Saturday, January 6, 2018

Kebumen Part 2 - Tentang Waduk, Pantai Dan Sate



Pagi pukul setengah enam pagi kurang, saya dan Uul terbangun dengan suatu kenyataan pahit: awan mendung tebal telah bertengger manis di atas langit Gombong. Rencana awalnya, kami hendak mencoba menikmati momen matahari terbit dari Waduk Sempor - tempat terbaik untuk menikmati sunrise  seantero Kebumen versi pemandu Roemah Martha Tilaar yang kami jumpai kemarin. 

"Bagaimana nih, Ul?", tanya saya kepada Uul yang tampak masih mengumpulkan nyawa.

"Ya sudah sih, bul, coba saja dulu!", jawab teman saya sambil memakai helm di kepalanya.

Hmm. Baiklah, mari kita coba dulu.

Baru seperempat perjalanan menuju Waduk Sempor, yang saya khawatirkan terjadi, hujan kembali turun dengan derasnya. Saya langsung membelokkan motor ke arah salah satu warung pinggir jalan yang belum beroperasi, sekedar untuk berteduh. Hujan pagi itu mempermainkan kami. Mendadak hujan reda dan membuat kami semangat untuk melanjutkan perjalanan. Namun, baru 5 menit berjalan hujan deras kembali menghadang. Ah, sial. Kami akhirnya sepakat untuk balik arah dan memutuskan untuk berangkat lebih siang saja. Selamat tinggal sudah, matahari terbit.

Waduk Sempor Tanpa Matahari Terbit
Jam sembilan pagi, kami kembali menyusuri jalan menuju Waduk Sempor. Kali ini cuaca terlihat aman, gumpalan awan mendung yang sebelumnya menutup rapat langit Gombong telah menghilang entah kemana. Jalanan terasa begitu lenggang akibat kami sudah melewati waktu sibuk penduduk untuk berangkat sekolah dan bekerja.

Asri. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan manakala menyusuri jalan menuju Waduk Sempor. Pemandangan sawah, kemudian hutan, berpadu mesra dengan deretan pegunungan hijau yang berdiri di kejauhan. Saya mendadak melupakan kekecewaan akibat gagal menyaksikan matahari terbit pagi tadi.

Berbekal arahan Google Maps, saya dan Uul sempat tersesat sedikit. Titik Waduk Sempor yang ditunjukkan oleh aplikasi ternyata berada di tengah-tengah danau, tentu tidak mungkin kami mengikutinya dengan memakai motor. 

Kami pun kembali meraba-raba beberapa papan petunjuk yang ada disana. Sedikit membingungkan memang, apalagi semua papan menunjukkan nama "Sempor" tapi dengan embel-embel berbeda, seperti: balai reservoir, PLTA, hingga kantor pengelola. Pertanyaannya: bagian mana yang dibuka untuk wisatawan? 

Setelah berputar, kami akhirnya memutuskan untuk berhenti tepat di area bertuliskan "Area Parkir Waduk Sempor". Area parkir ini berada di bawah semacam kantor atau gedung pertemuan dengan pintu portal yang tertutup rapat-rapat. 

Ada jalan tembus kecil di sebelah area parkir yang bisa kami ikuti untuk sampai pinggir waduk seluas 275 hektar ini. Jalan tembus itu kalau ditelurusi sampai ujung akan membawa ke arah pos pengamatan ketinggian dan pintu air. Namun, saya dan Uul memutuskan hanya bersantai di titik-titik awal jalan tembus itu saja.

Waduk Sempor pagi itu.

Di titik awal tersebut, terdapat semacam area pandang berpagar besi berwarna biru serta balok-balok beton yang bisa dipakai untuk menikmati pemandangan waduk yang dibangun selama kurang lebih 20 tahun itu. Waduk yang pernah jebol pada tahun 1967 dan memakan korban jiwa sebanyak 127 orang ini kemarin airnya tampak berwarna kehijauan. Sesekali perahu para pemancing melintas membelah ketenangan permukaan airnya.





Berlumpur Menuju Pantai Suwuk
Berhubung tak banyak yang bisa kami lakukan di area Waduk Sempor, Uul mengajak saya untuk pindah lokasi. Ia mau melihat pantai, katanya. Setelah googling singkat, kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Suwuk yang jaraknya paling dekat sebab siang nanti kami harus sudah berada di lokasi pernikahan sahabat Uul.

Perjalanan menuju Pantai Suwuk terasa bagaikan mimpi buruk. Di awal sih mending karena masih mulus, tapi begitu mulai setengah hingga akhir perjalanan, saya hanya bisa melajukan motor pelan-pelan sembari merapalkan doa. Bayangkan saja, sudah jalannya sempit, rusak disana-sini, banyak kendaraan berat lalu lalang, dan dapat bonus genangan lumpur akibat hujan yang turun tadi pagi. Motor matic saya yang berangkat dalam keadaan bersih, pulang-pulang bagaikan habis dipakai membajak sawah. Duh.

Kondisi Pantai Suwuk, mohon maaf, 11-12 dengan kondisi jalanan menuju kesana. Kesan kumuh langsung menyapa akibat melihat banyaknya genangan air dan sampah yang berserakan. Ah, pantas saja tadi bapak penjual bensin yang kami jumpai menyarankan untuk mengunjungi Pantai Menganti  karena lebih bersih dan bagus.

Air pantai yang berpasir hitam ini kemarin berubah warna menjadi kecokelatan mirip susu cokelat kental. Kami berasumsi pasti lagi-lagi akibat hujan tadi pagi. Ombaknya juga terlihat cukup ganas menerpa, khas pantai-pantai di garis selatan Pulau Jawa. Meskipun demikian, beberapa pemancing dan nelayan tampak santai mencari ikan disana.


