Tuesday, January 23, 2018

Macau - HK Trip Day 1: Pagi Di Makau, Malam Di Hong Kong




“So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable.”

– Christopher Reeve


Semua bermula dari kegaduhan pada sebuah grup jalan-jalan yang saya ikuti di Facebook. Salah seorang anggota mengabarkan tengah ada tiket promo Jakarta-Makau lewat salah satu situs pemesanan yang cukup terkemuka. Saya yang awalnya skeptis, lantas iseng mengecek kebenaran berita itu setelah tergoda dengan embel-embel "bisa dibayar memakai kartu debit". Perjuangan mengotak-atik tanggal, mengisi data, dan pembayaran pun terlewati. Tak lama, masuklah sebuah surel yang berisikan dua tiket round trip Jakarta - Makau ke dalam alamat surel saya.

Saya tertegun. Hah? Ini serius saya dapat tiket seharga Rp 440.000,00 per orangnya?

11 Desember 2017. Saya akhirnya mengakui kalau "keberuntungan itu ada" setelah tertusuk udara dingin begitu menjejakkan kaki di Airporto Internacional De Macau. Saya langsung tersenyum bahagia dan mengajak Mbak Ayu - salah seorang teman kuliah, untuk bergegas membereskan urusan imigrasi agar bisa segera menjelajah salah satu daerah spesial administratif dari Republik Rakyat Tiongkok ini.

Selepas mengurus secarik kertas ijin masuk (Pemegang Paspor Indonesia bebas visa selama 30 hari), saya dan Mbak Ayu pun berjalan menuju pintu keluar. Dalam perjalanan keluar inilah kami berjumpa dengan dua wanita Indonesia lainnya, Mbak Tary dan Mbak Marlin, sesama petualang yang mendapatkan tiket promo kemarin. Kami berempat akhirnya memutuskan untuk berpetualang bersama di Macau, sebelum menyeberang ke Hong Kong.

Menikmati Pagi Di Makau

Berhubung kami sama-sama belum memiliki uang pecahan kecil Macanese Pataca (MOP) maupun Hong Kong Dollar (HKD) maka niat untuk menaiki bus umum langsung dari bandara menuju San Ma Lo (Senado Square) pun kandas. Kami lantas berjalan kaki menuju Macau Taipa Ferry Terminal selama sekitar 10 menit untuk menaiki free shuttle bus yang disediakan oleh jaringan hotel kasino di Makau.

Kami sempat salah arah akibat saya yang salah membaca peta. Bus pertama yang kami naiki justru membawa kami ke Gallaxy Hotel, hotel yang berada di satu pulau dengan Bandara Internasional Makau. Padahal, menurut informasi yang sudah saya baca sebelumnya, Senado Square berada di pulau yang lain. Ah, kalian bingung? 

Jadi, Makau terbagi menjadi dua bagian atau dua pulau: Taipa dan Coloane. Sebagai patokan, Bandara Internasional Makau berada di Pulau Taipa, sementara kebanyakan destinasi wisata (selain kasino) justru berada di Pulau Coloane. Otomatis, kami harus menyeberang pulau apabila hendak melihat San Ma Lo, A-Ma Temple, atau Macau Tower sekalipun. Pilihan mode transportasi yang bisa digunakan: bus umum, taksi, atau free shuttle buss dari jaringan hotel kasino. Yang disebut terakhir memang agak ribet karena harus menghafal jaringan hotel satu dengan yang lainnya, tapi enaknya adalah gratis, full wi-fi, dan ber-AC.

Kembali ke pelataran Gallaxy Hotel, akibat kami yang masih terdiam di depan sana, seorang petugas hotel lantas mendatangi kami dan bertanya kenapa tidak segera masuk. Dengan sedikit ketakutan, saya pun mencoba menjelaskan kalau kami sepertinya salah arah. Tujuan kami hendak ke Senado Square, bukan ke Hotel Gallaxy.

