Saya percaya, Allah akan bersama para traveler. Lebih khusus lagi kepada para traveler yang memang punya niat baja untuk melangkahkan kaki mereka menuju destinasi yang mereka inginkan. Dan yah itu terbukti, setidaknya bagi saya dan kedua rekan jalan-jalan saya yakni si Uul dan Yanta pada petualangan kami di Jawa Timur pada tanggal 15-18 November 2012 yang lalu. Setelah sedikit kecewa karena rencana untuk mengunjungi Pulau Sempu bersama rombongan besar terpaksa dibatalkan karena kehabisan tiket kereta, kami bertiga pun tetap nekat untuk mengunjungi Pulau Sempu sendirian. The show must go on pikir kami, entah nanti di lapangannya kayak apa biarlah waktu yang akan menjawab. Nasib baik sepertinya masih berpihak kepada kami, H-3 sebelum tanggal 15 tiba-tiba si Yanta memberitahu bahwa ada temannya yang tertarik untuk ikut melancong bersama ke Pulau Sempu. Kabar bagusnya lagi, temannya si Yanta ini menawari kami untuk menginap di rumahnya dan menyediakan motor bagi kami untuk berjalan-jalan meskipun untuk itu kami terlebih dahulu harus transit di Kota Blitar. Umm Blitar? Okelah tak masalah, rejeki pantang ditolak dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Hajaaarrrr!!
Thursday, November 29, 2012
Perjalanan Nekat ke Kediri dan Blitar
Saya percaya, Allah akan bersama para traveler. Lebih khusus lagi kepada para traveler yang memang punya niat baja untuk melangkahkan kaki mereka menuju destinasi yang mereka inginkan. Dan yah itu terbukti, setidaknya bagi saya dan kedua rekan jalan-jalan saya yakni si Uul dan Yanta pada petualangan kami di Jawa Timur pada tanggal 15-18 November 2012 yang lalu. Setelah sedikit kecewa karena rencana untuk mengunjungi Pulau Sempu bersama rombongan besar terpaksa dibatalkan karena kehabisan tiket kereta, kami bertiga pun tetap nekat untuk mengunjungi Pulau Sempu sendirian. The show must go on pikir kami, entah nanti di lapangannya kayak apa biarlah waktu yang akan menjawab. Nasib baik sepertinya masih berpihak kepada kami, H-3 sebelum tanggal 15 tiba-tiba si Yanta memberitahu bahwa ada temannya yang tertarik untuk ikut melancong bersama ke Pulau Sempu. Kabar bagusnya lagi, temannya si Yanta ini menawari kami untuk menginap di rumahnya dan menyediakan motor bagi kami untuk berjalan-jalan meskipun untuk itu kami terlebih dahulu harus transit di Kota Blitar. Umm Blitar? Okelah tak masalah, rejeki pantang ditolak dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Hajaaarrrr!!
Tuesday, November 20, 2012
CouchSurfing dan Pengalaman Pertama Menjadi Seorang Host
Petang itu smartphone saya berbunyi. Sebuah email telah masuk ke dalam salah satu akun surat elektronik saya. Dari CouchSurfing mengatasnamakan seseorang bernama Eva.
Saya membaca email tersebut perlahan-lahan. Ini pertama kalinya seorang surfer mengirimi permintaan untuk bermalam di rumah saya. Berbagai macam perasaan menghampiri saya waktu itu. Antara ragu dan takut serta perasaan senang dan gembira. Omong-omong saya masih terbilang baru di dunia per-CouchSurfing-an, baru mendaftar menjadi anggota pada 18 September 2012 yang lalu itupun karena iseng semata. Makanya, saya masih agak buta tentang dunia saling menawarkan tumpangan tempat tinggal sementara dan saling berbagi bagi para traveler tersebut. Wajar pula saya kemudian menjadi takut dan ragu. Tapi hey, kau tak akan pernah tahu hingga kau mencoba kan? Kau tak akan pernah mengerti hingga kau membuka mata kan? Keraguan saya pun sedikit demi sedikit terhapus oleh rasa antusias dan suatu email balasan kepadanya pun telah sukses terkirim.
