Sunday, November 26, 2017

Berburu Ikan Beong Dan Ayam Di Magelang



Selama kuliah S2 ini, saya memiliki semacam geng jalan-jalan yang beranggotakan saya dan lima teman sekelas. Kesamaan kesenangan akan wisata, makan, dan melakukan aktivitas-aktivitas baru membuat kami berenam menjadi begitu klop. Kebanyakan perjalanan yang saya lakukan bersama mereka terjadi secara spontan, dan begitu random. Saya ingat pernah terpaksa membolos kuliah karena mendadak diculik kelima teman segeng itu untuk menonton pertandingan sepak bola tim lokal secara langsung - satu hal yang mereka tahu baru pertama kali saya lakukan seumur hidup ini.

Ada enak dan tidaknya mempunyai geng jalan-jalan yang serba spontan seperti itu. Enaknya adalah kami cukup rutin untuk bertemu dan keluar entah kemana. Ini penting sekali sebagai penyeimbang manakala kuliah terasa begitu menyiksa. Tidaknya, karena serba spontan maka yang terjadi adalah bak adegan penculikan.

Mas Inal, salah seorang di antara kami semua yang kebetulan memakai mobil dalam kesehariannya di Jogja, bertindak bagaikan penculik utama. Kami sudah mahfum ketika tiba-tiba gawai kami berdering atau ribut di pagi hari karena ajakan keluar yang begitu mendadak. Kalau kami semua setuju, penculikan (penjemputan) pun berlangsung. Urutan korbannya sudah bisa ditebak: Mbak Ayu - saya - Mbak Sasta - Kak Ivel - dan terakhir, Mbak Nars. Saking rutinnya, kami sampai bisa mengalokasikan waktu untuk bersiap diri sesuai urutan penculikan itu.

13 September 2017 yang lalu, adegan penculikan terjadi lagi. Tujuannya cukup jelas: berburu ikan beong dan ayam di Magelang. Ini sebenarnya adalah ide yang sudah berkembang sejak lama di antara kami, tapi baru kesampaian kemarin. Pagi itu pun, saya sudah siap untuk "diculik dan menculik" teman-teman yang lain.

Ikan beong yang kami cari di Magelang bukanlah ikan hidup, tapi sudah mati dan diolah menjadi makanan lezat bernama "Mangut Beong". Awalnya kami berangkat sesuai arahan dari Mbak Ayu yang meng-klaim kalau dia sudah pernah makan mangut beong sebelumnya dan tahu rumah makan paling enak seantero Magelang.

Bergeraklah kami menuju ke sekitaran Candi Borobudur. Disana memang menjadi pusatnya penjual mangut beong. Kami menemukan satu penjual mangut beong yang persis berada di pinggir jalan besar penghubung Magelang-Purworejo.

"Eh, bukan disini. Dulu itu rumah makannya deket sama SD, terus ada pohonnya gede di halaman", kata Mbak Ayu ketika melihat rumah makan pertama itu.

Kami pun langsung membuka gawai masing-masing, mencari informasi rumah makan lain yang menjual mangut beong di sekitaran sana. Beberapa titik penjual yang nampak di google map, langsung kami datangi dan semuanya zonk. Kami malah berputar-putar di sekitar jalan besar tadi, bahkan ada satu titik yang begitu kami datangi justru berhenti tepat di rumah orang, tapi tak nampak ada aktivitas jual beli makanan.

"Ah ya sudah deh, kita balik ke rumah makan awal tadi. Kesel. Daripada nyari gak ketemu-ketemu", Mbak Ayu mulai hilang kesabaran. Kami hanya tertawa mendengarnya.

Yah, mungkin inilah rejeki dari pemilik rumah makan pertama yang kami lihat tadi. Kami berenam akhirnya berhenti dan mencoba mangut beong disana. Dua wanita langsung cekatan melayani pesanan kami. Tak hanya menjual mangut berbahan ikan beong, ada beberapa ikan air tawar lain yang bisa dipesan di Rumah Makan Mangut Beong Borobudur Asli seperti gabus, patin dan betutu.

Kalau tidak salah kami memesan 4 porsi mangut beong, 1 mangut betutu, dan 1 mangut gabus. Sekedar untuk membandingkan dan menghapuskan rasa penasaran. Saya yang kebagian mangut betutu merasakan tekstur daging ikannya padat dan sedikit keras, jadi semacam ikan yang habis digoreng setengah matang baru kemudian dimasak lagi memakai kuah santan pedas.

Mangut Beong dan kawan-kawan.

Favorit saya dari ketiga ikan itu, tetaplah mangut beongnya. Ikan beong yang merupakan ikan endemik -hanya hidup dan dapat ditemukan di- Sungai Progo, teksturnya begitu lembut dan sedikit kenyal. Daging ikan beong juga paling juara daya serapnya sehingga seluruh bumbu mangut terasa sampai ke dalam-dalam. Soal harga, semuanya tergantung bagian dan ukuran ikan yang disajikan kepada pengunjung. Kemarin kami semua habis sekitar Rp 140.000-an, sudah termasuk minum dan kerupuk.

