Sunday, March 4, 2018

Macau - HK Trip Day 2: Menjelajah Hong Kong Island



Hari kedua kami dimulai dengan rasa susah payah mengumpulkan nyawa di pagi hari. Sungguh, kalau kata si Dilan - "yang berat itu rindu", buat saya - "yang berat itu bangun pagi ketika sedang berjalan-jalan". Saya menengok ke sekeliling, semua teman sekamar kami masih pulas-pulasnya dalam tidur mereka. Teringat kalau kamar mandi bersama hanya tersedia tiga biji, saya segera membangunkan Mbak Ayu dan memberinya kode kalau hendak mandi duluan. Kode yang ditanggapi dengan gerangan khas dari orang yang masih setengah nyawa.

Satu setengah jam kemudian, kami berdua telah bersiap dengan tas carrier masing-masing di punggung. Iya, kami memang sekalian hendak check out, karena dua malam selanjutnya kami akan berganti hostel di area Mong Kok. Untungnya, proses check out, ya, tinggal pergi saja, tanpa perlu repot-repot memberi tahu ke resepsionis.

"Bah, dingin". Itu kata-kata yang tercetus dari mulut begitu menjejakkan kaki keluar dari mansion hostel kami. Suhu udara di Hong Kong pagi itu berada pada titik 14 derajat celcius, dan kabarnya Bulan Desember adalah salah satu bulan terdingin disana. Dengan bergegas, kami berjalan menyeberang menuju ke arah Kowloon Park - sebuah area hijau yang terletak persis di seberang mansion hostel.

Kowloon Park: Antara Tai Chi dan Tokoh Karton

Kowloon Park terasa bagaikan oase yang menyegarkan, apabila dibandingkan dengan keriuhan area Tsim Sha Tsui baik ketika pagi, siang, sore maupun malam hari. Baru saja menjejakkan kaki di dekat pintu masuknya yang sedikit menanjak, suasana damai langsung menyapa.

Pintu masuk Kowloon Park.

Area terbuka publik seluas 13,3 hektar ini dibangun oleh Pemerintah Hong Kong pada tahun 1970 lalu. Tak tanggung-tanggung, kabarnya sekitar 70 bangunan yang dulu ada di atas lokasi dihancurkan demi terciptanya sebuah ruang hijau di ujung selatan Kowloon Peninsula itu. 

Kowloon Park ini paket serba lengkap. Mari kita sebutkan: danau buatan, taman bunga, berbagai fasilitas olahraga (jogging track, kolam renang baik indoor maupun outdoor), taman burung, taman patung hingga museum - semuanya ada disana. Termasuk pula, ia memiliki Avenue of Comic Stars - atraksi wisata gratisan yang menjadi alasan utama kami berdua menyambangi taman tersebut.

Dalam perjalanan mencari Avenue of Comic Stars di tengah taman seluas itu, kami sesekali berhenti untuk melihat aktivitas harian yang terjadi setiap pagi di Kowloon Park. Aktivitas pagi harian tersebut berupa Tai Chi - sejenis seni bela diri kuno di Tiongkok yang berfokus pada filosofi yin dan yang dalam setiap gerakannya. Walau bisa digunakan sebagai self-defense, namun lazimnya banyak praktisi yang lebih  mencari manfaat sehat dari melakukan seni bela diri ini.

A fine morning to do Tai Chi.

Dengan bergerombol, beberapa praktisi Tai Chi (kebanyakan sudah kakek-nenek), tampak tersebar di beberapa area Kowloon Park. Biasanya mereka dibimbing oleh seorang instruktur yang memperagakan gerakan tertentu, lantas diikuti oleh para anggota kelompoknya. And guess what, I found myself at peace after watching those grandpa and grandma movements. Saya serasa sedang melihat gulungan ombak nan tenang di suatu pantai yang sunyi. So calming!

Avenue of Comic Stars sendiri ternyata terletak pada salah satu pinggiran dari Kowloon Park. Tak besar, paling hanya berupa jalan kecil sepanjang 100 meter yang dipenuhi dengan sejumlah patung tokoh komik dan cap tangan para kreatornya. Yap, semuanya adalah komik lokal sehingga kami jarang tahu siapa mereka. Satu-satunya patung tokoh komik yang saya kenali disana adalah tokoh dari Old Master Q. ☺

Me and Old Master Q!

Mbak Ayu dengan Din Dong. Kami sebenarnya tak tahu
itu komik apaan, tapi nama kucing Mbak Ayu pun bernama
Din Dong. What a coincidence.

