our Lady of Charmel Church dalam perjalanan menuju Toko Gelatina Musang Mok Yi Kei. Gereja berwarna kuning pastel dengan gaya arsitektur neo klasik ini tercatat selesai dibangun pada 1885. Sebuah diorama besar yang menggambarkan kelahiran Yesus sengaja ditambahkan dalam rangka memeriahkan natal dan ditata rapi di ujung depan kanan gereja.

Our Lady of  Charmel Church kala malam.

Selepas itu kami melewati bangunan-bangunan kuno lainnya yang telah disulap menjadi beraneka macam restauran dan penginapan. Cahaya pendar dari papan neon nama-nama restauran, entah kenapa justru semakin menambah pesona dari Taipa Village manakala malam datang menjelang. Atmosfirnya sungguh saya suka.

This! Sukaa banget!

Tangganya aja fotogenik.


Saking asyiknya melihat-lihat deretan toko di sepanjang jalan, kami sempat keblabasan dan melewatkan Toko Gelatina Musang Mok Yi Kei. Setelah bertanya dan diarahkan oleh seorang penduduk pendatang, kami akhirnya menemukan toko tersebut tepat di balik sebuah taman kecil yang menjadi semacam food truck area setiap malamnya.

Fyuh, ketemu juga.

Awalnya, saya sempat takut kehabisan serradura berhubung kami datang sudah sangat malam. Apalagi, saat melihat display dari puluhan snack atau dessert yang tertata rapi di rak etalase, saya tak menemukan nama "serradura" satu pun disana.

"Hi, do you still have serradura for us?", tanya saya pada wanita pemilik toko dengan nada sedikit cemas. "Serradura? Yes! Here they are, sawdust pudding!", jawab sang pemilik penuh antusias dan senyum sumringah.

Alhamdulillah. Perjuangan jalan kaki kami malam-malam ke Taipa Village tidak berakhir percuma. Toko Gelatina Musang Mok Yi Kei sendiri tercatat sudah beroperasi selama hampir 80 tahun lebih dimana komoditas paling terkenal di toko tersebut adalah serradura-nya. Tak tanggung-tanggung, sampai masuk ke Michelin Guide 2016 segala, loh.

Kami berdua tak memakan serradura itu di tempat, melainkan di taman besar yang dimiliki oleh Taipa Village. Berhubung perut mendadak lapar, kami juga membeli potongan beraneka macam seafood rebus yang lantas direndam saus kuning nan pedas. Kombinasi yang agak aneh sih memang, tapi entah kenapa terasa nikmat dimakan sembari menikmati temaram lampu hotel-hotel kasino di kejauhan dan alunan musik instrumental dari pengeras suara di tengah taman.

Serradura dan Seafood rebus saos pedas. Serraduranya sendiri
teksturnya mirip sorbet, agak kasar dan crunchy gitu.

Saya sangat merekomendasikan untuk menyambangi Taipa Village ketika kalian semua sedang berjalan-jalan di Macau. Entah itu untuk berburu makanan, atau sekedar menikmati bangunan-bangunan kuno yang ada disini. Apalagi buat pecinta warna-warna pastel, Taipa Village adalah surganya sebab hampir sebagian besar bangunan kunonya diwarnai dengan warna pastel.

***

Katanya: perjalanan yang menyenangkan akan terasa cepat berakhir. Itu pula yang saya rasakan selama berada di Hong Kong dan Macau kemarin. Terlepas dari sejumlah drama kecil yang terjadi sepanjang petualangan saya dan Mbak Ayu di dua daerah spesial administratif itu, tapi rasanya lebih banyak hal menyenangkan yang kami temukan.

Surprisingly, walau begitu lekat dengan kesan hingar bingar dan kemewahan, tapi Macau dan Hong Kong tidak semahal yang saya duga sebelumnya. Asal tahu cara mengakali, seperti: memilih menginap di Hong Kong daripada Macau atau menggunakan free shuttle bus hotel kasino daripada angkutan publik selama di Macau, maka pengeluaran kita tidak akan terlalu membengkak. Oh, harus pandai mengerem nafsu berbelanja juga deh. Bikin kalap semua soalnya. :)

Cost Day 4:
1. Tiket kapal ferry Tsim Sha Tsui (HK) - Macau Ferry Terminal (Taipa): HKD 171 atau Rp 294.120,00
2. Tiket public bus ke Macau Tower: MOP 3.20 atau Rp 5.504,00
3. Serradura Gelatina Musang Mok Yi Kei: MOP 30 per cup atau Rp 51.600,00
4. Cemilan seafood: MOP 30 atau Rp 51.600,00 dibagi dua : Rp 25.800,00

Income Day 4:
1. Kembalian Octopus Card: kurang lebih HKD 70 per orang atau Rp 120.400,00

Total Pengeluaran Hari Keempat= Cost - Income = Rp 256.624,00

dengan demikian, maka:

Pengeluaran Keseluruhan Macau-HK Trip kemarin adalah: Rp 1.088.088,00 + Rp 1.172.095,00 + Rp 338.410,00 + Rp 256.624,00 = Rp 2.855.217,00 

Note:
1. Tidak ada hostel atau hotel murah di Macau, jadi kalau ingin berhemat mending menginap di Hong Kong. Tarif paling murah per malam saat off-season di Macau adalah sekitar Rp 750.000,00 per malam.
2. 1 MOP = 1 HKD, maka hitungan yang saya gunakan pun sama seperti postingan-postingan sebelumnya yakni 1 HKD = Rp 1.720,00
3. Pengeluaran di atas tidak termasuk oleh-oleh yang saya beli ya. :p

Terima kasih sudah berkunjung! A big thanks buat Mbak Ayu
yang sudah sabar nemenin jalan-jalan kemarin.


Salam Kupu-Kupu. ^^d

No comments:

Post a Comment