Monday, July 24, 2017

Mangunan: Bukan Sekedar Kebun Buah



Banyak orang yang manakala mendengar nama "Mangunan" lantas akan mengasosiasikan dengan kebun buahnya. Tidak salah memang, Kebun Buah Mangunan merupakan obyek wisata paling tersohor dari desa yang menjadi bagian dari Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul itu. Namun, tahukah kalian bahwa pesona Desa Mangunan bukan sekedar kebun buahnya saja? Postingan kali ini akan merangkum perjalanan saya bersama teman dalam menjelajahi desa tersebut.

Sepanjang menjadi penduduk sementara di Jogja, saya sudah dua kali berkunjung ke Mangunan. Tujuannya sama: berwisata. Pertama kali saya kesana ditemani oleh Dian - teman saya jaman KKN -yang menyambangi saya di Jogja pada pertengahan Februari lalu. Sementara, kepergian kedua saya terjadi pada akhir April kemarin bersama Kak Ivel - salah seorang teman kuliah saya kini.

Jadi, apa saja yang telah kami sambangi disana?

Kebun Buah Mangunan
Baiklah, walau sudah tersohor tapi tentu saya tak boleh melupakannya dari daftar kunjungan. Saya dan Dian berangkat sekitar jam lima pagi dari rumah indekos dengan harapan akan kebagian momen matahari terbit dan kondisi tempat yang masih sepi. Tapi kami salah, meski bukan datang pada saat weekend sekalipun, tetap saja pengunjung kebun buah ini sudah membeludak. Saya sempat mencuri dengar dari salah seorang pengunjung yang berkata: "ah, untung ya kita berangkat dari jam setengah empat pagi!". Oh, Tuhan.

Pemandangan dari Puncak Kebun Buah Mangunan. Kalau datang
lebih pagi akan disambut dengan lautan awan.

Pesona Kebun Buah Mangunan memang salah satunya terletak pada keindahan panorama pagi hari yang berlatarkan hamparan awan dan perbukitan hijau dari gardu pandangnya. Saking indahnya, banyak yang menjuluki Kebun Buah Mangunan sebagai "Negeri Atas Awan-nya Bantul". Selain itu sebagaimana namanya, tempat ini juga menawarkan sensasi memetik buah-buahan langsung dari koleksi pohon atau tanaman yang dimilikinya. Sayangnya, kegiatan ini bersifat musiman. Dan kemarin, kami datang saat tidak ada musim buah apapun. Duh!

Dian dengan awan yang sudah menghilang. Puk puk.

Price or charge: tiket masuk Rp 5.000,00 per orang, tiket motor Rp 4.000,00 per motor.

Hutan Pinus Mangunan
Masih ingat foto hutan pinus dengan panggung terbukanya yang sempat menghebohkan situs dagelan 9GAG pada akhir tahun 2016 yang lalu? Walau banyak yang menyebut Hutan Pinus Imogiri, tapi sesungguhnya tempat tersebut masuk ke dalam wilayah Mangunan. Hal itu pulalah yang sempat menjadi bahan perdebatan antara saya dan Dian. Kami yang kebingungan akhirnya memutuskan bertanya kepada penduduk sekitar dan memperoleh jawaban: "ndak ada mas, hutan pinus ya adanya di Mangunan. Kalau di Imogiri mana punya." - dengan nada suara setengah patriotis.

Kerapatan vegetasi di Hutan Pinus Mangunan

Kalau boleh jujur, tempat inilah yang menjadi favorit saya seantero Mangunan. Pemandangan hutan pinusnya yang indah dan rapi, jalanan yang serasa musim gugur ketika kami tiba, ditambah tiket masuknya yang murah meriah membuat saya langsung jatuh cinta. Sayangnya, kami tak menemukan panggung terbuka yang hits itu. Sebagai gantinya, kami justru memanjati gardu pandang atap pohon yang sedikit bikin gemetaran karena terkesan rapuh. Namun, Hutan Pinus Mangunan tetaplah yang terbaik di hati saya. Ia menenangkan, dan membuat betah untuk berlama-lama.

Siapa yang tidak betah
berlama-lama coba?

Price or charge: tiket masuk Rp 3.000,00 per dua orang, tiket motor Rp 3.000,00 per motor.

Jurang Tembelan
Dari titik ini, saya telah berganti partner: Kak Ivel. Kedatangan kami berdua bertepatan dengan libur panjang akhir pekan dan sebagaimana yang telah kami duga, Jurang Tembelan sudah penuh sesak bahkan ketika waktu masih menunjukkan jam 6 pagi. Untuk hendak berfoto saja, kami berdua harus tertib mengantri bersama puluhan pengunjung lainnya.

Kak Ivel sang sailorwoman. Eh, ada ndak sih
pelaut wanita di dunia ini?