"Hmm, gak sepedas mangut beong di warung yang aku maksud", tukas Mbak Ayu sehabis makan. Lagi-lagi, kami hanya bisa tertawa mendengarnya. Salah siapa lupa arah coba?

Perburuan kami di Magelang berlanjut dengan mencari ayam. Kembali, ayam yang saya maksud disini bukanlah ayam hidup, bahkan sebenarnya bukan ayam-ayam juga. Woh! Sudah bisa menebak maksud saya?

Iya betul, sehabis makan mangut beong kami menyempatkan mampir ke "Gereja Ayam" karena letaknya yang cukup berdekatan. Kami bahkan sudah melewati jalan menuju ke gereja tersebut saat memburu rumah makan mangut beong tadi.

Setelah membayar tiket sebesar Rp 15.000,00 per orang, kami segera dihadapkan kenyataan harus berjalan kaki menanjak agar bisa sampai ke Gereja Ayam. Tanjakannya sih sebenarnya tidak begitu curam dan panjang, cuma karena posisi kami masih kekenyangan maka rasanya jadi lebih berat dan malas-malasan.

Mbak Ayu, Mbak Nars dan Kak Ivel ngos-ngosan. 😆

Semenjak namanya semakin bergaung pasca dipakai sebagai latar film "Ada Apa Dengan Cinta 2", perubahan besar-besaran memang terjadi di Gereja Ayam. Saya masih teringat bagaimana cerita teman saya dahulu yang datang kesana saat tempat ini bak bangunan terbengkalai. "Horor" - kata teman saya waktu itu. Kini, suasananya begitu hidup karena ramai pengunjung dan beberapa fasilitas publik telah ditambahkan.

Tak banyak yang bisa kita lakukan di Gereja Ayam. Sebuah galeri foto berdiri menempati salah satu sudut lantai dasar dari bangunan rumah doa yang dibangun oleh Daniel Alamsjah pada tahun 1990 ini. Selebihnya, tak banyak yang bisa dinikmati disana.

Highlight dari Gereja Ayam terletak pada bagian atap berbentuk mahkotanya. Dari sana, kami bisa menikmati pemandangan Pegunungan Manoreh yang membentang dari sudut ke sudut. Candi Borobudur juga bisa kita lihat dari atas manakala cuaca cerah.

Pegunungan Manoreh. Cantik!

Foto bersama modal sok akrab sama pengunjung lain.

Tiket yang telah kami bayarkan tadi sudah termasuk kupon untuk cemilan tradisional. Kita bisa mengambil jatah cemilan kita dengan menunjukkan tiket kepada petugas di bagian kafe. Cemilannya sederhana: ketela goreng dengan sambal korek, dan kalau mau minum kita harus membeli sendiri. Kafe yang sepertinya dibangun dengan dana sponsor dari salah satu produk minuman ini lumayan nyaman, dan suasana terbaik menurut kami ada di lantai atas-nya.

Singkong goreng+sambal korek= nomero uno!

Kami di Kafe Gereja Ayam. 

Terlepas dari suasananya yang mulai hidup, kesan mistis masih kental terasa di bangunan yang sejatinya berbentuk burung merpati itu. Bagian ruang bawah tanahnya, to be exact, masih terasa mengeluarkan kesan yang bikin bulu kuduk berdiri. Pencahayaan ruangan yang kuning temaram semakin menambah kengerian di bawah sana. Padahal, ruang bawah tanah ini sendiri kini diperuntukkan sebagai ruang beribadah.

Apakah kalian bisa merasakan suasana horornya?

Mas Inal yang semula hendak sholat disana menjadi salah satu korbannya. Di kafe, saat yang lain sibuk mengobrol, ia lebih banyak terdiam. Pada saat kita pulang pun, ia langsung ngibrit lari ke parkiran. Saya, Kak Ivel, Mbak Nars, Mbak Sasta dan Mbak Ayu hanya bisa bertanya-tanya - ada apakah gerangan?

Di dalam mobil, barulah Mas Inal bercerita kalau ia mengurungkan niatnya untuk sholat disana sebab ketika berjalan ke ruangan sholat yang berada di ruang bawah tanah, eh mendadak ada yang mencoleknya dari belakang. Padahal, tidak ada siapa-siapa selain dirinya di ruang bawah tanah pada waktu itu. Hiiy, untung saya mengurungkan niatan untuk turun ke bawah!

Terima kasih sudah berkunjung. 

Maaf terlambat posting dan Salam Kupu-Kupu. ^^d

No comments:

Post a Comment