Monday, October 13, 2014

Tiga Makanan Lokal Lombok Yang Membuat Saya Rindu



"Apa yang paling bikin kamu terkesan dan rindu sama Lombok?"

Pertanyaan itu dilontarkan salah satu sahabat dari jaman SMA melalui bbm setelah dia tahu kalau saya baru saja berkunjung kesana. Tanpa berpikir lama, saya langsung menjawab dengan mantap: makanan daerahnya! Sumpah, terlepas dari kekayaan alamnya, Pulau Lombok ternyata juga kaya akan makanan daerah yang enak-enak. Walaupun harga satu porsinya mirip harga makanan di Jakarta, tapi worth to buy and try banget. Selama perjalanan Lombok Hula Trip kemarin, saya dan Uul berhasil mencoba sedikit makanan lokal yang ada disana. Semuanya bikin rindu!

Buat saya pribadi, makanan lokal Lombok sesuai dengan preferensi rasa saya soal makanan yaitu pedas, manis dan asin. Mostly, makanan yang kami coba ada rasa ketiga rasa itu baik berdiri sendiri maupun kombinasi dari ketiganya. Serunya lagi, ada sensasi kecut atau asam juga di beberapa masakan yang berasal dari penggunaan jeruk nipis maupun daun asam jawa. Uhh.

Jadi, ada tiga makanan lokal Pulau Lombok yang berhasil kami coba. Dan ketiga makanan itu adalah:

1. Ayam Bakar Taliwang
Makanan ini adalah makanan lokal pertama yang kami beli begitu menjejakkan kaki di Lombok. Tidak tanggung-tanggung, kami sampai merelakan pergi ke Mataram dari Senggigi hanya untuk mencicipinya. Err, itu gara-gara dapat petuah dari bapak pemilik rental motor sih. Katanya, Ayam Taliwang di Senggigi rasanya kurang nendang dan harganya lebih mahal dibandingkan kalau beli di daerah Mataram. Tambahnya lagi, mending beli di warung kecil pinggir jalan. Lebih otentik. Aih, siap komandan!

Kami sempat kebingungan mencari dimana warung kecil yang menjual Ayam Taliwang di Mataram hingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti pada salah satu warung kecil di Jalan Tumpang Sari. Kalau tidak salah sih nama jalannya itu. Jalan itu bentuknya jalan kecil namun penuh oleh penjual makanan lokal, kebanyakan menjajakan nasi campur. 

Dua orang pria paruh baya menyambut kami dan menanyakan pesanan yang kami inginkan. Uul pun menyebutkan Ayam Taliwang dua dan satu plecing kangkung. Ada satu rombongan pengunjung lain di warung itu dan mereka tampak lahap sekali memakan makanan di hadapan masing-masing.

Bapak penjual Ayam Taliwang

Tak berapa lama, pesanan kami sudah matang. Pertama-tama yang diantar adalah nasi, piring-piring lalapan, dua macam sambal dan plecing kangkung. Barulah kemudian ayam pesanan kami datang dan membuat sedikit terhenyak. Di depan kami kini ada masing-masing ayam panggang satu ekor! Hah? Ini serius? Saya pikir bakalan diambilkan potongan dada atau paha doang. Tapi, ini satu ekor ayam utuh lengkap dari kepala hingga kaki. Yah, walaupun ayam yang digunakan sekelas ayam yang belum dewasa atau masyarakat Lombok sering menyebutnya dengan julukan ayam abege. Glek!

Ayam Abege

Saking ada banyaknya piring di depan kami, saya sampai bingung mau memulai darimana. Dengan asal-asalan saya pun memeras jeruk nipis ke atas ayam kemudian menuangkan saus merah kental yang juga memakai jeruk nipis. Colek sedikit, beh, rasa pedas dengan sensasi segar dari air perasan jeruk nipis langsung menghujani lidah. Endes! Top markotop! Mak nyus! Ah, apapun itu asalkan artinya adalah enak sekali.

Err, mulai dari mana dulu ya? 

Makin endes lagi kalau makan ayam taliwangnya dengan nasi kemudian diberi sambal. Sambal favorit saya adalah sambal yang terdiri dari halusan cabai, bawang merah, bawang putih dan air perasan jeruk nipis di atas potongan terong hijau kecil-kecil. Astaga, mulut terasa susah untuk disuruh berhenti mengunyah. Air keringat sampai membanjiri dahi, muka saya memerah, mata berkaca-kaca, dan hidung mampet. Super!

Seperti yang kami perkirakan, ayam kami masih tersisa walau nasi di piring sudah habis. Dengan terpaksa kami makan ayam nan pedas itu tanpa nasi, hanya ditemani sisa lalapan dan sambal. Takut perut jadi bermasalah, saya langsung menutup mata rapat-rapat dari godaan sambal. Daripada jalan-jalan dua hari ke depan jadi berantakan gara-gara perut kruwes-kruwes kan ya? Hahah. Satu porsi ayam ditambah nasi, lalapan, dan teh hangat dihargai sebesar Rp 45.000,00. Mahal? Tidak terlalu jika dibandingkan dengan porsi yang kami dapat per orangnya.

2. Nasi Campur
Perjumpaan saya dan Uul dengan nasi campur terjadi secara tak sengaja. Diawali oleh kelaparan berat kami dalam perjalanan pulang dari Gili Trawangan, akhirnya saya memutuskan mampir ke warung sederhana di sekitaran Pantai Coco. Warung itu tengah sepi saat kami tiba, sampai-sampai si Ibu penjual tampak terkantuk-kantuk.

