Saturday, November 4, 2017

Kulon Progo: Permata Baru Dari Daerah Istimewa Yogyakarta



Selama ini, Kulon Progo tidaklah setenar para saudaranya di Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Kabupaten Sleman atau Gunung Kidul misalnya. Namanya mungkin baru terdengar setelah pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) oleh pemerintah, dan dipersiapkan sebagai pengganti dari  Bandara Internasional Adi Sutjipto yang dinilai sudah terlalu padat. Padahal, Kulonprogo juga memiliki obyek-obyek wisata yang tidak kalah dengan saudara-saudaranya.

Akhir Bulan Agustus lalu, saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa obyek wisata di kabupaten yang namanya berarti: Di Sisi Barat Sungai Progo itu. Kunjungan tersebut tercipta akibat menemani Agam, salah seorang teman saya di Salatiga, yang kebetulan sedang ada seminar di Jogja dan meminta untuk ditemani berkeliling.

Mari berkata jujur. Tak hanya Bandara Adi Sutjipto saja yang sekarang terasa padat, mayoritas wilayah di Jogja pun sudah mulai padat. Kemacetan, apalagi ketika jam sibuk dan akhir pekan, bagaikan pemandangan yang jamak dijumpai. Kulon Progo justru terasa lebih lenggang. Belum pula keramahan penduduknya seketika mengingatkan saya pada suasana Jogja dahulu kala.

Tempat wisata yang kami datangi pertama kali adalah Kedung Pedut. Perjalanan itu memakan waktu hampir 1.5 jam dari rumah indekos saya, melewati jalanan yang mayoritas menanjak dan berkelok-kelok begitu mendekati lokasi.

Beberapa kali, saya terpaksa meminta Agam untuk turun dan berjalan kaki karena curamnya tanjakan yang harus kami lewati. Di salah satu ruas tanjakan tempat saya berhenti sambil menunggu Agam yang berjalan dari bawah, seorang pengendara motor mendadak mendekati saya.

"Mas, itu temennya pingsan loh!", katanya sambil terkekeh. Saya hanya tertawa dan melambaikan tangan tanda perpisahan. Sial, dijadikan bahan lelucon orang asing.

Namun, kondisi jalan yang sejujurnya agak menyeramkan itu termaafkan oleh pemandangan-pemandangan cantik sepanjang perjalanan. Mulai dari gunung, sawah, hingga hutan - seluruhnya terasa memanjakan mata.

Di tengah-tengah perjalanan dari YK menuju Kulon Progo
via Jalan Godean, kalian akan menemukan tiga buah gazebo
yang bisa dipakai untuk sekedar meluruskan kaki.
Pemandangannya ajib!

Kedung Pedut sendiri sebenarnya merupakan nama dari sebuah air terjun dimana ia memiliki sekitar tiga tingkatan air terjun dan beberapa kolam. Kami masih harus trekking selama sekitar seperempat jam untuk bisa sampai ke lokasi air terjun, berjalan melintasi hutan yang cukup lebat dengan diiringi oleh  suara kicau burung dan derit serangga.

Kedung Pedut dari atas, tampak tersembunyi
di tengah-tengah pepohonan.

Entah kami yang datang terlalu pagi atau berhubung itu Hari Jumat, tapi Kedung Pedut terasa sepi oleh pengunjung. Kami justru bahagia. Ini berarti kami bebas menjelajah dan bermain air sepuasnya disana. Salah seorang petugas memperingatkan kami dari tiga tingkatan air terjun yang dimiliki Kedung Pedut, tingkatan dan kolam air nomer dua merupakan area terlarang karena kedalamannya.

Kami pun mengikuti arahan dari petugas itu untuk berjalan menyusuri dari tingkatan paling atas dahulu, tempat dimana keseluruhan Kedung Pedut bermula. Berhubung masih memasuki musim kemarau, maka debit airnya tidak begitu besar. Namun, kami tetap saja terpesona oleh warna air di setiap kolamnya: warna hijau tosca yang sungguh ciamik ketika berpadu dengan warna kuning dari tebing pelindung kolam-kolam tersebut.

Salah satu kolam di Kedung Pedut. Sekedar duduk di
pinggirnya sambil menceburkan kaki saja rasanya
damai banget.

Di tingkatan air terjun terakhir yang mana sekaligus memiliki kolam renang alami sedalam dua meter, kami bertemu dengan Pak Bowo - seorang warga desa yang kini ditugaskan menjadi penjga kolam renang tersebut. Sembari beristirahat, kami menyempatkan mengobrol banyak hal bersamanya.

"Dahulu, kolam-kolam air ini selalu tertutup kabut setiap pagi. Oleh karena itulah makanya dinamakan Kedung Pedut atau kalau dalam Bahasa Indonesia berarti Kolam Kabut", kata Pak Bowo ketika saya menanyakan padanya asal mula penamaan tempat itu.

