Sunday, December 24, 2017

Island Hopping Di 3 Pulau


Selama ini kalau berbicara soal Jakarta, saya pasti langsung terbayang tentang bangunan-bangunan tinggi menjulang, kepadatan dan kemacetan kotanya. Dua item yang saya sebutkan di akhir merupakan hal paling membuat saya frustasi saat mengunjungi sang ibukota negara kita itu. Namun, Jakarta tak pernah lelah memberikan kejutannya kepada saya. Kali ini lewat wisata alamnya.

"Ul, aku mau ke Jakarta loh. Mau ketemuan atau main bareng?", tanya saya kepada Uul - salah satu teman jalan sekaligus mantan teman sekelas ketika jaman SMA dulu pada suatu malam di Bulan Oktober.

"Ayok, bul! Tapi kemana ya? Monas, Kota Tua, Museum Nasional, atau mau ke Kepulauan Seribu sekalian?", jawab Uul sembari memberikan rekomendasi tempat wisata apa yang bisa kami kunjungi nanti.

Saya berpikir sejenak. Kepulauan Seribu? Ah, iya! Saya pernah dengar kalau kita bisa mengikuti island hopping tour atau tur mengunjungi satu pulau ke pulau lain di Kepulauan Seribu dalam satu hari saja. Saya pun segera googling dan menemukan berbagai situs penyedia jasa tur ke 3 Pulau - Cipir, Kelor dan Onrust.

"Kepulauan Seribu sounds great, ul! Kesana aja, po?", respons saya kepada Uul setelah tergiur dengan foto-foto dari berbagai situs tadi. Uul menyanggupi ujaran saya, tapi dengan syarat bahwa sayalah yang mencari dan memesan operator tur menuju kesana.

****

Hari yang ditunggu pun tiba. Jam setengah enam pagi, saya dan teman kuliah: Panji, telah berjalan kaki menyusuri jalan menuju Halte Busway Bermis. Disana, telah menanti Uul yang akan berangkat bersama kami menuju Muara Kamal - titik pemberangkatan perjalanan di 3 Pulau.

Selain kami bertiga, masih ada dua orang lagi yang ikut petualangan ini. Ada Mirtsa, teman saya dan Uul sejak SMP dan SMA, dan ada juga Risa, teman kuliah Uul dahulu yang kini bekerja di Jakarta. Baik Mirtsa dan Risa berangkat dari rumah indekos mereka masing-masing.

Dari halte perjalanan menuju Muara Kamal memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Kami harus oper busway sebanyak dua kali, lalu dilanjutkan dengan naik angkutan plat hitam menuju ke Muara Kamal. Saya kurang paham berapa ongkos pasti dari angkutan plat hitam itu. Kemarin, kami bertiga membayar sebesar Rp 20.000,00 untuk sekali jalan.

Suasana dari balik bangku pengemudi. Kalau naik angkutan ini
harus ekstra sabar dan mengalokasikan waktu agak banyak.
Pak sopirnya doyan berhenti seenak hati.

Muara Kamal sendiri sebenarnya bukanlah nama sebuah pelabuhan. Ini lebih mirip sebuah desa nelayan yang memiliki dermaga sederhana, pasar, dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Bau amis dan jalanan yang becek langsung menyapa kami begitu menjejakkan kaki disana.

Pasar ikan di Muara Kamal.

Ada sedikit drama yang memulai petualangan kami. Drama itu disebabkan oleh salah satu teman rombongan kami, Mirtsa, yang ternyata terlambat bangun dan terpaut sekitar 15-20 menitan di belakang kami semua. Saya, Panji, Uul, dan Risa mencoba meminta kebaikan hati dari para petugas tur dan tamu lain untuk menunggu Mirtsa. Kami sampai hilir mudik dengan cemas sembari menunggu kedatangan teman kami itu.

Rasa lega terasa menerpa dada begitu melihat Mirtsa yang akhirnya tiba dengan diantar seorang pengemudi ojek daring. Kami berlima pun segera menaiki kapal dan perjalanan menuju tiga pulau dimulai. Omong-omong, kami kemarin memakai operator dari Sabila Adventure karena harganya paling terjangkau dibandingkan operator-operator lainnya. Jadwal keberangkatannya bisa dilihat di website mereka, dan kalau kuota hari tidak terpenuhi akan tetap diberangkatkan meski menebeng tur lain.

Perjalanan menuju Pulau Kelor - pulau pertama yang kami kunjungi dalam tur tiga pulau itu - memakan waktu kurang lebih sekitar satu jam. Kapal kami yang nyaris terisi penuh oleh penumpang berlayar melewati berbagai pemandangan: kampung nelayan, tambak ikan, area reklamasi, hingga lautan bebas. Sesekali kapal kecil kami terombang-ambing hebat akibat dihempas ruas ombak buatan dari kapal cepat yang lewat di depan sana.

Di antara ketiga pulau, Pulau Kelor merupakan pulau yang paling mencolok mata sebab memiliki sebuah benteng pertahanan yang terbuat dari batu bata merah. Benteng ini merupakan benteng pertahanan yang digunakan untuk melawan musuh bebuyutan dari Belanda yakni Tentara Portugis.