"There's no direct shuttle bus to Senado Square", jawab si mas petugas. Glek. Mampus. Batin saya waktu itu. Untungnya, tak lama kemudian mas petugas menjelaskan kalau kami bisa naik shuttle bus ke arah Macau Outer Ferry Terminal di Pulau Coloane, lantas naik shuttle bus dari Hotel Grand Lisboa. Kami hanya bisa mangut-mangut sembari mengekor si mas yang mengarahkan kami ke baris antrian untuk menuju ke Macau Outer Ferry Terminal. Baik ya, masnya?

Sekali oper bus dan sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di hotel kasino pertama yang kami masuki di Makau: Grand Lisboa. Beuh, saya langsung teringat suasana mall terbesar di Jogja tapi dipenuhi dengan ornamen berwarna keemasan dan barang-barang mewah. Kami hanya sebentar di dalam hotel kasino itu karena tujuan utama adalah menuju Senado Square.

Atap Hotel Grand Lisboa. Bangunan ini disebut-sebut
sebagai salah satu landmark modern Makau karena
bentuknya yang unik.

Dari kiri-kanan: Mbak Tary, Mbak Marlin,
saya dan Mbak Ayu. Foto group selfie pertama
di Makau.

Dari halaman depan Hotel Grand Lisboa, kami berjalan kaki ke arah kanan selama sekitar 15 menit sebelum sampai ke Senado Square. Suasana liburan langsung terasa. Senado Square tampak penuh oleh pengunjung. Ornamen-ornamen natal juga mulai menghiasi di beberapa tempat. 

Senado Square bukanlah sekedar alun-alun atau titik kumpul massa semata, disinilah bangunan-bangunan bersejarah banyak berdiri. Di ujung jalan utama Senado Square, kami menjumpai bangunan St. Domingo's Church - sebuah gereja bergaya Barok yang dibangun oleh tiga misionaris asal Dominika (saat masih berupa wilayah jajahan Spanyol) pada tahun 1587.

Gereja Santo Domingo.

Gereja berwarna kuning gading ini bisa dimasuki siapa saja, dari jam 10 pagi sampai 6 sore, tapi kami memutuskan untuk tidak masuk mengingat kondisi yang tengah memanggul backpack besar di punggung. Takut mengganggu mereka yang datang untuk berdoa.

Aroma panggangan kue yang begitu menggoda selera acap tercium di sepanjang jalan kecil Senado. Di Senado Square ini pulalah banyak toko yang menjajakan egg tart - sejenis kue yang mulanya berasal dari Portugis sebelum dicipta ulang oleh Andrew Stow pada tahun 90-an dan menjadi terkenal hingga kini.

Salah satu pegawai Pastelaria Koi Kei tampak sedang
memasukkan fresh baked egg tart ke dalam mesin
penghangat.

Walau kecil, tapi mengenyangkan nah ini.

Kami kemarin membeli egg tart di Pastelaria Koi Kei dan rasanya sungguh membuat bahagia, apalagi perut kami sama sekali belum terisi makanan semenjak turun dari pesawat. Ada empat hal yang saling berlawanan, tapi terasa begitu sempurna manakala dipadankan, dalam setiap gigitan egg tart. Keempat hal itu adalah rasa manis dan asin, serta tekstur yang renyah dan lembut. Ah, wajib dicoba! Apalagi kalau memakannya saat masih hangat. Duh!

Tinggal beberapa langkah dari Pastelaria Koi Kei, sampailah kami di Ruinas de Sa Paulo atau Ruins of Saint Paul's - landmark paling tersohor dari Makau. Sesuai dengan namanya, bangunan bersejarah ini hanyalah berupa reruntuhan sisa dari Mater Dei atau Kompleks Kampus dan Gereja Santo Paul. Kompleks ini mulai dibangun pada tahun 1602 oleh Kongregasi Jesuit, dan menjadi Gereja Katolik terbesar di Asia pada waktu itu. Sayangnya, kebakaran yang terjadi akibat bencana taifun pada tahun 1835 memberangus nyaris seluruh bangunan kompleks. Menyisakan bagian fasad (sisi luar) gereja dan 68 anak tangga yang menuntun menuju kesana.

