Monday, January 8, 2018

Pekalongan: Bukan Sekedar Batik



Kota Batik. Itu mungkin jawaban yang diberikan oleh kebanyakan orang ketika ditanyai pendapat mereka mengenai Pekalongan. Hal ini sebenarnya wajar saja terjadi mengingat branding besar-besaran yang dilakukan oleh Pemerintah terhadap Kota Pekalongan adalah soal batik. World City's of Batik, katanya. Batik Pekalongan sendiri memang salah satu noktah penting dalam dunia perbatikan Indonesia. Disanalah melting pot dari penduduk asli dengan bangsa asing lainnya, seperti Tiongkok, Belanda, Arab, Asia, Melayu serta Jepang. Pembauran antar bangsa yang telah berlangsung sejak jaman lampau inilah lantas menghasilkan apa yang kita kenal dengan Batik Pekalongan kini. Batik yang terkenal akan keragaman corak dan kecerahan warnanya.  

Dalam hari kedua kunjungan keluarga kami di Pekalongan, Museum Batik menjadi salah satu obyek  wisata yang tak luput saya sambangi bersama kakak dan adik. Rasanya, jalan-jalan ke Pekalongan kurang lengkap kalau tidak berkunjung ke Museum Batik. Branding pemerintah berhasil, setidaknya untuk kami.

Dengan tiket masuk yang terbilang murah, hanya Rp 5.000,00 per orang, kami bisa melihat keindahan aneka corak batik (baik Batik Pekalongan atau batik dari daerah-daerah lain) yang tersaji di berbagai ruang pamernya. Saya sendiri langsung merasa beruntung. Bisa sedekat itu dengan banyak karya seni yang tak ternilai harganya, sungguh memberikan kepuasan batin. 

Suasana salah satu ruang pamer di Museum Batik. Cakep!

Dan mari kita sudahi pembahasan soal Batik Pekalongan sebab sebagaimana judul dari postingan ini, Pekalongan bukan sekedar batik. Saya malah akan mengajak kalian semua untuk mengenal Pekalongan lebih jauh melalui kekayaan kulinernya. Apakah kalian siap?

Mencicipi Nasi Megono Modif di Warung Pojok
Nasi Megono adalah makanan khas yang dengan mudah akan kita temui manakala sedang mengunjungi wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah yang meliputi Pekalongan, Batang, dan Pemalang. Namun, Kota Pekalongan adalah pusat sekaligus titik mula dari makanan yang konon dulunya digunakan sebagai persembahan bagi Dewi Sri - dewi kesuburan di kalangan Hindu Jawa, Sunda, maupun Bali.

Sego Megono, begitu masyarakat Kota Pekalongan, lebih sering menyebut menu makanan yang terdiri dari nasi ditambah sayur nangka muda yang dicacah dan dicampur dengan parutan kelapa itu. Biasanya, sego megono dijual dalam bungkusan yang dibungkus memakai daun pisang atau jati.

Kemarin, kami mencoba sego megono di Warung Pojok yang terletak sekitar 50 meter dari Stasiun Pekalongan. Sego megono yang kami coba terbilang sego megono modif karena sudah disajikan di atas piring dan bisa bebas memilih lauk yang kami mau. Ada beraneka lauk yang ditawarkan oleh warung yang selalu ramai setiap jam makan siang ini, mulai dari telur, ayam, hingga kikil.

Nasi megono dengan lauk kikil.

Saya memesan sego megono setengah porsi ditambah lauk kikil. Rasanya lumayan enak, apalagi kalau dimakan bersama tempe mendoan yang tepungnya setengah matang dan masih hangat. Bah, kenikmatan hakiki! Satu porsi sego megono di Warung Pojok dibanderol sebesar Rp 7.000,00 - Rp 15.000,00 tergantung lauk yang dimakan.

Sop Kaki Kambing Haji Khusni yang Bikin Blenger
Alun-Alun Kota Pekalongan menjadi markas dua lapak sop kaki kambing Haji Khusni. Sop kaki kambing ini aslinya bukan berasal dari Pekalongan, melainkan dari Jakarta. Namun, sop kaki kambing Haji Khusni telah ikut meramaikan khazanah kuliner Pekalongan sejak lama.

Para pekerja lapak sop kaki kambing
tengah menyiapkan makanan.