Hanya sebentar kami berada di Avenue of Comic Stars, sebelum memutuskan untuk segera menuju ke Tsim Sha Tsui Station dan memulai penjelajahan kami di Hong Kong Island.

Menikmati Hong Kong Island Dari Ketinggian

"Hong Kong dulunya merupakan wilayah koloni Inggris sebelum diberikan kembali ke Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1997, lalu berubah menjadi daerah spesial administratif. Hong Kong terbagi ke dalam tiga wilayah utama, yakni: Kowloon Peninsula, Pulau Hong Kong, dan Daerah Teritori Baru (New Territories)"

Tujuan pertama kami di Hong Kong Island adalah Central Station - stasiun MTR terbesar seantero Hong Kong. Jarak antara Tsim Sha Tsui dengan Central Station sangat dekat, hanya terpisah satu stasiun dan memakan waktu kurang lebih 10 menit jika memakai MTR. MTR atau Mass Transit Railway merupakan mode transportasi utama kami selama berada di Hong Kong. Keretanya super nyaman, sementara peta rute yang disediakan mudah sekali dipahami bagi orang asing sekalipun.

Ada alasan kenapa kami berdua harus menuju Central Station. Disanalah kami sudah membuat janji untuk bertemu dengan pemandu Klook yang akan mengantarkan menuju The Peak. Hah, kalian tidak tahu apa itu Klook?

Oke, jadi ada dua hal yang sangat membantu kami selama berada di Hong Kong. Pertama, Octopus Card - semacam kartu sakti yang bisa digunakan untuk menaiki semua mode transportasi sekaligus alat pembayaran bagi yang hendak berbelanja. Untuk tiket transportasi, apabila dibeli memakai Octopus Card biasanya jatuh lebih murah dibandingkan membeli langsung di konter atau mesin tiket.

Octopus Card yang sakti mandraguna.

Kedua, Klook. Klook merupakan aplikasi pemesanan atraksi-atraksi wisata di seluruh dunia. Ini adalah senjata utama saya kalau kebingungan hendak melakukan apa ketika berjalan-jalan. Tinggal pilih negara atau kota, dan berbagai atraksi wisata pun bermunculan. Ada banyak keuntungan memakai Klook: tiket lebih murah daripada harga di konter resmi, ada garis antrian khusus, dan beberapa menyediakan jasa pemandu gratis.


Jam 12 siang waktu setempat adalah waktu yang kami sepakati bersama untuk bertemu dengan pemandu. Saya menengok jam, masih ada sekitar tiga jam lagi sebelum jam pertemuan itu. Saya dan Mbak Ayu lantas memutuskan untuk berkeliling di sekitar Exit K - salah satu pintu keluar dari Central Station yang menjadi titik pertemuan kami dengan pemandu.

Selain taman yang cantik dan nyaman, ada beberapa hal yang bisa dilihat di sekitar Exit K. Berhubung natal hendak datang, maka sebuah pohon natal raksasa dihiasi ornamen berwarna perak dan oranye tampak berdiri menghiasi salah satu sudut di area terbuka yang ada disana. Ada pula, The Cenotaph - sebuah monumen perang yang dibangun pada tahun 1923 untuk mengenang mereka yang gugur di Hong Kong selama dua masa perang dunia.

Pohon natal di dekat Exit K.

The Cenotaph.

Seorang laki-laki lokal bertopi warna abu-abu dan membawa papan Klook, menyuruh seluruh peserta untuk berkumpul sebelum memulai perjalanan menuju The Peak. Sambil membagikan tempelan tanda pengenal dan tiket, ia menjelaskan peraturan apa saja yang harus kami patuhi selama menuju dan berada di The Peak. Jangan khawatir, penjelasannya menggunakan dua bahasa kok, Inggris dan Mandarin.

Pemandu klook kami.

Setelah memastikan semua peserta hadir dan memiliki tiket sesuai paket yang dipesan oleh masing-masing orang, ia bergegas menyuruh kami berbaris dan berjalan mengikutinya. Jalannya serba cepat, dan kami diarahkan memasuki halaman sebuah bangunan pencakar langit lalu lanjut menyusuri jalanan kecil yang terus menanjak.

Melihat antrian orang yang hendak menuju The Peak, kami berdua seketika merasa beruntung karena menggunakan jasa Klook. Ada special line untuk kami semua, jadi hanya perlu menunggu sebentar untuk menaiki tram yang akan membawa kami menuju The Peak.