Ruins of St. Paul's dari dua patung sepasang kekasih (?).
Ahahah, saya juga kagak ngerti itu patung apaan. 😆


Saya di depan Fasad Ruins of St.
Paul's.

Penuh. Ruins of Saint Paul's benar-benar penuh oleh pengunjung siang itu. Semua bagian tangga tampak dipenuhi oleh pengunjung yang datang berombongan besar. Ada yang menarik dari para rombongan itu, asumsi saya mereka turis lokal. Setiap mereka akan difoto grup, mereka kompak meneriakkan yel-yel yang entah apa artinya, dengan begitu riuhnya. Awalnya, kami berpikir itu yel-yel per grup, tapi ternyata setiap grup sepertinya meneriakkan hal yang sama. Jadi, mau berenam, bersepuluh, atau berdua puluh, mereka akan meneriakkan yel-yel yang terdengar sama dan diakhiri kata: "yeyy!". Lucu, sampai tanpa sadar kami ikut menirukan berteriak "yey!" setiap mendengar yel-yel itu.

Tak ingin pening melihat lautan manusia, saya dan Mbak Tary memutuskan untuk kabur ke Fortaleza do Monte - sebuah benteng pertahanan yang terletak di sisi kanan atas dari Ruins of Saint Paul's. Benteng ini awal mulanya digunakan oleh Kongregasi Jesuit untuk melindungi Gereja Santo Paul dari serangan perompak, tapi kemudian direbut oleh Pasukan Kolonial Portugis dan digunakan untuk mempertahankan Makau sebagai salah satu wilayah jajahan mereka di Asia.

Kami berdua harus sedikit mendaki dan menapaki anak-anak tangga sebab lokasi benteng ini berada di atas sebuah bukit. Namun, pengorbanan itu terbayar dengan pemandangan skyline dari Makau. Replika meriam yang digunakan pada tahun 1860 juga bisa kita lihat memenuhi relung-relung benteng. Cakep deh!

Mbak Tary siap memeriam Hotel Grand Lisboa. 😎

Skyline Makau dari atas Fortaleza do Monte.

A story behind this photo. Banyak yang bilang kalau orang
Tiongkok itu kasar-kasar. Tapi sumpah, selama ngetrip kemarin
saya justru banyak bertemu orang lokal yang baik-baik.
Foto ini misalnya, diambil oleh seorang kakek. Jadi, ceritanya
saya membantu dia foto duluan. Abis itu kami berpisah.
Rupanya, si kakek mengikuti kami untuk sekedar "payback" alias
membantu mengambil foto. Padahal, kami tidak minta sama sekali.

Menikmati Malam Di Hong Kong

Setelah menempuh perjalanan satu jam lamanya dengan menggunakan kapal feri dari Macau Outer Ferry Terminal, sampailah kami di Kowloon, Hong Kong. Sehabis mengurus ijin masuk yang lagi-lagi berupa secarik kertas kecil, kami pun melenggang keluar dari Kowloon Ferry Terminal yang bangunannya jadi satu dengan sebuah mall itu.

Dari sana, kami berempat lantas berjalan kaki menuju hostel yang telah kami pesan sebelumnya di area Tsim Sha Tsui. Jaraknya tak jauh, hanya 15 menit berjalan kaki, saya dan Mbak Ayu telah sampai di Haiphong Mansion - semacam apartemen kecil yang di salah satu lantainya terdapat hostel yang kami pesan. Kami pun berpisah dengan Mbak Marlin dan Mbak Tary karena mereka memesan hostel yang berada di Chunking Mansion, sekitar satu blok jauhnya dari mansion kami.

