Sunday, July 3, 2011

Itenerary Kurang Matang=Terlunta-Lunta di Solo!



Hanya ingin bertanya kepada para traveler.
Pernah tidak mengalami saat kita sudah menyusun itenerary dengan matang, merancang sedemikian rupa hingga pede saja saat berangkat ke suatu tempat tujuan namun setelah sampai itenerary kita berasa salah total karena kita kurang memahami hal-hal mendetail di tempat tersebut?
Well, saya rasa jika ngakunya traveler sejati pasti pernah dong mengalami hal seperti ini? #cariteman :p
Sumpah kalau sudah begini cuma bisa mengelus dada, sambil menangis ala telenovela karena biaya yang kita keluarkan jadi membengkak atau terpaksa mencoret beberapa destinasi wisata yang ingin kita kunjungi dari rencana kunjungan kita. huhuh.
Ah, tapi justru hal-hal seperti ini sih bagi saya pribadi ambil sisi positifnya saja. Jadikan pelajaran bagi kita dalam membuat rencana perjalanan selanjutnya, harapannya sih kedepan tidak terjadi hal ini lagi (amin) dan menimbulkan kesadaran pribadi kalau rencana perjalanan apalagi bagi budget traveler harus dibuat dan diperhatikan sedetail-detailnya. Betul? :p



Salah satu pengalaman dalam kekurangmatangan mempersiapkan itenerary adalah pengalaman jalan-jalan saya bersama sahabat saya Olin di Kota Solo Provinsi Jawa Tengah pada 1 Juni 2011 yang lalu. Dengan mengedepankan prinsip "backpackeran", segala hal menyangkut biaya terasa sensitif sehingga kami harus menyiapkan rencana perjalanan sebaik-baiknya, mulai mau berangkat naik apa, tempat wisata apa saja, bagaimana cara kesana, bla bla bla....pokoknya kami yang notabenenya buta arah Kota Solo pun sudah merasa puas dengan itenerary yang kami buat. Apalagi sudah dibekali informasi-informasi tambahan yang kami dapat dari internet, teman, dan kerabat...makin pedelah kami menjelajah Kota Solo dengan itenerary tersebut.
Namun tetap saja, baik belum tentu memiliki kelemahan. Begitu pula dengan itenerary kami.
Rencana perjalanan yang telah kami susun dijadwalkan turun di Kerten untuk naik Batik Solo Trans, turun di halte Best Western, jalan kaki ke Keraton Surakarta, wisata kuliner di Pasar Gede, kemudian baru mengunjungi Museum Batik Danarhadi, Museum Ranggawarsito, dan Taman Sriwedari lalu kembali ke Kerten untuk naik bus menuju Salatiga. Sayangnya, kami kurang memperhatikan hal-hal kecil yang ternyata dampaknya luar biasa selama penjelajahan satu hari kami di Solo. Terlunta-lunta nasibnya, kaki pegel, dan uang makin tekor >.<

Kekurangperhatian kami yang pertama adalah pada saat menunggu Batik Solo Trans. Ya kami tidak tahu pasti waktu beroperasinya sarana transportasi baru di Kota Solo ini, kapan si BST akan sampai di Halte BST Kerten, rute mana saja yang ditempuh, dsb. Yang kami tahu cuma naik BST dari Halte Kerten kemudian turun di Halte Best Western atas rekomendasi salah seorang teman.
Saya ingat pada saat itu kami sampai di Halte BST Kerten pukul 09.00 WIB, bingung juga dengan kondisi halte bercat merah tersebut karena tidak ada petugas yang berjaga di halte tersebut. Lah ini kami tahu BST itu yang mana dan kapan BST tiba di Halte BST Kerten darimana coba?
Untunglah ada Bapak Petugas dari Dishub yang sedang berjaga di sekitar halte sehingga kami bisa bertanya kepada beliau dan menurutnya BST akan tiba sebentar lagi dan memang benar akan turun di Halte Best Western. Kamipun sepakat menunggu di dalam halte sambil menikmati suasana Solo di pagi hari, yang kemudian dengan bodohnya saya baru sadar ada countertime di halte tersebut yang menunjukkan kapan BST selanjutnya akan tiba. Pada saat itu sih countertime menujuk angka 09.12 kalau tidak salah, saya lupa, tapi sekitar itulah heheh. Pikir saya sih ah sebentar lagi....hingga setengah jam lebih berlalu dan si BST tidak segera menampakkan batang hidungnya. Weh? Katanya 12 menit lagi? Hello...ini sudah setengah jam lebih berlalu kaliiiiiiii...please jangan bilang countertimenya rusak. Did anyone know what happen with the countertime? >.<

