Friday, January 5, 2018

Kebumen Part 1: Semalam Di Gombong



" Hah? Serius ul mau ke Kebumen? Ayo aku temani! ". 

Kata saya pada suatu waktu di Bulan Oktober tahun lalu. Saya memang telah lama mengincar Kebumen - nama kabupaten dan kota yang terletak di barisan selatan Provinsi Jawa Tengah ini. Terlepas banyak saudara dari Papa saya yang tinggal disana, tapi entah kenapa saya ingin sekali menjelajah daerah tersebut tanpa harus merepotkan mereka semua. Kesempatan itu akhirnya datang bersamaan dengan permintaan Uul untuk menemani menghadiri pernikahan salah seorang sahabat karib jaman kuliahnya dulu.

26 Oktober 2017, saya dan Uul sudah sepakat akan bertemu di Stasiun Gombong. Kami memang menggunakan dua mode transportasi yang berbeda. Uul memakai kereta Jakarta-Yogyakarta, sementara saya menggunakan motor dari Yogyakarta. Perjalanan Yogyakarta-Gombong sendiri kurang lebih memakan waktu selama tiga jam, melewati Jalan Raya Daendels yang  berupa trek lurus dari awal sampai akhir. Kalian harus ekstra hati-hati kalau melewati jalan itu, banyak insiden kecelakaan terjadi karena kombinasi dua hal ini: mengantuk dan mengebut.

Sehabis mengisi perut pada sebuah Rumah Makan Padang paling tidak enak seumur hidup saya, kami berdua akhirnya memulai petualangan di daerah yang dulunya dijadikan tempat pelarian Pangeran Mangkubumi pada 26 Juni 1677 - masa ketika Kerajaan Mataram berada di bawah kepemimpinan kelam Sunan Amangkurat I.

Menyapa Sang Benteng Merah
Gombong, nama sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen yang memiliki luas hampir setara dengan Kota Kebumen, tercatat memiliki banyak destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Di Gombong inilah, saya dan Uul memulai petualangan. Tujuan pertama kami, tak lain dan tak bukan, mengunjungi Benteng Van der Wijck - sang benteng merah termahsyur itu.

Siang itu, kami berdua adalah satu-satunya pengunjung yang mendatangi Benteng Van der Wijck. Awalnya, saya pikir mungkin gara-gara harga tiketnya yang terbilang mahal sebab berupa tiket bundling antara tiket masuk, kereta atas atap, dan kolam renang. Namun setelah bertanya pada petugas, memang ketika hari biasa, pengunjung benteng itu bisa dihitung dengan jari.

Padahal, benteng ini sebetulnya sangat menarik. Selain warna merahnya yang mencolok mata, kondisi benteng juga terlihat terawat. Ini hal yang cukup langka, mengingat banyak bangunan bersejarah di Indonesia yang akhirnya dibiarkan terbengkalai begitu saja oleh Pemerintah Daerah masing-masing.

Karena sepi, kami jadi bebas berekspresi. 

Ini lorong-lorong di Benteng Van der Wijck.

Tempat favorit saya untuk menikmati Benteng Van der Wijck terletak di lantai duanya. Disana banyak terdapat jendela-jendela besar yang bisa kita gunakan untuk meneropong halaman maupun sisi lain benteng. Omong-omong, tahukah kalian kalau benteng yang dibangun pada abad ke 18 ini adalah satu dari dua benteng berbentuk segi delapan yang ada di seluruh dunia? Kurang keren apa coba?

Mengintip dari lantai dua.

Kalau ingin memakai tiket kereta, dari lantai dua, kita bisa langsung naik ke lantai paling atas. Saya kurang tahu apakah dulunya rel kereta memang sudah ada mengelilingi atap benteng, tapi untuk keretanya sih hanya kereta mini serupa kereta-kereta di pasar malam. Not really worth trying, to be honest.

Kereta keliling atap. Nothing to see, hanya genting-genting
sepanjang perjalanan.


Menilik Rumah Masa Kecil Sang Ratu Industri Kecantikan Indonesia



"Rumah ini bukan hanya bersejarah, tapi merupakan bakti kami kepada Gombong, Kebumen dan kota sekitar".


Kutipan tersebut saya dapatkan ketika mengunjungi situs tempat wisata yang dikelola oleh grup industri kecantikan itu. Ada yang sudah bisa menebak saya sedang berbicara tentang apa? Yap, saya berbicara soal Roemah Martha Tilaar. Kutipan di atas merupakan kata-kata langsung dari Dr. (HC). Martha Tilaar, salah seorang wanita pengusaha sukses yang tak hanya dikagumi di Indonesia sendiri melainkan juga oleh dunia internasional.

Kami ditemani oleh seorang pemandu untuk berkeliling di rumah masa kecil Martha Tilaar yang terletak tak jauh dari Benteng Van der Wijck ini. Oleh karena kami hanya berdua, saya dan Uul lantas digabungkan dengan rombongan adik-adik SMA yang tengah mendapatkan tugas dari gurunya untuk memetakan tempat bersejarah di Gombong. Duh, saya berasa uzur.