Semua terasa kecil dan sempit, baik itu kamar tidur maupun kamar mandi di hostel yang kami tempati. Satu ruangan kamar bahkan diisi dengan lima ranjang susun yang muat dipakai oleh sepuluh orang. Sialnya, dari sepuluh ranjang, hanya satu saja yang tak terisi. Untung saja, seluruh teman sekamar kami tidak ada yang aneh-aneh.

Boo! Selfie saya di kamar yang super sempit.
Lihat jarak saya dengan ranjang susun
di belakang, padahal posisi saya duduk
di atas ranjang yang saya tempati.

Saya tergagap ketika melihat jam sudah menunjukkan waktu setengah delapan malam waktu setempat. Niat awalnya, saya dan Mbak Ayu hendak tidur sebentar sebelum mencari makan malam, eh tapi ternyata kami justru kebablasan. Sedikit panik karena sudah mendekati waktu dimulainya Symphony of Lights - sebuah atraksi cahaya laser yang menyorot dari bangunan pencakar langit di Hong Kong.

Dengan kilat, kami mempersiapkan diri dan segera keluar dari hostel untuk menuju ke Tsim Sha Tsui Promenade - semacam area terbuka yang menurut review disebut sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati Symphony of Lights. Kami berjalan menembus arus manusia di pinggir Nathan Road, yang semuanya berjalan serba cepat untuk melawan hawa dingin malam itu.

Tsim Sha Tsui begitu hidup di kala malam. Deretan gerai maupun mall yang menawarkan apa saja mulai dari perhiasan, kosmetik, obat-obatan, makanan, hingga barang-barang bermerk tampak memenuhi sisi kanan dan kiri dari Nathan Road. Semuanya serba gemerlap ketika malam menjelang. Tak mengherankan apabila area ini sering disebut sebagai surganya berbelanja. Kami? Kami tentu saja tak kelawatan berbelanja, tapi cukup di 7-eleven untuk membeli beberapa cemilan. 😆

Kami tertolong dengan sebuah jalan bawah tanah untuk berjalan menuju ke Tsim Sha Tsui Promenade. Jalan bawah tanahnya walau agak gelap dan banyak botol minuman keras berserakan, tapi hangat. Saya sampai malas keluar lagi kalau tidak ingat harus menyaksikan Symphony of Lights.

Tsim Sha Tsui Promenade sendiri letaknya tak jauh dari pintu keluar jalan bawah tanah itu. Area terbuka ini terletak persis di pinggir Victoria Harbour. Kami sempat melihat cahaya laser berwarna hijau menyorot dari atas beberapa bangunan pencakar langit yang berada di seberang kami. Tapi hanya sebentar, barang semenit-dua menit, lantas tak ada lagi sorotan cahaya tersebut.

Saya dan Mbak Ayu hanya bisa saling berpandangan. Kok ndak ada lagi? Kami tunggu sekitar sepuluh menitan, tapi tetap tidak menyala lagi. Saya lantas mencoba googling dan tertampar kenyataan kalau Symphony of Lights hanya menyala selama delapan menit dari jam 20.00 waktu setempat. Yailaah, kebagian buntutnya doang. 😟😟

Suasana Victoria Harbour kala malam.

Kebagian buntutnya doang, ndak papa ya mbak? 

Untuk mengobati kekecewaan, kami menyempatkan mampir ke Garden of Stars. Ini adalah sebuah tempat wisata sementara, selama Avenue of Stars tengah dirombak habis-habisan dari November 2015 yang lalu sampai akhir tahun 2018 ini. Beberapa patung dan jejak tangan dari artis-artis terkenal Hong Kong dan Tiongkok pun dipindahkan dari Avenue of Stars ke Tsim Sha Tsui East Waterfont Podium Garden atau yang sekarang dikenal sebagai Garden of Stars.

Patung Bruce Lee yang sebelumnya menghuni Avenue of
Stars kini sudah dipindahkan sementara di Garden of
Stars. Wataa!