Memang apa yang ditawarkan tempat ini? Sebenarnya, hampir sama dengan yang ditawarkan oleh Gardu Pandang di Kebun Buah Mangunan yakni panorama pagi berlatar hamparan awan dan perbukitan hijau. Tapi yang membedakan adalah gardu pandang di Jurang Tembelan berwujud moncong kapal (atau perahu?). Terkesan sedikit lebih artistik, eh?

Ada juga kapal (atau anak panah?) kecil yang bisa jadi tempat
berfoto ketika di Jurang Tembelen.

Price or charge: tiket masuk gratis, ada kotak donasi di beberapa titik, tiket motor Rp 2.000,00 per motor.

Wisata Alam Seribu Batu Songgo Langit
Waktu pertama kali membaca nama tempat ini, saya membayangkan bakalan ada banyak batu besar serupa Stonehenge di Inggris sana. Tapi ternyata, bayangan saya tidaklah tepat. Hal yang ditawarkan Seribu Batu Songgo Langit justru 11-12 dengan Hutan Pinus Imogiri.

Saya berlatar salah satu rumah ranting.

Namun, pengelola tempat wisata ini lantas menambahkan banyak fasilitas untuk berfoto seperti jembatan kayu, patung dan rumah-rumahan dari ranting kayu, hingga rumah mini ala para hobbit. Salah satu kekurangan dari Seribu Batu Songgo Langit adalah jalur setapaknya yang masih terbatas. Di beberapa spot untuk berfoto bahkan tak tersedia jalur setapak sehingga pengunjung harus berjalan melewati tanah. Apa yang salah dengan berjalan melewati tanah? Tunggulah ketika musim penghujan, maka kalian harus berhati-hati karena tanahnya berubah licin dan menempel di alas sepatu atau sandal yang kalian kenakan. Iya, seperti kami kemarin.


Kak Ivel dan jembatan. Sepanjang
pulang, banyak pengunjung yang
memanfaatkan alas jembatan ini
sebagai sarana menghapuskan sisa
tanah yang menempel di alas kaki
masing-masing. 😆

Price or charge: tiket masuk Rp 4.000,00, termasuk biaya parkir.

Thiwul Ayu Mbok Sum
Sebelum menuju ke tempat wisata selanjutnya, saya dan Kak Ivel memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Pilihan kami siang itu jatuh kepada makanan tradisional berupa thiwul yang dijual di warung "Thiwul Ayu Mbok Sum". Warung ini pasti akan kalian lewati kalau hendak menuju ke Kebun Buah maupun Hutan Pinus Mangunan.

Di warung berbentuk pendapa ini dijajakan thiwul dengan beraneka rasa, di antaranya: original, gula pasir, gula jawa, cokelat hingga keju. Thiwul sebenarnya adalah makanan pengganti nasi yang berbahan utama tepung gaplek. Darimana tepung gaplek berasal? Dari singkong yang telah dikupas, dijemur sampai kering, dan dihaluskan.

Seorang pengunjung yang datang bersamaan dengan kami menganjurkan untuk mencoba gatot - makanan tradisional lain berbahan serupa yakni gaplek. Tapi bedanya, ia difermentasikan sampai keluar jamur, lalu dipotong kecil-kecil.

Kak Ivel membawa gatot yang direkomendasikan oleh
pengunjung lain disana.

Bagaimana rasanya? Kenyang! Dua thiwul yang kami pesan: satu rasa gula pasir, sedang satunya lagi rasa keju, sama-sama tak sanggup kami habiskan. Saya prefer ke thiwul rasa kejunya karena rasa asin dan gurih benar-benar merasuk sampai ke dalam, berbeda dengan yang rasa gula pasir karena manisnya tak begitu terasa. Untuk gatotnya sendiri, teksturnya terasa kenyal dan memiliki paduan rasa antara manis, asin, dan gurih.

Pesanan kami kemarin. K-E-N-Y-A-N-G !

Price or charge: thiwul gula pasir Rp 6.000,00, thiwul keju Rp 10.000,00, dan gatot Rp 3.000,00.

Bukit Panguk Kediwung
Di antara seluruh tempat wisata yang ada di Mangunan, mungkin Bukit Panguk ini merupakan obyek wisata terjauh. Selain itu, jalan menuju kesana begitu sempit dan rusak di beberapa titik. Lagi-lagi, konsep yang ditawarkan berupa gardu pandang. Tapi meskipun demikian, gardu pandang di tempat ini beraneka macam bentuknya mulai dari kupu-kupu, kereta yang ditarik pegasus, perahu, sampai bunga teratai.

Momen ketika Kak Ivel baru menyadari ada tali yang bisa
dipakai untuk menggerakkan sayap sang pegasus,

Menurut saya, pemandangannya lebih bagus. Sungai Oyo yang aliran airnya berwarna cokelat akan terlihat dengan jelas di bawah sana. Menurut mas-mas penjaga, waktu terbaik ke Bukit Panguk adalah menjelang matahari terbit karena lautan awan akan berada tepat di bawah setiap pos gardu pandang. Kelemahan dari tempat ini selain lokasinya yang terpencil: ada biaya ekstra yang dikenakan setiap mau berfoto di pos gardu pandang, tapi kita bisa meminta bantuan mas-mas yang berjaga untuk memfotokan kita sepuasnya.