Walau secara biaya agak mahal dibandingkan apabila menaiki bus, tapi tram menuju The Peak ini begitu saya rekomendasikan sebab kespesialan yang dimilikinya. Tram itu sudah beroperasi sejak tahun 1888 atau dengan kata lain telah berusia 130 tahun! Jalurnya sendiri dibangun sekitar tahun 1885 atas prakarsa dari Alexander Findlay Smith dengan memiliki total panjang sejauh 1,4 kilometer dan terus menanjak hingga ketinggian 400 meter.

Tram yang memasuki Lower Terminus.

Rasanya naik tram itu ngeri-ngeri sedap. Membayangkan keuzuran tram yang harus berjalan menanjak sepanjang perjalanan, mau tak mau membuat otak ini berpikir yang tidak-tidak. Tapi ternyata, perjalanan menuju The Peak damai sejahtera. Bahkan, panorama pelabuhan dan bangunan pencakar langit yang bisa kami nikmati sepanjang jalan terasa begitu memanjakan mata.

Upper Terminus dari The Peak menjadi satu dengan sebuah kompleks perbelanjaan modern. Disanalah, saya dan Mbak Ayu berpisah dengan rombongan besar Klook. Jadi, paket "The Peak Tram" via Klook ini di-bundle dengan atraksi-atraksi lain dalam kompleks perbelanjaan modern itu. Ada paket yang berisikan tiket pulang pergi Tram plus Madame Tussauds Museum, ada paket plus Chocolate Museum, ada paket ultimate alias paket serba lengkap, hingga paket paling murah adalah yang kami berdua beli yakni paket berisikan tiket pulang pergi Tram plus Sky Terrace 428.

Kami bergegas menaiki elevator menuju lantai paling atas kompleks perbelanjaan itu yang sekaligus menjadi pintu masuk Sky Terrace 428 - sebuah gardu pandang yang katanya tertinggi di Hong Kong. Ada keuntungan dari paket paling murah yang kami beli karena Sky Terrace masih terasa sepi gara-gara pengunjung lain tengah sibuk menikmati atraksi lain di bawah. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit dari atas, without a doubt, juara kelas. Tapi berhubung kami datang tepat di siang hari, maka panasnya matahari lama-lama membuat kami menyerah.

Panas, kak.

Sebelum turun kembali menggunakan tram, kami menyempatkan mampir sebentar di Madness 3D Adventure - semacam wahana foto berlatar lukisan tiga dimensi yang tidak dipungut bayaran sepeser pun alias gratis! Wahana ini terletak di lantai ketiga kompleks perbelanjaan tadi, dan di dekatnya terdapat pintu keluar untuk menuju tram. Yihaa, We love freebies!


Terinspirasi oleh Daenery Targaryen - inilah salah satu
anggota klan yang hilang, Ayu Targaryen. ☺


Mencicipi Dim Sum Halal di Wan Chai

Sepulangnya dari The Peak, kami menuju ke tujuan selanjutnya yakni Wan Chai. Dari Central Station sebenarnya kami bisa saja naik MTR ke Wan Chai, tapi kami memutuskan mencoba mode transportasi lain yaitu Ding Ding atau sebangsa tram bertingkat yang memiliki lonceng di depannya,. Lonceng ini akan dibunyikan setiap ada penghalang di depan jalur tram, dan bunyinya "ding ding, ding ding...". Nah, tahukan sekarang kenapa disebut demikian oleh orang lokal?

Ding Ding ini adalah transportasi termurah sepanjang kami berada di Hong Kong. Jalannya slow kaya di bungalow. Kalau ada yang kebingungan hendak kemana di Hong Kong tapi pengen jalan-jalan yang serba santai, maka Ding Ding inilah solusinya. Rute Ding Ding menjangkau Hong Kong Island dari ujung ke ujung. Dan, sensasinya luar biasa. Maksud saya, bisa naik kendaraan ala jaman perang dunia tapi masih eksis sampai sekarang? Kapan lagi kan, ya?

Ding ding, ding ding, ding ding.

Wan Chai menjadi jujugan kami, dengan satu alasan utama: mencicipi dim sum halal. Katanya, tak akan lengkap perjalanan di Hong Kong kalau kalian tidak mencicipi dim sum-nya. Hong Kong memang terkenal akan surganya dim sum, sampai-sampai CNN Travel pernah menyebutkan kalau dim sum Hong Kong adalah makanan terenak nomer tujuh di seluruh dunia.

Sayangnya bagi yang muslim, makanan ala cantonese ini kebanyakan mengandung daging babi di dalamnya. Makanya, begitu dengar ada dim sum halal di Wan Chai, saya langsung memasukkan itu sebagai "a-must-do" di rencana perjalanan. Dim sum halal-nya sendiri bisa kami temukan di Islamic Canteen of Ammar Mosque and Osman Ramju Sadick Islamic Centre. 


Saking panjangnya nama, ngefoto dari bawah bangunan
saja tidaklah muat, pemirsa.

Sebuah bangunan berwarna abu-abu dan hijau menyambut kami di salah satu ujung jalan kecil yang ada disana. Begitu mencocokkan tulisan di dinding dengan informasi di smartphone, kami langsung masuk dan menaiki lift untuk menuju ke lantai lima. Begitu pintu lift terbuka, kantin super luas  terlihat menyapa dengan bebauan yang sungguh menggoda iman.

Setelah menemukan posisi tempat duduk, seorang pelayan lelaki menghampiri meja dan menyerahkan sepotong kertas menu dan secarik kertas pesanan yang bentuknya mirip kertas tabungan jaman saya sekolah dasar dulu. Lelaki itu juga berkata: "kalau hendak memesan dim sum, langsung saja ke konter yang ada disana. Pilih dim sum yang mau kalian makan, dan pelayan akan mencatat semua makanan kalian". Kata-kata yang kami sambut dengan mata berbinar.

Kami kalap. Benar-benar kalap. Ada beraneka macam dim sum yang disajikan di meja konter itu. Seorang pelayan wanita yang bertugas disana menyebutkan nama seluruh jenis dim sum beserta penjelasan singkat apa isinya. Saya hanya sanggup mengingat tiga jenis saja:  xia jiao atau dumpling rebus berisi udang, xiao long bao atau dumpling rebus yang di dalamnya berisi cacahan daging dan sedikit kuah kaldu yang khas, serta guo tie atau dumpling yang digoreng memakai teflon dan berisikan cacahan daging plus sayur. Satu, dua, tiga, empat, dan lima. Total kami berdua mengambil lima porsi dim sum yang ada disana.

Dari 5 ini, saya hanya hapal 3. Xiao long bao di kiri atas,
guo tie yang disajikan memakai piring, sementara xia jiao
adalah yang ujung bawah kanan. 2 lainnya? Entah. :p

Soal rasa, jangan ditanya. Top banget! Favorit saya jatuh pada xia jiao dan xiao long bao-nya. Kulit penutup dumpling-nya terasa kenyal dan lembut sekali. Xiao long bao-nya terutama, bikin serasa roh ini melayang-layang, saking enaknya. Harga? Muraah bangeeet. Dan, tidak ada hitungan pajak tambahan apapun.

***

Hari kedua kami di Hong Kong diakhiri dengan berbelanja di Ladies Market. Salah satu alasan kenapa kami berpindah hostel dari area Tsim Sha Tsui ke Mong Kok, ya, karena Ladies Market itu. Tak tanggung-tanggung, dua malam kami habiskan di hostel yang persis berada di depan pusat oleh-oleh murah Hong Kong tersebut. Jadi setiap habis jalan-jalan, kami pasti langsung cabut mengecek Ladies Market sebelum beristirahat di hostel.

Salah satu sudut di Ladies Market.

Hostel kami di Mong Kok super nyaman. Satu kamar hanya ada empat kasur, dan memiliki kamar mandi di dalamnya. Ini baru manusiawi, tak seperti barak militer di hostel kemarin. Ah, tak sabar rasanya menanti petualangan kami esok hari. Petualangan hari ketiga sekaligus hari terakhir di Hong Kong. Semoga semuanya menyenangkan!

The best hostel!


Cost Day 2:
1. Beli Octopus Card: HKD 150 atau Rp 258.000,00
2. Beli atraksi wisata di Klook (The Peak Tram, Gondola Venetian Hotel, Afternoon Tea Set di Macau Tower): Rp 980.000,00 dibagi dua = Rp 490.000,00
3. Makan dim sum halal: HKD 80 atau Rp 137.600,00 dibagi dua = Rp 68.800,00
4. Hostel di Mong Kok (Dua malam, 1 bed in mixed dorm) = Rp 355.295,00

Total Pengeluaran Hari Kedua: Rp 1.172.095,00

NOTE:
1. Ada uang pengembalian dari Octopus Card, dan akan saya masukkan dalam perhitungan hari keempat besok.
2. Kurs HKD yang saya gunakan, sama dengan kurs di post hari pertama. 1 HKD = Rp 1.720,00


Terima kasih sudah berkunjung!

Salam Kupu-Kupu ^^d


No comments:

Post a Comment