Thursday, October 25, 2012
Kena Tipu-Tipu di Kota Solo
Berulangkali mengunjungi suatu daerah belum tentu membuat seseorang menjadi ahli akan daerah tersebut. Yah, mungkin sih akan lebih memahami karakteristik daerah tersebut baik itu masalah jalanannya, alat transportasinya, masyarakatnya, makanannya atau segala tetek bengek khas lainnya. Tapi saya berani jamin itu hanya beberapa persen dari seratus persen. Sebutlah saya. Sudah tak tercatat telah beberapa kali saya menyambangi Kota Solo (Surakarta) baik itu dikarenakan mengunjungi saudara-saudara saya, ataupun memang sengaja menjelajah kota yang terkenal dengan slogan "The Spirit of Java" itu bersama keluarga saya, ataupun teman-teman. Tapi saya berani bersumpah, saya merasa belum bisa berdamai dengan kota itu. Ada saja alasan yang membuat saya berasa semakin nothing setiap kali menemui hal-hal baru ketika berjalan-jalan di kota ini. Alasan paling mendasar adalah saya masih belum bisa beradaptasi dengan jalan searah yang saking banyaknya di Kota Solo selalu sukses membuat saya pusing dan bertanya-tanya "ini saya lagi ada dimana?" berulang-ulang kali. Terus seperti itu dan sukses membuat saya lemas. Lemas tenaga, lemas pikiran, dan terkadang lemas di kantong hahah.
Tuesday, October 23, 2012
Kesampaian Naik Bus Werkudara
Rasa penasaran memang selalu sukses membuat kita melakukan sesuatu. Traveling misalnya, pasti kebanyakan keberhasilan kita mengunjungi suatu tempat atau mencoba hal-hal baru selama traveling berasal dari rasa penasaran. Rasa penasaran ini bisa timbul sebagai akibat dari mendengarkan maupun membaca cerita para traveler lain serta melihat foto-foto tentang suatu destinasi wisata. Jadi berterima kasihlah kepada para traveler yang telah berbaik hati menceritakan pengalaman mereka baik secara lisan, secara tulisan di berbagai buku ataupun blog traveling, dan juga secara digital melalu berbagai video ataupun foto yang diunggah di situs-situs jejaring sosial. Rasa penasaran pulalah yang membuat saya melakukan salah satu perjalanan jarak dekat ke kota tetangga saya, yakni Surakarta (Solo) dalam rangka mencoba menaiki dua primadona transportasi di kota tersebut yakni Bus Werkudara dan Railbus Batara Kresna. Ya, akhir-akhir ini kedua mode transportasi tersebut acapkali menjadi topik perbincangan para traveler ketika masalah "what must I do and try in Solo?" muncul di pertanyaan para penikmat jalan-jalan yang hendak melancong ke Solo. Saya yang penasaran pun kemudian memutuskan untuk berangkat ke Solo pada hari Minggu, 21 Oktober 2012 kemarin. Saya tak sendiri, saya sukses mengompor-ompori kedua teman jaman SMA saya dulu yakni si Yanta dan Uul untuk ikut serta mencoba Bus Werkudara dan Railbus Batara Kresna. Sayangnya, Railbus Batara Kresna dibatalkan secara mendadak keberangkatannya pada hari itu karena tengah menjalani perbaikan sehingga kami bertiga hanya kesampaian menaiki Bus Werkudara saja.
Sunday, October 14, 2012
Festival Pelangi Budaya Salatiga 2012: Salatiga yang Berwarna
![]() |
| Indonesia Mini *eh* (Si adek mini yang membawa Bendera Indonesia) |
Indonesia Mini. Entahlah sudah berapa kali saya menyebutkan istilah tersebut untuk menggambarkan kondisi demografis kota tempat saya tinggal, Salatiga baik di dalam tulisan di blog ini maupun ketika ditanyai oleh orang lain terkait kampung halaman. Puluhan kali mungkin saya telah menyebutnya atau mungkin ratusan atau mungkin juga tak terhingga saking seringnya. Bahkan tugas kuliah dan skripsi saya yang berkaitan dengan Kota Salatiga pun selalu saya lengkapi dengan istilah pamungkas tersebut di latar belakangnya atau di bagian gambaran umum Kota Salatiga. Hahah saya juga tidak tahu kenapa istilah tersebut selalu muncul di otak ketika pertanyaan-pertanyaan generis semacam "ada apa sih di Salatiga?" atau "apa menariknya Salatiga?" terpampang di depan saya. Oke, mungkin saya sedikit terdengar exaggerated tapi mau bagaimana lagi?