Hasil jepretan abang-abang penjaga gardu pandang.

Price or charge: tiket masuk Rp 3.000,00 per orang, tiket parkir Rp 2.000,00 per motor, tiket foto di gardu pandang Rp 5.000,00 per pos.

Telaga Kediwung
"Selamat datang, mas mbak. Kalian termasuk pengunjung pertama dari Telaga Kediwung" - sapa seorang pemuda yang berjaga tepat di depan pintu masuk sembari tersenyum. Setelah mengarahkan letak tempat memarkirkan motor, ia pun menjelaskan kembali. Menurutnya, Telaga Kediwung belum dibuka secara resmi karena para penduduk masih membangun fasilitas-fasilitas penunjang disana.

Telaga Kediwung ini kami temukan secara tak sengaja dalam perjalanan menuju Bukit Panguk. Awalnya, kami melihat sejumlah pria - baik tua maupun muda - yang tengah bekerja bakti membangun sesuatu di dekat sebuah danau. Salah seorang dari mereka yang melihat kami berhenti di pinggir jalan, menyuruh kami untuk mendekat. Kami pun mengatakan bahwa akan ke Bukit Panguk terlebih dahulu, barulah nanti setelah pulang akan mampir kesana.

Terkesan adem ya? Padahal aslinya panas luar biasa.

Dan, kami menepati janji. Selepas dari Bukit Panguk, kami benar-benar mendatangi tempat tersebut karena penasaran dengan apa yang dibuat oleh para pria tadi. Rupanya, mereka tengah membangun area dermaga di bibir telaga yang airnya berwarna hijau kecokelatan tersebut. Pemuda yang tadi menyapa kami lantas memberitahu di titik mana saja kami bisa mengambil foto, termasuk salah satunya di ujung dermaga yang ditempeli kain spanduk berupa kura-kura raksasa dengan bentuk yang (maaf) lumayan aneh. Auh!

Kura-kura yang...ah, sudahlah.

Price or charge: tiket masuk gratis, ada kotak donasi di dekat pintu masuk, biaya parkir Rp 2.000,00 per motor.


***

Mangunan memang bukan sekedar kebun buah. Walau saya sudah mengunjungi tujuh destinasi wisata selama dua kali berkunjung kesana, tapi tahukah kalian kalau masih ada banyak yang bisa dijelajahi di Mangunan? Selain takjub dengan pesona keindahan alam dan kelezatan kulinernya, saya juga takjub dengan kegigihan dan kreativitas dari para warga Desa Mangunan. Tanpa mereka semua, Mangunan mungkin tetap akan dikenal sebagai kebun buah saja, sepanjang catatan sejarahnya.


Terima kasih sudah berkunjung!

Maaf terlambat posting dan Salam Kupu-Kupu. ^^d

10 comments:

  1. Aku kalo disuruh foto begituan emoh. Dengkul pasti ngewel😭
    Tinggi banget.
    Sepanjang mangunan kayaknya udh ga kehitung saking banyaknya spot2 foto serupa.

    Mumpung libur kejar setoran postingan nih kayaknya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahahahah, kok kamu punya phobia ketinggian juga jo?
      Aku iyaa loh. Tapi semenjak sering ke tempat-tempat beginian, ketakutannya mulai berkurang. Masih takut sih, apalagi kalo pas ketemu yang strukturnya kaya rapuh gitu.

      anda benar!
      wkwk abisnya nganggur~
      Jo, temenin ke Temanggung yuuk.

      Delete
    2. ayooo kapan Sat? weekenda tapi aku bisanya :(

      Delete
    3. Iya, pas weekend aja. Eh kamu tahu Pasar Papringan?
      Kesananya nyesuaiin jadwal pasar itu aja ya, aku penasaran nah.
      Mau?

      Delete
    4. Mau banget. Minggu wage kalo ga salah, tp harus pagi2 banget karena pasarnya buka pagi hehe.
      *brb liat kalender jawa

      Delete
    5. Err nganu, kamu tinggal follow akun IG mereka aja pasti tahu kok kapan jadwal selanjutnya. Kemarin, kalo ndak salah liat paling deket itu tanggal 6 Agustus.
      Jalan-jalannya dibikin 2D1N aja kalo gitu, jo. Bahahah. :D

      Delete
    6. Iya 6 agustus ini ada.
      Boleh aja sih 2D1N. Tapi di temanggung nginep dmn ya?
      Kalo ga sih, sabtu subuh start dr salatiga gitu aja Sat. Biar sabtu sore aku ke salatiga dulu.

      Delete
    7. Ih, nyari penginapan2 murah gitu lah, Jo. Kalau ndak ngecamp di Posong. Banyak hal yang pengen aku lakukan di Temanggung, Jo. Wkwk.

      Delete