Sebut saja jejak tangan dari: Aaron Kwok, Nicholas Tse, Gong Li, Cecilia Cheung hingga Louis Koo tersaji di taman tersebut. Sejujurnya, saya tak begitu familiar dengan aktor maupun aktris Tiongkok. Bahkan, dari puluhan nama, saya paling hanya tahu tak sampai 10 orang. Berbeda dengan Mbak Ayu yang mantap berkata: "ini loh yang main film bla bla bla", "ih ini kan yang aktris eksentrik itu". Bah, kami memang datang dari generasi yang berbeda. Tee-hee!

Tangan Mbak Ayu kalah kecil sama tangannya Kara
Wai Ying Hung. 😝

Err, kok Mbak Ayu kaya vampir ya di foto ini?
Jadi kemarin saya jalan-jalan bareng vampir?
*kabur*

Teringat belum makan besar seharian, sepulangnya dari Garden of Stars, kami memutuskan untuk mencari makan. Di hari pertama, kami masih idealis. Mencari restoran yang ada embel-embel "halal"-nya. Pilihan kami jatuh pada Restoran India yang berada di mansion yang sama tempat kami menginap, tapi berbeda lantai.

Setelah mendapat posisi duduk di meja yang berada pada samping jendela, kami lantas memesan satu porsi nasi biryani, satu porsi gulungan daging kambing cincang bakar, dan dua air mineral. Saya akui, semua makanan yang kami pesan enak, rempah-rempahnya begitu terasa. Tapi, inilah makanan termahal yang kami makan selama petualangan di Makau dan Hong Kong. Gemesnya lagi, hitungan pajaknya seenak udel. Asal dibulatin ke atas aja biar genap, sehingga pihak restoran tidak perlu memberikan kembalian uang receh. Sial.

Makanan ala India. Cukup sekali aja ya.

***

Hari pertama kami terasa begitu melelahkan. Sudah dapat red-eye flight, mobilitas kami juga luar biasa tinggi. Pagi di Makau, malam di Hongkong. Dan, malam itu kami tertidur dengan begitu pulasnya meski sebelum tidur kami sempat mendengar dua teman sekamar saling beradu dengkuran. Ah, masa bodo. Mari kita tidur!


Cost Day 1:
1. Tiket Pesawat Jakarta-Makau pp: Rp 440.000,00
2. Egg Tart: HKD 10 atau Rp 17.200,00
3. Tiket Kapal Feri Macau Outer Ferry Terminal - Kowloon: HKD 160 atau Rp 275.200,00
4. Makan malam di Restoran India: HKD 200 / 2 : HKD 100 atau Rp 172.000,00
5. Biaya Menginap di Apple Inn Tsim Sha Tsui (1 bed di Mixed Dorm): Rp 183.688,00

Total Pengeluaran Hari Pertama: Rp 1.088.088,00

NOTE:
1. Jangan menukar uang ke Macanese Pataca, mending tukar uang ke Hong Kong Dollar. MOP hanya bisa dipakai di Makau, sementara HKD bisa dipakai di Makau dan Hong Kong.
2. Kalau memutuskan memakai bus umum di Makau, siapkan uang receh sebab mereka tidak akan memberikan uang kembalian sebesar apapun uang yang kamu berikan.
3. Ada dua ferry terminal yang terdapat di Makau: Macau Taipa Ferry Terminal dan Macau Outer Ferry Terminal. Keduanya berada di pulau yang berbeda. Silahkan pilih mana yang terdekat, sesuai posisi kalian.
4. Kurs HKD yang saya gunakan untuk perhitungan di atas adalah kurs hari ini, 1 HKD = Rp 1.720,00.

Terima kasih sudah mampir!

Salam Kupu-Kupu. ^^d


3 comments:

  1. sangat informatif kak..ditunggu lanjutannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah ketik REG (spasi) GIBUL, belum? 😁

      Delete