Tuesday, July 27, 2010

Stop Violence to Autism Children


Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 23 Juli Indonesia memperingati Hari Anak Nasional, ya peringatan yang telah diselenggarakan sejak tahun 1986 sampaisekarang menjadi hari yang cukup penting bagi anak-anak Indonesia, generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan tombak sejarah, pembangunan, perjuangan negara ini selanjutnya.
Menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 44/1984 tentang Hari Anak Nasional sejatinya peringatan hari anak nasional merupakan momentum yang penting untuk menggugah kepedulian maupun partisipasi seluruh Rakyat Indonesia dalam menghormati dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi, memberikan yang terbaik bagi anak, menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak serta menghargai pendapat anak. Namun menurut pandangan saya, sepertinya Keppres tadi hanya menyentuh golongan anak-anak yang normal masih banyak golongan anak-anak yang tidak terkena dampak dari peringatan hari anak nasional misalnya kita ambil contoh anak-anak jalanan, mereka masih mendapat perlakuan tidak adil dari orang lain bahkan dari pemerintah sendiri, mereka seolah-olah hanyalah sekumpulan anak yang menjadi sampah masyarakat.



Satu golongan anak lagi yang cukup memperihatinkan kondisinya di negara ini dan menjadi pokok pembicaraan adalah nasib para anak-anak penyandang autisme. Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal (wikipedia). Banyak kasus kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi terhadap anak-anak autis mulai dari pasungan, dikerangkeng, sampai diasingkan. Dan ironisnya para pelakunya adalah orang tua maupun keluarga mereka sendiri. Satu kasus yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan adalah kasus yang dialami Siti Halimah bocah penyandang autisme asal Sukabumi yang dikerangkeng orang tuanya di belakang rumah di tempat yang menurut saya sangat amat tidak layak.

Kejadian-kejadian seperti itu yang membuat hati saya berubah menjadi sendu walaupun mereka memiliki sedikit perbedaan dengan anak-anak normal lainnya tapi mereka tetap manusia kan? Bagaimana bisa mereka diperlakukan seperti *maaf* hewan?
Apalagi mereka anak-anaknya sendiri, keluarga mereka sendiri, darah daging mereka sendiri, dimanakah perasaan dan hati nurani mereka?
Salah satu alasan dan yang paling disalahkan dalam pembenaran kasus ketidakadilan dan kekerasan pada anak-anak autisme adalah kondisi ekonomi yang lemah.
Oke, uang memang segalanya tapi kondisi itu bisa dirubah kan? toh sebagai orang tua bukankah tugas dan tanggungan mereka untuk mencari uang dan memberikan penghidupan yang layak bagi anak-anak mereka sampai anak-anak mereka telah berdikari untuk mencari uang sendiri?

Alasan lain adalah mereka takut anak (penyandang autis) mereka mengamuk dan melukai diri mereka sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Memang benar, bahwa anak-anak autis terkadang bersifat agresif dan destruktif namun semua itu tergantung bagaimana kondisi lingkungan mereka. Jika kondisi lingkungan itu mendukung dan nyaman bagi mereka, mereka pun tidak akan bertindak seperti itu. Sebaliknya bukan tidak mungkin hal yang tidak diinginkan terjadi apabila kondisi lingkungan mereka tidak nyaman sama sekali. Tidak akan ada api bila tidak ada yang menyulutnya bukan?

Satu alasan lagi dan merupakan alasan paling tidak masuk akal adalah mereka MALU dengan kondisi anak mereka. Apa? Apa tidak salah? Kenapa musti MALU? Mereka anak sendiri kan? Apanya yang membuat malu? Ternyata, kebanyakan rasa malu ini berasal dari asumsi dan tanggapan negatif masyarakat/orang lain terhadap anak-anak mereka. Ada yang menghina, menjelek-jelekkan sampai mengisolasi mereka. Astaga. Sepertinya tingkat pendidikan dan kebijaksanaan masyarakat kita memang masih rendah.

Jadi mohon didengarkan ya para orang tua yang memiliki anak-anak penyandang autis serta para masyarakat yang di lingkungannya terdapat anak-anak penyandang autis, autis bukanlah penyakit menular dan penyakit berbahaya jadi tidak ada alasan mendiskriminasi dan menjauhi mereka. Sekarang jaman telah maju banyak terapi yang menawarkan kesembuhan autis yang dapat kita temui di Indonesia seperti terapi lumba-lumba, terapi menunggang kuda. Oh ya satu lagi sekarang banyak lembaga-lembaga di Indonesia yang siap membantu para orangtua dengan anak penyandang autisme, so alasan ekonomi bukan lagi alasan.
So, mari kita isi Peringatan Hari Anak Nasional dengan menghentikan kekerasan dan ketidakadilan terhadap anak-anak autis. Dan apabila saya masih melihat kasus-kasus kekerasan dan ketidakadilan terhadap anak-anak autis baik dari orang tua dan masyarakat mereka, saya hanya bisa mengelus dada dan berpikir singkat.
"Sebenarnya siapa yang autis dia atau ANDA?"

Autism Awareness dan Salam Kupu-Kupu. ^^

Sumber gambar: http://www.babble.com/CS/blogs/strollerderby/archive/2009/03/27/autism-and-links-to-violence-a-true-story.aspx

No comments:

Post a Comment