Tuesday, October 21, 2014

Cerita Bersama Tetangga Part XIII - Bertemu Para Monyet Di Goa Kreo

Pagar bermotif monyet

Cerita lain dari petualangan saya bersama tetangga. Kali ini cuma ditemani oleh Mbak Reza yang kebetulan tengah pulang sejenak ke Kota Salatiga. Beberapa hari menjelang kepulangannya kembali ke tanah rantau, ia mengajak saya untuk kabur sebentar dari lingkungan kampung kami yang begitu-begitu saja. Ah, beginilah cara kami jalan-jalan. Mayoritas dilakukan secara dadakan, dan selalu sukses membuat kami pening memikirkan hendak kemana dalam waktu yang sesingkat itu. Untungnya saya masih punya daftar beberapa tempat wisata yang terhitung dekat dari Salatiga, dan akhirnya saya mengajak Mbak Reza untuk bertemu para monyet ekor panjang di Goa Kreo. 

Perjalanan menuju Goa Kreo kami tempuh melalui Gunung Pati, Kabupaten Semarang. Err, rute yang tak begitu saya sarankan karena lebih terasa membingungkan walau jaraknya memang lebih dekat dengan Salatiga. Minimnya papan penunjuk arah membuat saya yang menyetir motor menjadi kebingungan. Kami berdua sampai harus tanya ke penduduk berulang kali demi menemukan tempat tersebut. Berbekal informasi dari para penduduk dan sedikit intuisi akhirnya kami berhasil sampai setelah memakan waktu perjalanan hampir satu jam lamanya.

Baru saja memarkirkan motor, kami berdua dikejutkan teriakan seorang pengunjung. Seorang wanita tampak tergopoh-gopoh lari karena diikuti seekor monyet. Huh? Tunggu. Dari semula satu ekor, mendadak muncul serombongan monyet lain dengan berbagai ukuran. Waks. Tak berapa lama, segerombolan monyet telah berada di area parkir. Namun, mereka ternyata hanya mengikuti pengunjung yang kedapatan membawa makanan. 

Wanita tadi memang tengah membawa makanan. Eh, bukan dia. Namun seorang pria (terlihat seperti suami) yang tampak membagikan kacang kepada para monyet, dan entah bermaksud menggoda atau bagaimana namun ia dengan sengaja menjatuhkan kacang di dekat wanita tadi. Jelas saja para monyet mengikuti sang wanita yang cuma bisa berteriak dan lari itu. Ugh, romantis. Romantis rasa ekstrim.

Lepas dari semacam cuplikan sinetron masa kini gratisan tadi, kami segera melangkahkan kaki untuk menjelajah tempat tersebut. Dua danau buatan dengan luas lumayan terpampang jelas di depan. Obyek wisata Goa Kreo memang menjadi satu dengan Bendungan atau Waduk Jatibarang. Waduk ini baru diresmikan pada 5 Mei 2014 dan digunakan sebagai sarana penanggulangan banjir, pengairan dan pembangkit listrik bagi warga Kota Semarang. Hari itu, tinggi permukaan airnya terlihat sedikit surut. Mungkin karena masih memasuki musim kemarau.

Dinding bendungan

Bendungan atau Waduk Jatibarang


Ada jembatan besar yang melintas di atas waduk, dan menjadi satu-satunya jalan untuk menuju ke Goa Kreo. Berhubung masih baru, kondisi jembatan masih bagus, dan bersih. Tersedia banyak sekali tempat yang bisa digunakan para pengunjung untuk beristirahat di sepanjang jembatan. Sayang, kebanyakan tidak berpenutup sehingga kalau matahari tengah menyengat seperti siang itu rasanya bagaikan tengah melewati padang tandus. Saya dan Mbak Reza sampai harus berjalan super cepat untuk menghindari terik matahari.

Jembatan Merah. Harus menuruni anak-anak tangga
terlebih dahulu.