Pantai Suwuk dan Ombak Milo-nya.

Uul berlatar air milo. 😁

Deretan penjual makanan di Pantai Suwuk.

Untuk mengobati kekecewaan dan rasa lelah menuju kemari, saya dan Uul mendadak kalap makan disana. Dua porsi mie instan plus telur dan sayur, tempe mendo jumbo (iya, bahkan lebih besar dari yang kami pesan kemarin malam), ditambah seporsi udang goreng crispy kami tandaskan sembari duduk santai pada kursi bambu di bibir pantai. Ah, food can heal everybody!

Seafood crispy! Per piring dijual Rp 10.000,00.

Hasil Kalap.


Sate Ambal: Hidangan Penutup Dalam Penjelajahan Kebumen
Walau perut sebenarnya masih kenyang pasca icap-icip hidangan di pernikahan sahabat Uul, tapi ini tidak mengurungkan niat untuk mencicipi makanan incaran kami bersama semenjak sampai di Kebumen. Yap, Sate Ambal!

Untuk bisa mencicipi makanan itu, kami harus berkendara balik melewati Jalan Raya Daendels yang lurus lempeng macam rambut sehabis di-rebonding. Untungnya sih, kami memang harus melewati jalan tersebut kalau mau balik ke Yogyakarta.

Begitu memasuki Kecamatan Ambal, penjual Sate Ambal akan dengan mudahnya kita temukan di kanan-kiri jalan. Satu yang paling tersohor adalah warung milik Pak Kasman - tokoh perintis kuliner tersebut yang konon sudah berjualan sejak tahun 1970-an.

Sayangnya, kami kemarin justru berhenti bukan di warung milik beliau, tapi malah di warung sate milik anaknya yang berdiri persis di seberang jalan. Ah, masih berhubungan darah ini. Semoga tidak ada perbedaan yang cukup mencolok. Batin saya dalam hati.

Ada dua macam Sate Ambal yang bisa kita pesan: ayam atau kambing. Seperti biasa, kami memesan dua menu yang berbeda untuk sekedar memperbandingkan. Ada yang tahu apa perbedaan Sate Ambal dengan sate-sate lainnya? Tepat! Perbedaan itu terletak pada sambalnya.

Kalau kebanyakan sambal sate memakai bumbu kacang yang manis dan kental, tapi sambal sate ambal justru terkesan encer dan tidak terlalu manis. Pasalnya, bumbu sambal bukanlah menggunakan kacang tanah, melainkan dari tempe rebus yang dihaluskan. Rasa sambalnya pun berubah menjadi lebih gurih dan sedikit pedas.

Enak banget! Frase itulah yang langsung terpikir di otak begitu memakan Sate Ambal, baik yang terbuat dari daging ayam maupun kambing. Dua-duanya sama-sama enak. Potongan daging ayam kampung yang tersemat di tusuk sate ukurannya besar, dan entah penjualnya kemarin salah hitung atau tidak, tapi satu porsi Sate Ambal Ayam yang kami pesan jumlahnya sekitar 13-15 buah. Bukan 10 seperti seporsi sate pada umumnya.

Sate Ambal yang uenak tenan!

Bagaimana dengan yang daging kambing? Selain daging kambing telah dilepas dari tusukannya dan tambahan potongan dadu timun, rasanya tak ada perbedaan yang mencolok di antara sate ayam dan kambing. Sama-sama enak, sama-sama empuk, sama-sama mengenyangkan. Tidaklah salah kalau kami menjadikan Sate Ambal sebagai hidangan penutup kami dalam penjelajahan di Kebumen. Endes!

***

Overall, saya cukup berbahagia dalam petualangan saya menjelajahi Kebumen bersama Uul kemarin. Saya tak menampik komentar kalau Kebumen memang dirasa lebih mahal untuk dijelajahi akibat harga tiket masuk tempat wisata, serta harga makanan khasnya. Namun, buat saya sih, terutama soal makanan, rasanya sepadan dengan ukuran atau porsi yang ditawarkan.

Jangan mengkhawatirkan persoalan hendak menginap dimana bagi kalian yang memang sedang travel on budget, sebab ada banyak hotel-hotel murah dengan tarif termurah Rp 60.000,00 yang bisa kalian temukan disana. Pesan saya cuma satu: hati-hati saja dengan kondisi jalanan disana. Selain banyak kendaraan besar, kondisi jalan yang tidak bisa diduga juga patut menjadi perhatian. Jangan sampai terlena! 😆

COST:
1. Tarif Parkir Waduk Sempor: Rp 2.000,00.
2. Tiket masuk Pantai Suwuk: Rp 5.000,00 per orang.
3. Makan di Pantai Suwuk: Rp 37.000,00 dibagi dua maka Rp 18.500,00 per orang.
4. Makan Sate Ambal (1 porsi sate ayam, 1 porsi sate kambing, 2 porsi ketupat, dan 2 minuman): Rp 57.000,00 dibagi dua maka Rp 28.500,00 per orang.
Total Pengeluaran Hari Kedua: Rp 54.000,00
PENGELUARAN AKHIR PER ORANG*: Hari Pertama + Hari Kedua: Rp 177.500,00 + Rp 54.000,00 = Rp 231.500,00

*) Harga di atas belum termasuk biaya bensin dan beli cemilan.

Terima kasih sudah berkunjung!

Maaf Terlambat Posting Dan Salam Kupu-Kupu. ^^d


2 comments:

  1. sungguh dan sungguh GPS itu menyesatkan kita ya Pak...pokoknya kalo ke Kebumen lagi mau explore pantaaaaainya. makasi Pak. temanin saya lagi ya Pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami-sami, ulala. Makasih juga ya udah hampir menanggung 1/3 pengeluaran selama disana. 😂

      Delete