Uul dan sekawanan abege tengah mendengarkan penjelasan
dari pemandu kami.

Rumah bergaya Belanda yang kurang lebih dibangun pada tahun 1920 itu baru diresmikan oleh Martha Tilaar sebagai tempat wisata pada Desember 2014 lalu. Sebelum diperbaiki dan dipugar, rumah ini sudah bagai rumah hantu saja. Untunglah, Martha Tilaar masih teringat akan janjinya dalam berkontribusi terhadap tanah kelahiran. 

Uul. 26 yo. Jakartaa. *teriak ala-ala
Putri Indonesia* 😆

Sederetan foto-foto yang terpampang di dinding menjelaskan silsilah dan sejarah dari seorang Martha Tilaar. Rumah ini sebenarnya milik Liem Siauw Lam (Liem Solan) salah satu pengusaha sukses di jamannya, yang sekaligus merupakan kakek dari Martha Tilaar. Sejak kecil, Martha Tilaar memang menghabiskan waktu bersama kakek-neneknya, dimana jiwa berdagang dan bertanam obat-obatan ia dapatkan dari sang nenek.

Barang-barang peninggalan keluarga Liem, mulai dari altar sembahyang, gramofon, keramik, senjata, hingga gaun pengantin, masih tertata rapi di rumah tersebut. Kami juga diperbolehkan memasuki beberapa kamar peninggalan mereka, walau tak menampik kalau suasana menyeramkan, masih terasa di beberapa tempat.

Kosmetik jaman old.

Pengen punya deh. Lucu!

Mencoba bersantai ala
Keluarga Liem.

A lesson learned. Pelajaran yang bisa saya petik setelah mengunjungi Roemah Martha Tilaar adalah mengenai "pay back" atau balas budi. Kelak, sejauh apapun kita merantau, atau sesukses apapun kehidupan kita nantinya, kita harus tetap mengingat tanah kelahiran atau kampung halaman. Bagaimanapun, disanalah bibit-bibit karakter kita terbentuk, dan terus akan kita bawa sampai kapanpun.

Mencicipi Sate dan Gule Bebek Pak Imam
Sehabis drama pencarian hotel murah berakhir, kami beranjak untuk mencari makan malam di Gombong. Inginnya sih mencari sesuatu yang khas, tapi ternyata tak ada satupun penjual makanan berat khas yang bisa kami temukan disana setelah ber-googling ria. Dengan bermodal nekat, akhirnya kami langsung saja keluar dari hotel. Nanti kalau ketemu sesuatu yang menarik mata, datangi saja. Prinsip kami waktu itu.

Setelah melewati puluhan penjual bakso dan lesehan ala Lamongan, Alhamdulillah, kami menemukan satu warung dengan menu yang cukup berbeda di antara yang lainnya. "Sate dan Gule Bebek" terpampang pada baliho penutup warung sederhana di pinggir Jalan Nasional III Gombong Barat itu.

Sebagai sarana memperbandingkan, saya dan Uul memesan dua menu berbeda: sate dan gule. Sejujurnya, saya tak sabar ketika menanti makanan kami diantar di meja. Bagaimana tidak, biasanya kan sate atau gule berbahan daging ayam, sapi, atau kambing. Lah, ini pakai daging bebek yang terkenal agak rewel untuk diolah.

Incip sana, incip sini. Fix! Favorit saya jatuh kepada satenya. Daging satenya masih kenyal, padahal sudah matang sempurna. Potongan timun dan tomat yang dipotong kotak menambah kenikmatan satenya. Sementara, daging bebek di gule masih terasa alot, meski kuahnya terasa segar sebab tidak terlalu banyak memakai santan. Namun, saya patut memuji, aroma amis yang selama ini masih terasa ketika mengolah daging bebek sudah hilang tak bersisa.

Sate dan Gule Bebek.


Kehangatan di Warung Mendo
Hujan deras tiba-tiba mengguyur dalam perjalanan pulang sehabis makan sate dan gule bebek. Untungnya, mata saya cukup awas dan sempat melihat sebuah warung mendo (tempe yang dibalut tepung terigu lalu digoreng, pada beberapa tempat lebih dikenal dengan sebutan mendoan) yang berada di depan Pasar Wonokriyan. Pasar itu terletak tak begitu jauh dari hotel tempat kami bermalam, bahkan hanya terpisah sebuah jalan raya besar saja.

Saya dan Uul langsung disambut ramah dengan bapak dan ibu pemilik warung tenda itu. Sang ibu langsung cekatan membuka bungkusan tempe dan menyiapkan adonan ketika mendengar kami hanya hendak mencicipi mendo saja. Selain mendo, warung ini sebenarnya menyediakan kopi, pisang goreng, nasi sayur, dan indomie. Berhubung kami baru saja makan besar, maka mendo saja yang kami pesan kemarin.