Benteng ini bernama Benteng Martello. Martello dalam Bahasa
Italia berarti "palu". Benteng semacam ini pada awalnya memang
bermula dari Italia, tapi kemudian Inggris dan Belanda menirunya
karena kekuatan pertahanan benteng tersebut begitu luar biasa.

Benteng yang bisa kami lihat disana kemarin, merupakan satu-satunya benteng peninggalan terakhir yang masih bisa dijumpai di Indonesia. Beberapa benteng lain yang dahulu ada di Kepulauan Seribu telah hancur akibat dari peperangan, abrasi, atau Letusan Gunung Krakatau. Semoga pemerintah terus memantau kondisi benteng terakhir ini dari waktu ke waktu. Doa saya dalam hati.

Lepas dari Pulau Kelor, kami bergerak menuju ke Pulau Onrust. Di pulau ini, Bu Ayu - salah seorang petugas tur telah menyediakan makan siang untuk para tamu. Makan siang kami kali itu berupa ikan pindang bakar, sayur, tempe dan sambal. Sederhana memang, tapi kenikmatannya berlipat ganda karena dimakan setelah lelah berkeliling.

Nom nom nom!

Sehabis makan, kami memutuskan untuk berkeliling Pulau Onrust. Secara ukuran, pulau ini jauh lebih besar dibandingkan Pulau Kelor. Onrust sendiri adalah sebuah kata dalam Bahasa Belanda yang berarti tidak pernah beristirahat. Pulau ini di jaman pendudukan VOC oleh Jan Pieterzoon Coen memang dipergunakan sebagai tempat peristirahatan, gudang perbekalan, maupun pertahanan.

Keramaian yang dulu terasa ketika jaman penjajahan, kini sudah tak terasa lagi. Pulau ini diselimuti pepohonan yang cukup lebat, suasananya begitu sunyi. Beberapa hal yang bisa kami nikmati selama berada disana adalah menara pandang, museum, reruntuhan bangunan, hingga Makam Belanda. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya Pulau Onrust ketika malam datang.

Kerimbunan vegetasi di Pulau Onrust

Risa dan Mirtsa berpose di atas gardu pandang. Dari atas sana,
kami bisa melihat pemandangan yang begitu kontras: laut versus
hutan.

Salah satu Makam Belanda yang dapat kita
temukan di Pulau Onrust hingga kini.

Panji tengah beristirahat di depan salah satu museum Pulau Onrust

Pulau Cipir atau Kahyangan menjadi pulau terakhir yang kami kunjungi dalam tur tiga pulau kemarin. Kami mulai kehabisan tenaga, ternyata mengikuti tur melompat-lompat pulau seperti ini cukup melelahkan juga. Ada sekitar setengah jam-an waktu yang kami habiskan untuk sekedar duduk santai sembari mencecap minuman dingin. Kami lelah.

Setelah tenaga sedikit pulih, kami memutuskan untuk mulai berkeliling dan dari penjelajahan di Pulau Cipir, kami sepakat kalau pulau tersebut merupakan pulau paling cantik dibandingkan dua pulau sebelumnya. Pulau Cipir ini dulunya merupakan pulau pusat karantina bagi jemaah haji asal Indonesia. Waktu itu, perjalanan haji masih menggunakan mode transportasi kapal dimana sekali perjalanan dapat memakan waktu kurang lebih tiga bulan lamanya.

Uul siap menjelajahi Pulau Cipir!

Tak mengherankan kemudian banyak jemaah haji yang jatuh sakit baik dalam perjalanan berangkat maupun pulang. Sebuah kompleks bangunan sisa rumah sakit haji masih bisa kita temukan disana. Bagian favorit saya dari Pulau Cipir justru terletak pada area dermaganya dimana kami bisa menikmati pemandangan laut nan luas dengan pulau-pulau kecil berserak di kejauhan.

Puing-puing kamar mandi rumah sakit haji.


Area dermaga.

Semua hasil foto yang kami abadikan di Pulau Cipir, secara magis hasilnya bagus semua. Mirtsa bahkan sampai berkata kalau ia serasa sedang pemotretan majalah saking luar biasanya latar di pulau ini.
Hasil foto grup kami di Pulau Cipir.

Ini semua hanya bermodalkan...

tripod dan kamera smartphone.


Jam setengah tiga sore, kapal kami mulai bertolak kembali menuju Muara Kamal. Hari itu adalah hari yang melelahkan, tapi saya juga berbahagia. Bahagia karena tahu kalau Jakarta tak lagi hanya sekedar bangunan-bangunan tinggi.

Katanya: selalu ada alasan untuk datang ke Jakarta, dan saya menemukan salah satu alasan itu kemarin.


COST:
1. Trans Jakarta sekali jalan: Rp 3.500,00 per orang
2. Biaya tur: Rp 75.000,00 per orang.
3. Ongkos angkutan plat hitam Rawa Buaya - Muara Kamal (PP): Rp 40.000,00
4. Tarif ojek mobil daring Rawa Buaya - Gambir: Rp 32.000,00

Terima kasih sudah berkunjung!

Maaf terlambat posting dan Salam Kupu-Kupu. ^^d

2 comments:

  1. sebenarnya udah bosan kesini mulu..demi kau kak aku rela ketiga kalinya kesini. yeeeaaaah.

    ReplyDelete
  2. Bahahah minta alamatnya siis, mau kirim piring canteek. 😂

    ReplyDelete