Sedikit kaget dengan kedatangan kami, ia pun menyapa dan menanyakan pesanan. Ada piring-piring tertata rapi dengan isian beraneka macam di dalam sebuah meja kaca. Saya bertanya kepada si ibu, tentang makanan yang ia jual. "Ini nasi campur", katanya singkat sembari tersenyum. Oalah. Kami pesan dua ya, ibu.

Tak berapa lama, satu piring nasi campur diantarkan ibu penjual ke hadapan kami. Bentuknya mirip sekali dengan nasi rames kalau di Pulau Jawa. Porsinya banyak, sampai-sampai Uul langsung minta untuk nasinya dikurangi. Kalau saya mah, berhubung lapar langsung sikat. Hahah. Oh, kami memesan telur dadar juga untuk melengkapi nasi campur tadi. Telur dadarnya diberi irisan cabai kecil-kecil yang pedas banget.

Nasi campur porsi kuli


Sama telur dadar penuh irisan cabai :')

Orang Lombok memang doyan pedas. Pikir saya waktu memakan nasi campur itu. Dari semua sayur yang ada di piring, mulai ayam yang disuwir halus, hingga tumis tauge dan sawi juga semuanya pedas. Tapi favorit saya adalah sejenis daging cacah warna hitam yang rasanya gurih dan pedas. Waktu tanya daging hitam apakah ini kepada ibu penjual, "itu daging belut, bisa makan kan?", jawabnya. Aih, bisa banget. Harga satu porsi nasi campur, telur dadar, dan teh hangat hanya Rp 15.000,00.

3. Sate Bulayak
Makanan ini adalah makanan lokal terakhir yang kami coba dalam perjalanan kemarin. Butuh perjuangan yang lumayan sebelum akhirnya bisa mencicipi. Kami harus berjalan kaki dulu malam-malam di sepanjang Jalan Pejanggik. Tidak ketemu pula. Untunglah, saya tidak hanya berdua dengan Uul saja. Tetapi ditemani pula oleh Uma dan Jati.

Kami berempat kemudian sepakat memakai jasa taksi untuk menuju ke Taman Udayana. Taman yang kata Jati adalah salah satu tempat nongkrongnya para anak muda se-Mataram ketika malam tiba. Disana banyak penjual makanan khas Lombok, termasuk salah satunya Sate Bulayak tadi.

Sebuah taman sepanjang 800 meter tepat di pinggir jalan raya menyambut kami dengan ingar-bingarnya. Puluhan muda-mudi nampak tumplek blek di sepanjang taman itu. Buat saya, Taman Udayana ini mirip dengan Galabo di Solo. Ada banyak sekali penjual makanan di sepanjang taman, mereka menyediakan tempat duduk lesehan di bawah kerimbunan pohon dan temaram lampu taman.
Suasananya hidup sekali. Ada film indie dokumenter (yang sepi penonton) tengah ditayangkan, ada yang asyik bernyanyi sembari bermain gitar, ada pula yang hanya sekedar bercakap-cakap sembari menikmati sajian kuliner disana. Iya, seperti kami.

Kebanyakan makanan yang dijual adalah sejenis penyetan dan Sate Bulayak. Kami langsung menghampiri salah satu warung yang terlihat paling ramai dan meyakinkan. Sempat kebingungan juga karena ada empat varian Sate Bulayak yang bisa dipesan: ayam, daging, jeroan dan campur. Uul memilih daging, Uma memesan ayam, sedangkan saya memesan yang campur. Jati? Barusan makan sebelum menjumpai kami katanya.

Nama Sate Bulayak, diambil dari lontong yang dihidangkan sebagai teman sate. Lontongnya unik, berbentuk panjang vertikal, berukuran kecil ramping dan dibungkus dengan daun aren. Setiap satu porsi sate biasanya akan diberikan lima buah lontong atau biasa disebut dengan sebutan Bulayak. Rasa lontongnya gurih, dengar-dengar sih gara-gara dibungkus memakai daun aren tadi. Untuk membuka lontong, terlebih dahulu kita harus membuka tali ikatan lalu kemudian menarik daun pembungkus dengan gerakan memutar dari atas ke bawah.

Sate Bulayak

Satenya? Mirip kok sama sate-sate yang ada di Jawa, cuma lebih kecil-kecil potongannya. Selain itu sambal kacangnya juga beda, lebih terasa encer, pedas, dan berminyak. Rasanya sekilas mirip bumbu yang dipakai di Ayam Taliwang atau kari. Cara memakan sate ini bisa dibilang unik, tidak ada bantuan alat makanan apapun seperti sendok atau garpu. Jadi urutan makannya: cocol bulayak ke bumbu sate, masukan ke dalam mulut, lalu disusul oleh satenya sendiri. Sekilas lebih terasa ribet memang, tapi tanpa sadar satu porsi sate di hadapan kami masing-masing sudah habis saja. Heheh. Harga sate bulayak per porsinya cukup murah, hanya Rp 15.000,00 baik untuk sate ayam, daging, jeroan atau campur.

Ayam Taliwang, Nasi Campur dan Sate Bulayak. Tiga makanan lokal dari Lombok yang membuat saya selalu merasa rindu dengan pulau tersebut. Sayang, kami baru kesampaian mencoba tiga saja dalam perjalanan kemarin. Padahal, katanya sih masih ada banyak kuliner enak yang patut dicoba selama berkunjung kesana. Baru mencoba tiga saja saya sudah merasa rindu, apalagi mencoba yang lainnya ya? :D


I always love to try local food dan Salam Kupu-Kupu ^^d

No comments:

Post a Comment