Si ibu tengah beraksi menggoreng tempe mendo.

"Sambel apa cikit?", tanya si Ibu ketika mendo kami sudah matang dan ditiriskan. Saya dan Uul hanya saling memandang. Cikit? Sang bapak ikut berkata "cikit, cikit" seolah-olah kami dirasa kurang mendengar perkaataan ibu tadi. Ada keheningan lama di antara kami berempat. Saya dan Uul tak mengerti. 

Tak lama, sang ibu kemudian memeragakan memakan cabai rawit hijau dengan giginya. Oalah! Kami akhirnya paham! Cikit ternyata istilah di daerah sana untuk menjelaskan melahap gorengan dengan cabai mentah. Kami berempat pun hanya bisa menertawakan kegagapan bahasa yang terjadi di antara kami.

Sembari menunggu hujan reda, sang bapak dan ibu pemilik warung menemani bercerita macam-macam. Sang bapak dengan bangga berkata "tempe mendo!" begitu saya bertanya makanan khas apa yang bisa kami jumpai selama berada di Gombong.

Ah iya, tempe mendo mungkin adalah salah satu makanan khas yang paling jamak dijumpai di Gombong, Kebumen, bahkan seluruh Karisidenan Banyumas. Ukuran tempe mendo yang disajikan di warung ini, jelas lebih besar dibandingkan mendoan-mendoan yang kerap saya beli di Salatiga atau Jogja, mungkin 1,5 atau 2 kali lebih besar. Selain itu, perbedaan juga terdapat pada tingkat kematangannya, yakni terigu di tempe mendo masih digoreng basah atau digoreng setengah matang. Dan sumpah, itu terasa nikmat sekali manakala dimakan panas-panas bersama sambal korek (sambal dengan bahan cabai, bawang putih, dan bawang merah mentah yang kemudian ditaburi minyak panas sisa penggorengan).

Uhlala!

Obrolan demi obrolan terus terjalin di antara kami, dan membuat hati saya mendadak hangat. Terkadang, keramahan penduduk lokal paling mudah ditemukan justru dari para pedagang makanannya. Ini sudah sering saya alami ketika berjalan-jalan. Entah karena kita sebagai pembeli dianggap sebagai "raja" yang patut dihormati, tapi seringnya saya justru merasa terbantu sekali dengan keramahan dan ketulusan mereka. 

Ketika hujan deras mulai berubah menjadi gerimis tipis, kami pun memutuskan pulang dengan membawa tentengan sejumlah tempe mendo yang dibungkus.

****


Ah bungkusan itu, akhirnya kami berikan kepada para petugas hotel tempat kami bermalam. Mereka dengan santainya menggelar kursi-kursi kecil dan bercengkerama sambil menyesap rokok atau meminum kopi tepat di depan kamar kami. Saya kurang tahu itu kebiasaan mereka setiap malam, atau memang hari itu adalah hari spesial, tapi yang jelas kehadiran mereka justru memberikan keamanan bagi kami.

"Terima kasih ya mas", kata mereka kompak ketika menerima bungkusan tempe mendo itu. Saya hanya tersenyum membalasnya. Dan kembali, rasa hangat itu seketika muncul, dari dalam hati ini.



Cost:
1. Makan Nasi Padang: Rp 13.000,00
2. Tiket masuk Benteng Van der Wijck: Rp 25.000,00
3. Tiket masuk Roemah Martha Tilaar: Rp 15.000,00
4. Makan sate dan gule bebek: total Rp 31.000,00. Dibagi 2 maka Rp 15.500,00 per orang.
5. Tempe mendo 6 biji: @Rp 3.000,00. Total Rp 18.000,00. Dibagi 2 maka Rp 9.000,00 per orang.
6. Biaya Hotel Graha Putra (kamar standar, non AC, kamar mandi dalam, TV): Rp 100.000,00.
TOTAL PENGELUARAN HARI 1: Rp 177.500,00


Terima kasih sudah berkunjung!

Selamat Tahun Baru dan Salam Kupu-Kupu. ^^d

4 comments:

  1. aaaaakh dua tempat ini wislistku sejak lamaa. gak ajak-ajak kamu Sat :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahah laah kamu juga ndak bilang o, jo.
      Ayolah kesana lagi, tapi nanti ya kalau udah ndak musim ujan. :p

      Delete
  2. makasi ya bul sudah menemani ke Kebumen (sok swit).
    paling ngga banget adalah naik kereta di van der wick...liat genteng doang ya kaaan...tp puas foto2 karena sepiiii.
    Martha Tilaarnya keren tapi mistis. sate dan gulai bebeknya B ajah. Tempe mendonya juaraaaaaa...apalagi dimakan pas gerimis2 syahdu gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah iyaa kaan, zonk abis pokoke. Kirain bisa liat pemandangan apaan dari atas beteng, taunya cuma genteng. 😄


      couldn't agree more soal tempe mendo-nya. terbaek dah itu.🙏

      Delete