Jauh sebelum menjadi obyek wisata seperti sekarang ini, Kedung Pedut sudah menjadi sumber air utama bagi penduduk desa-desa di sekitar sana. Di kolam-kolam itulah mereka biasa mandi, mencuci, dan lain sebagainya. Kedung Pedut pun menjadi semacam pusat interaksi warga desa. Kini, pipa-pipa air sudah dibangun untuk mengalirkan air langsung menuju setiap rumah. Praktis, hanya kegiatan wisata yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat desa lah yang menjadi nyawanya sekarang.

Agam berfoto di dekat salah satu kolam.

Dari Kedung Pedut, kami memutuskan menuju obyek wisata kedua hari itu yakni Waduk Sermo. Perjalanan yang terasa mengerikan kembali kami jumpai, tapi kali ini dalam wujud turunan curam. Di salah satu ruas jalan, kami bahkan sempat jatuh karena jalanannya penuh pasir sisa perbaikan jalan.

Perjalanan dari Kedung Pedut menuju Waduk Sermo memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sebelumnya, kami sudah membayangkan akan memakan ikan air tawar sebagai menu makan siang,  tapi rencana tersebut akhirnya buyar akibat ketidaktahuan kami soal luas waduk itu. Saking luasnya, Waduk Sermo memiliki beberapa obyek wisata lain yang menjual panorama waduk dari sudut pandang berbeda-beda.

Kemarin, kami memutuskan untuk berhenti di Bukit Pethu. Lagi-lagi, tak ada pengunjung lain selain kami berdua. Seorang wanita yang bertugas menjaga loket tiket pun tampak terkantuk-kantuk. Di Bukit Pethu, terdapat tiga spot foto yang berbentuk jembatan dan rumah pohon. Untuk bisa berfoto disana, kami harus membayar lagi. Tarifnya bermacam-macam mulai dari Rp 5.000,00 hingga Rp 10.000,00.

Pemandangan Waduk Sermo dari Bukit Pethu.

Kami lantas memilih spot rumah pohon karena biayanya yang paling murah. Itu saja akhirnya hanya saya yang berfoto sebab Agam meragukan keamanan dari rumah pohon tersebut. Seluruh rayuan dan bujukan yang saya lontarkan gagal, Agam tetap kukuh tidak mau naik.

Anu mas, 17an-nya sudah lewat.

Berhubung rasa lapar begitu kuat mendera, akhirnya kami memesan makanan pada wanita petugas tadi. Ia memang sekalian memiliki warung di Bukit Pethu. Makanan yang kami pesan cukup sederhana: mie instan dengan lauk telur dan kacang atom. Meskipun begitu, kenikmatan rasanya jadi berlipat ganda sebab dimakan sembari menikmati pemandangan waduk yang disebut-sebut sebagai waduk terbaik se-Indonesia itu.

Kenikmatan tiada terkira.

Berkebalikan dari perjalan berangkat yang terasa berat dan menakutkan, perjalanan pulang dari Waduk Sermo benar-benar merupakan perjalanan yang menyenangkan. Berjalan menyusuri pinggiran waduk seluas 157 hektar dengan jalanan yang relatif datar dan mulus, membuat kami hanya bisa tersenyum bahagia sepanjang perjalanan pulang.

***

Sesungguhnya, Kulon Progo masih menyimpan banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi oleh para petualang. Kalibiru, Pantai Glagah, hingga Goa Kiskendo adalah beberapa obyek wisata lain yang dimiliki oleh kabupaten ini. Dalam perjalanan menuju Kedung Pedut saja, kami berdua menemukan banyak tempat yang terlihat menarik untuk dikunjungi. Namun niat untuk mampir kami urungkan ketika melihat pintu masuk obyek-obyek wisata itu masih tergembok rapat dan tak berpenjaga.

Terlepas dari itu, Kulon Progo sukses membuat saya jatuh hati, terutama akan keramahan para penduduknya yang sungguh luar biasa. Agam yang sering saya minta untuk turun dan berjalan kaki ketika dihadapkan pada kondisi jalan yang menakutkan, eh tetap saja ada penduduk yang menghampiri dan mengajaknya untuk naik kendaraan mereka. Duh, siapa yang tidak terharu?

Kulon Progo benar-benar mengingatkan saya pada Jogja dahulu. Asal dipoles sedikit saja, bisa jadi kabupaten ini bakal berubah menjadi permata baru dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

COST:
1. Tiket Masuk Kedung Pedut: Rp 6.000,00 per orang.
2. Biaya parkir Kedung Pedut: Rp 3.000,00 per motor.
3. Biaya parkir Bukit Pethu: Rp 2.000,00 per motor.
4. Biaya spot foto rumah pohon Bukit Pethu: Rp 5.000,00 per orang.
5. Makan (indomie, telur, kacang atom): Rp 5.000,00 per orang.

Terima kasih sudah berkunjung!

Maaf terlambat posting dan Salam Kupu-Kupu. ^^d

No comments:

Post a Comment