Dalam satu mangkok sop kaki kambingnya, selain terdapat potongan kaki kambing, terdapat pula potongan daun bawang, kentang rebus, tomat muda, dan emping.  Kuah sop kaki kambingnya sendiri berupa kuah kaldu yang terbuat dari tulang-tulang kaki kambing dicampur dengan santan kental. Untuk menambah cita rasa dari kuahnya, kita bisa menambahkan dengan sambal dan kecap sesuka hati.

Sop Kaki Kambing H. Khusni

Mblenger. Sebenarnya, sop kaki kambing itu enak, tapi lama-lama bikin eneg. Saya yang memesan nasi setengah porsi saja, rasanya butuh waktu lama untuk menandaskan semua makanan di depan saya. Ya bagaimana tidak eneg, kalau harus memakan daging, kentang, dan nasi secara bersamaan. Pakai kuah santan pula. Haduh!

Lain kali, kalau kesana lagi saya pasti akan memesan sop kaki kambing tanpa memakai nasi. Kalau tidak pesan satu sop untuk dua orang, karena porsinya lumayan besar. Satu porsi sop kaki kambing disini dijual seharga sekitar Rp 28.000,00 - Rp 30.000,00 per porsinya.

Serba Ada di Rumah Makan Mbak Julaikha
Keluarga kami tergoda untuk mampir ke rumah makan berdinding warna hijau ini akibat melihat keramaian pengunjung di malam sebelumnya. Kami baru kesampaian untuk mencoba langsung makanan di rumah makan itu pada siang hari di hari selanjutnya. 

Saat itu, hanya kami sekeluarga yang makan disana dan begitu masuk kami dibingungkan hendak memilih apa saking beragamnya makanan yang ditawarkan. Kabar baiknya, kebanyakan makanan merupakan makanan khas Pekalongan. Sebut saja: soto tauto, nasi megono, hingga garang asem balungan.

Saya tentu saja memilih garang asem balungan. Surprisingly, tampilan garang asem balungan sungguh berbeda dengan garang asem-garang asem yang pernah saya makan sebelumnya. Kalau biasanya, garang asem itu dibungkus dengan daun pisang, berkuah santan yang kemudian diberikan potongan cabai dan belimbing wuluh.

Tapi, garang asem balungan benar-benar berbeda. Makanan ini disajikan di atas mangkok, berkuah hitam pekat mirip rawon, dan di dalamnya selain balungan daging sapi adalah potongan tomat, daun bawang, irisan seledri, taburan bawang merah goreng, dan satu buah telur rebus masak kecap. Soal rasa? Jangan ditanya. Saya rasa semua makanan berbahan daging pasti enak. Yang jelas garang asem balungan ini tidak bikin eneg.

Garang Asem Balungan. Seharusnya, makan ini saja
tanpa pakai nasi pun sudah kenyang. 

Selain itu, saya juga sempat mencicipi soto tauto yang dipesan oleh adik saya. Sejujurnya, saya tidak begitu suka dengan soto tauto. Saya tidak cocok dengan tautonya. Buat saya, tauto (atau tauco - sejenis bumbu masakan yang terbuat dari kedelai fermentasi) itu memberikan getir-getir yang aneh di mulut, belum efek lengket dan berminyaknya yang bakalan tersisa di lidah. Argh. 

Soto tauto. Ampun jenderal!

Sate tauto di Warung Makan Mbak Julaikha menggunakan daging sapi, dimana satu porsi soto tauto berisikan bihun, tauto, kecambah, potongan kubis, dan daun bawang. Kuahnya merah merona dan tampak berminyak. Satu sendok mencoba milik adik, saya langsung berhenti. Tetap favorit saya adalah garang asem balungannya. Ahahah. 😆

Satu porsi garang asem balungan pada warung makan yang beralamat di Jalan Gajah Mada ini bisa ditebus dengan membayar sekitar Rp 18.000,00 - Rp 20.000,00, sementara satu porsi soto tautonya dihargai sebesar Rp 13.000,00 - Rp 16.000,00.

***

Bagaimana? Pekalongan bukan sekedar soal batik saja, bukan? Percayalah, masih ada banyak kuliner khas yang bisa dicoba di Pekalongan seperti pindang tetel, lontong lemprak, kopi tahlil, dan lain sebagainya. Kemarin, kami baru kesampaian mencoba sego megono, sop kaki kambing, garang asem balungan dan soto tauto saja. Namun, saya berjanji akan mencoba kuliner-kuliner lainnya ketika diberikan kesempatan untuk mengunjungi Kota Batik itu lagi. 


Maaf Terlambat Posting dan Salam Kupu-Kupu. ^^d

2 comments: