Sunday, October 27, 2013

Tebing Doraemon Dan Oleh-Oleh Istimewa Dari Waduk Bade


Saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu. Sekilas Waduk Bade sebenarnya terlihat sama seperti waduk-waduk yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Ada jalan aspal berukuran sedang tepat di pinggiran waduk sehingga seolah-olah menjadi pemisah antara waduk dengan area persawahan. Dilihat dari kepadatan lalu lintasnya, jalan ini nampaknya menjadi penghubung desa di ujung depan dengan ujung belakang waduk.

Yanta segera beraksi. Bersama kamera canggih kesayangannya, ia mulai terlarut dalam dunianya sendiri. Saya dan Uul awalnya hanya bisa bengong melihat tingkah laku Yanta dalam mengabadikan pemandangan di depan kami melalui jepretan kameranya. Kami berdua kemudian sepakat tidak ingin mengganggu keasyikan Yanta dan memilih untuk menyusuri jalan panjang di pinggir waduk tadi. Pagi itu matahari bersinar dengan garangnya.

Bunga Waduk hasil jepretan Yanta
Perahu yang terdampar

Saya dan Uul berjalan menyusuri pinggiran waduk

Usul mengunjungi Waduk Bade dilontarkan oleh Uul. Sebenarnya saya dan Yanta masing-masing sudah memiliki rencana pada 19 Oktober 2013 lalu. Saya mau melihat Festival Layang-Layang, sedangkan Yanta hendak mendaki Gunung Ungaran. Namun apa mau dikata, mendekati hari H rencana awal kami berdua batal. Usulan dari Uul benar-benar menjadi semacam obat penyembuh kekecewaan kami. Tak lama, kami berdua pun menyanggupi untuk berjalan-jalan bersama ke Waduk Bade. Wah, setelah sekian lama akhirnya kami bisa jalan-jalan bertiga lagi.

Waduk Bade adalah waduk yang terletak di daerah Klego, Kabupaten Boyolali. Tepatnya berada pada suatu desa yang memiliki kesamaan nama dengan sang waduk yaitu Bade. Waduk ini merupakan peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan selesai dibangun pada tahun 1942. Saat ini, kondisi waduk cukup memprihatinkan. Luas wilayah perairan terus menyusut dikarenakan tingkat sedimentasi yang tinggi. Belum lagi, musim kemarau yang lumayan panjang turut berkontribusi pada penurunan volume air.

Waduk Bade riwayatmu kini

Menara kontrol air

Selepas berjalan-jalan menyusuri jalan panjang di pinggir waduk, akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai terpesona oleh keindahan yang ditawarkan oleh tempat ini. Sejatinya, tempat ini mampu menawarkan kedamaian. Kita bisa duduk-duduk santai di atas tanggul pembatas sembari mengamati masyarakat sekitar hilir mudik menuju karamba mereka yang terletak di tengah waduk. Beberapa pengunjung tampak berkonsentrasi memancing di dekat pintu air atau dekat dam. Sementara, puluhan burung air berwarna putih tampak tengah mencari ikan-ikan kecil di pinggir waduk. Ratusan kupu-kupu kecil nan cantik juga berterbangan di sekeliling jalan. Kami dan mereka, sama-sama sudah tak peduli lagi dengan panasnya sinar matahari.

Si Bapak tetap semangat mendayung di tengah terik matahari
Dua pemancing
Mendadak Uul melihat sesuatu yang menarik matanya. Ia mengajak saya menuruni anak-anak tangga di seberang jalan tepat pada sisi luar waduk. Saya melihat hamparan sawah yang mulai menguning sekitar 50 meter ke depan, tapi mata Uul seperti mengabaikan dan menunjuk ke arah kami turun tadi. "Lihat, sisi luar tanggul ini mirip ya sama pinggiran sungai di serial kartun Doraemon...", sahutnya. Saya setengah memicingkan mata ke arah yang ditunjuk Uul, sekedar memastikan. Ah, benar juga! Mirip sekali dengan tebing di pinggir sungai dalam serial kartun Doraemon, mirip juga dengan kondisi pinggiran sungai besar di Negeri Sakura yang sering saya lihat pada tayangan dokumenter NHK-saluran televisi negara itu.
Ilustrasi riverbank di serial anime

Ini juga, source

Tebing Doraemon ala Waduk Bade
Hampir mirip kan? :)

Tebing ini sebenarnya merupakan sisi luar dari tanggul pelindung waduk. Bentuknya berupa dataran menurun dan dihiasi rerumputan lebat berwarna kuning kecokelatan. Berkali-kali kami berfoto ria berlatarkan tebing itu. "Tebing Doraemon" yang tampak menawan di tengah obral sinar dari sang mentari.

Edited by Uul
Sebenarnya, saya tidak begitu kuat apabila terpapar sinar matahari secara terus menerus. Rasa pusing sedikit demi sedikit mulai menyergap. Buru-buru saya meminta Uul untuk kembali area parkir. Area parkir memang daerah paling teduh seantero kawasan karena dilindungi pepohonan rimbun. Di tempat itu kami kembali berjumpa dengan Yanta yang juga sudah selesai dari kegiatan hunting fotonya.

Area parkir teduh
Peace from the lake!
Saya melamun yang tidak-tidak *eh*

Kami bertiga lalu memilih untuk mencari minuman pada salah satu warung yang ada demi menghapus dahaga akibat panas yang begitu menyiksa. Segelas es teh buatan ibu pemilik warung terasa bagaikan oase di padang gersang. Ada sekitar seperempat jam, kami beristirahat sebelum berjalan kembali ke Tebing Doraemon. Si Yanta penasaran karena sedari tadi ia hanya berkutat di sisi depan waduk saja. Tak lama kami bertiga berada disana. Rasa pusing lagi-lagi mendera diri ini. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya sampai-sampai saya terpaksa membatalkan kunjungan selanjutnya. Rencana awal memang selain Waduk Bade masih ada satu tempat lagi yang hendak kami kunjungi.  Yah, apa daya. Darah saya rasanya ikutan mendidih gara-gara panasnya cuaca siang itu.

This lovely one, edited by Uul too.
Sesampainya di rumah, saya baru menyadari sesuatu. Selain mendapatkan pengalaman seru seperti melihat Tebing Doraemon, saya mendapatkan "oleh-oleh istimewa" dari Waduk Bade. Oleh-oleh itu adalah kulit yang lebih hitam dari biasanya dan luka terbakar matahari di area leher serta punggung belakang. Haduh, perihnya! >.<

Salam Kupu-Kupu ^^d

All photos with no watermark were captured by Yanta

9 comments:

  1. kok tragedi jatuhnya ngga ada ya?jahahaha

    ReplyDelete
  2. owh jadi angga jatuh lagi Ul?? ommo...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hyaaa. uul bo'ong kok itu meyk. :p

      Delete
  3. wah sayang pas kepleset di pinggir waduk gak tak poto...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hih, kenapa jadi pada mbahas tragedi memilukan batin itu sih? *murung di pojokan*

      Delete