Monday, October 8, 2012
Sinoman, Tradisi Jawa yang Nyaris Terlupakan
Saya dilahirkan menjadi salah satu bagian dari suku terbesar di Indonesia yakni Suku Jawa. Kedua orang tua saya yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur telah membuat darah Jawa mengalir di dalam diri ini. Apalagi saya juga tinggal di Kota Salatiga yang meskipun terkenal dengan sebutan "Indonesia Mini" saking majemuknya penduduk di kota kecil ini, tapi lingkungan saya tinggal masih didiami oleh mayoritas orang-orang Jawa yang mau tak mau membuat nilai-nilai dan tradisi-tradisi Jawa masih terasa di aspek kehidupan saya. Yah, meskipun tidak sekuat dan seintens pengaruh ke-Jawa-an masyarakat di Surakarta, Jogjakarta atau pedesaan akan tetapi sedikit-sedikit beberapa tradisi Suku Jawa masih saya jalankan hingga detik ini. Salah satu tradisi dari beraneka ragam tradisi Suku Jawa yang sering saya lakukan adalah tradisi sinoman. Ada yang tahu apa itu Sinoman?
Monday, September 10, 2012
Cerita Bersama Tetangga Part VII: Traveling Dadakan Ke New Selo
Manusia bisa berencana, tapi Tuhan tetap yang menentukan. Kata-kata tersebut terus terpatri kuat di dalam segala aspek kehidupan yang tengah saya jalani. Berbagai peristiwa yang telah terjadi kadang membuat saya sadar akan kebesaran Sang Maha Kuasa dan begitu lemahnya kedudukan manusia di hadapan-Nya. Semua rencana yang telah saya susun, bisa saja tidak terlaksana atau gagal baik itu di awal, di tengah ataupun yang paling menyesakkan hati adalah gagal di detik-detik terakhir. Seperti yang baru-baru saja terjadi, rencana traveling yang saya susun bersama para tetangga untuk mengunjungi Dieng pada 26 Agustus 2012 akhirnya gagal terlaksana karena ada peristiwa yang tidak menyenangkan. Padahal, kami telah all out mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari rapat membahas itinenary, menentukan siapa yang menjadi bandar utama dan bandar tempat wisata bahkan saya juga sudah sempat berbelanja kecil-kecilan eh tapi tepat di malam hari sebelum kami berangkat, peristiwa tidak mengenakkan itu terjadi. Peristiwa apaan sih? Ah sudahlah, saya malas menceritakannya. Saya merasa berdosa dan tak enak hati kepada para tetangga, namun beruntunglah mereka semua dapat mengerti dan mengajak saya untuk menatap esok yang lebih cerah (eh, oke ini ngelanturnya kemana-mana *ditabok pakai sendal*). Sayapun memutar otak, mencoba menentukan alternatif-alternatif lain. Yang dipikiran saya cuma satu, saya tidak mau mengecewakan para tetangga saya yang mungkin sudah antusias namun antusiasme itu meredup seiring terjadinya suatu peristiwa menyebalkan di detik- detik terakhir. Sayapun mencoba mengingat segala perkataan teman-teman saya yang lain terkait tempat wisata yang dekat dengan Salatiga, dan tentunya belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Aha! Saya teringat! Saya teringat satu objek wisata yang dulu pernah dikatakan oleh salah seorang sahabat saya. Saya pun mengutarakan altenatif itu kepada para tetangga saya, "Err, kita tetap jalan-jalan. Tapi bagaimana kalau obyeknya kita ganti ke New Selo?". Saya deg-degan.
Subscribe to:
Posts (Atom)