Lama menunggu hingga akhirnya si BST datang juga. Oalah ini to yang namanya BST, mirip sih sama Bus Transjogja cuma bedanya ada motif batik di body busnya. Interior dalamnya pun hampir mirip dengan Transjogja yang membedakan adalah letak mesin karcis BST yang ternyata ada di dalam bus bukannya di halte-halte seperti Transjogja. Heheh kesampaian juga naik Batik Solo Trans yang nyaman, dingin, dan tentunya murah karena hanya membayar Rp 3.000,00 untuk sekali jalan. Bus BSTpun melaju ke halte tujuan pertama kami yakni Keraton Surakarta. Kamipun sempat melihat sekilas Museum Batik Danarhadi, Museum Ranggawarsito, dan Taman Sriwedari yang ketiganya terletak di Jalan Slamet Riyadi dari dalam BST. Nyicil aman sudah tahu lokasi yang ingin kami kunjungi setelah Keraton Solo dan Pasar Gede begitu pikir kami saat itu.
Akan tetapi, sepertinya kami harus menabahkan diri kembali karena saat Petugas yang berada di dalam BST kami beritahu kalau kami minta diturunkan di Halte Best Western cuma menanggapi permintaan kami dengan bengong kemudian melihat ke arah jalanan. Lah? What's wrong nih?
Hingga akhirnya, si Petugas dengan lempengnya cuma bilang gini..."Wah Halte Best Western itu sebelah sana tadi...aduh coba bilang tadi turun Halte Keraton kan sama..maaf ya mas,mbak..."
Jeglerrrrrrr bagaikan petir menyambar kami di siang bolong. Kamipun mulai panik, bagaimana ini nasib kami, masa iya harus ikutan muter-muter keliling Solo kemudian naik BST lagi ke Halte Best Western/Keraton? Ahhh menyita waktu dong! Si Petugas pun menyarankan kami untuk turun di Halte Pemkot Solo saja kemudian jalan menuju Keraton. Okelah deal! Kami turun, jalan kaki, sembari meratapi nasib karena harus jalan dari Kantor Pemkot Solo ke Keraton. Jauh gilaaa. >.<

Kekurangperhatian kami selanjutnya mulai tersadar secara tidak sengaja pada saat kami selesai mengunjungi Keraton Surakarta dan makan siang serta berburu oleh-oleh di Pasar Gede.
Saat keluar dari Pasar Gede sembari bercakap-cakap mengenai tujuan selanjutnya itulah kamipun mulai tersadar dan mengutuki kenapa baru kepikiran hal ini sekarang bukan dari saat kami melewati Jalan Slamet Riyadi tadi. FYI, Jalan Slamet Riyadi itu jalan satu arah bung! Sedangkan posisi kami sudah melewati jauh jalan tersebut. Lah bagaimana cara kembali kesana coba kalau jalannya searah begitu? Untungnya di depan Pasar Gede ada pangkalan taksi, kamipun naik taksi untuk kembali ke Jalan Slamet Riyadi tempat ketiga tujuan wisata kami selanjutnya. Duh keluar uang ekstra nih. #ngekngok
Selesai mengunjungi Museum Batik Danarhadi dan Museum Ranggawarsito lagi-lagi muncullah problem lagi bagi kami. Problem itu tak lain dan tak bukan adalah apalagi kalau bukan bagaimana cara kami kembali ke Kerten dari Jalan Slamet Riyadi? Duh sumpah sepertinya kami memang sedang tidak akur dengan jalan searah. #cisss
Tanya ke beberapa orang mulai dari petugas museum, penjual bakso, masyarakat di Taman Sriwedaripun menyarankan hal yang sama. Jalan kaki ke arah belakang Taman Sriwedari kemudian naik angkot ke Kerten. Lah jalan kaki lagi? Kamipun angkat tangan. #capekdotcom
Berbekal rasa nekat dan memelas kamipun minta tolong kepada Bapak Tukang Becak untuk diantarkan kembali ke Kerten. Eh mungkin karena kasihan si Bapak Tukang Becak bersedia mengantarkan kami ke Kerten...yess...dikasih murah lagi sama si Bapak. Padahal nih, jarak Taman Sriwedari ke Kerten itu jauhhhhhh mampusssss! I love you full dah Pak!
Heheh. :))

Rencanakan dengan Matang Itenerary Anda dan Salam Kupu-Kupu! :)

Sumber Gambar: www.123rf.com

No comments:

Post a Comment