Setelah melewati jembatan, kami mulai memasuki area Goa Kreo. Beberapa pohon dengan kondisi yang tampak meranggas dan kering menyapa kami. Sejenak membuat saya terlupa kalau kami sedang berjalan-jalan di Indonesia. Angin kencang beberapa kali datang menerpa dan membuat rasa gerah perlahan-lahan mulai sirna. Goa Kreo sendiri terdiri atas dua buah goa bersebelahan yang keduanya memiliki tinggi setengah dan lebar satu manusia dewasa. Kami berdua sepakat ogah masuk ke dalam goa karena takut. Takut kalau saat kami masuk, tiba-tiba puluhan monyet langsung keluar dari dalam goa untuk menghardik kami. Hahah, maafkan imajinasi kami yang berlebihan.

Jalan menuju Goa dan Bukit Kreo

Pose dulu di jalan

Mbak Reza foto di dekat area goa


Mulut salah satu goa

Di depan goa

Goa Kreo memang erat kaitannya dengan monyet ekor panjang. Konon, Sunan Kalijaga bertemu empat ekor monyet berwarna hitam, putih, merah dan kuning (iya, bukan power ranger, kok) saat melintasi daerah tersebut. Keempat ekor monyet itulah yang membantu Sunan saat kayu jati yang ia bawa untuk saka Masjid Demak tersangkut di tebing. Seusai membantu, keempat monyet ini hendak ikut serta Sunan menuju ke Demak namun beliau akhirnya menyuruh mereka untuk ngreho atau menjaga area. Dari kata ngreho tadilah kenapa kemudian tempat pertemuan Sunan Kalijaga dan empat power ranger monyet tadi dinamakan Goa Kreo. Seluruh monyet yang kini ada di Goa Kreo dipercaya merupakan keturunan dari empat monyet penolong Sunan.

Ilustrasi pertemuan Sunan dan empat monyet di
dinding atap jembatan


Tepat di atas goa terdapat bukit kecil yang bisa dinaiki sampai ke atas. Mbak Reza mempersilahkan saya naik dan memutuskan menunggu di bawah karena takut jatuh terpeleset. Iya, sebab jalan naik ke atas bukit hanya berupa tanah berpasir halus yang terasa licin. Butuh waktu tak sampai lima menit untuk bisa sampai di atas bukit. Dari sekian banyak pengunjung yang ada di sekitaran goa, hanya saya seorang yang memanjat ke atas bukit. Agak ngeri rasanya. Apalagi di atas bukit itu selain saya dan rerumputan kering, cuma terdapat semacam prasasti bertuliskan caraka dalam Aksara Jawa pada salah satu sisinya. Dari atas bukit sebenarnya kita bisa melihat waduk dengan lebih leluasa.

Prasasti bertuliskan caraka


Panorama waduk dari atas Bukit Kreo

Sayup-sayup bacaan Al Quran mulai terdengar dari masjid-masjid di sekitar Goa Kreo. Ah iya, hari itu adalah Hari Jumat-waktu Sholat Jumat bakal dimulai sebenatar lagi. Dengan tempo jalan yang cepat kami berdua segera bergegas meninggalkan area goa. Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan monyet yang terkadang terlihat mengawasi kami dengan seksama. Saya sempat lengah. Saat tengah beristirahat di salah satu sudut area parkir, tanpa sadar saya membuka kemasan makanan ringan yang kami bawa. Baru menikmati beberapa suap satu ekor monyet berukuran besar datang menghampiri. Untung saya segera memasukkan cemilan tadi ke dalam tas dengan cepat dan langsung pergi berlalu meninggalkan sudut tadi.

Geng monyet 

Ah, iya iya. Tampaknya monyet tadi tahu, tak baik berlama-lama duduk disitu sementara suara adzan sudah mulai berkumandang. Hihih. Selamat tinggal para monyet!


Salam dari kami berdua!
Ketika foto dari depan sudah terasa membosankan. :p

How Much To Enter:
1. Tiket masuk area: Rp 5.000,00 per orang
2. Parkir: Rp 1.000,00 per motor atau Rp 2.000,00 per mobil


Salam Kupu-Kupu ^^d

No comments:

Post a Comment